11 Kontroversi Gaming Terbesar di 2017


Add Friend

Tiap tahun dunia tak terlepas dari kontroversi, bahkan sesuatu seperti industri video game selalu diisi dengan kumpulan kontroversi di tiap tahunnya. Apabila tahun kemarin kontroversi banyak hadir dari kesalahan developer seperti janji palsu di No Man’s Sky dan detil berlebihan di Watch Dogs 2. Tahun ini industri game diisi dengan kontroversi yang dibuat oleh sang publisher dan EA menjadi juara pertama tahun ini.

Baiklah, tanpa panjang lebar lagi, mari kita ingat kembali kontroversi-kontroversi yang ada selama 12 bulan ini. Berikut adalah 11 kontroversi terbesar di tahun 2017.


1. Animasi wajah memalukan dari Mass Effect: Andromeda

Setelah 5 tahun pengembangan, Mass Effect: Andromeda dirilis pada 21 Maret 2017. Game telah ditunda beberapa kali agar dapat disempurnakan oleh Bioware Montreal, namun produk akhir yang didapatkan gamer terlihat masih jauh dari kata sempurna. Game seketika menjadi meme di internet dengan kumpulan animasi di game yang buruk, banyak glitch yang konyol, dialog yang buruk, serta wajah karakter utama yang begitu lucu untuk dilihat terus-menerus. Semua masalah ini adalah akibat dari proses pengembangan yang penuh masalah.

Mass Effect: Andromeda awalnya direncanakan akan miliki fitur procedurally generation ala No Man’s Sky karena Bioware Montreal ingin seri terbaru ini menjadi petualangan dalam skala yang luar biasa dan penuh replaybility untuk gamer. Setelah habiskan bertahun-tahun kembangkan fitur tersebut, mereka sadar jika hal tersebut masih mustahil untuk disempurnakan karena teknologi yang masih terbatas. Ide tersebut pada akhirnya dibuang dan mereka beralih ke direksi game yang baru. Kini dalam waktu yang telah dekat dengan deadline, mereka harus selesaikan game secepat mungkin dengan Frostbite Engine yang lebih teroptimasi untuk FPS dan bukan Open-world RPG layaknya Mass Effect.

Meski dengan uang dan tim developer yang besar, Bioware Montreal hanya mampu ciptakan Mass Effect: Andromeda yang sekarang karena waktu pengembangan yang sedikit. Dan apa yang didapatkan gamer sekarang adalah hasil dari waktu sedikit tersebut.


2. Take-Two mencoba matikan mod support Grand Theft Auto V PC

Apa artinya Grand Theft Auto di PC tanpa mod? Mod sudah menjadi tradisi di GTA PC, dan Take-Two mencoba untuk matikan tradisi tersebut pada bulan Juni lalu.

Open IV yang merupakan program penting untuk jalankan mod di GTA V mendadak tak bisa didownload dan tak bisa diakses gamer setelah developer mengumumkan jika mereka dapatkan peringatan DMCA langsung dari Take-Two. Developer Open IV mau tak mau harus menuruti permintaan Take-Two untuk mematikan akses mod.

Setelah berita disebarkan oleh media, gamer GTA V di Steam langsung banjiri halaman Steam dari game tersebut dengan review negatif. Rating Steam dari GTA V mendadak anjlok dari yang awalnya 90% keatas menjadi 40% kebawah dalam beberapa hari. Petisi kepada Take-Two untuk bebaskan Open IV juga langsung ramai ditandatangani gamer dalam hitungan hari.

Rockstar, developer dari game ini ungkapkan jika mereka mendukung  sepenuhnya keberadaan komunitas modding di game mereka dan segera akan atasi masalah ini bersama Take-Two. Beberapa minggu setelahnya, Open IV pun akhirnya bebas dengan satu syarat: Jangan sentuh multiplayer mereka sama sekali.

BACA JUGA  Game dengan Skor Review Tertinggi di Tiap Platform Gaming

3. Atlus blacklist massal streamer dan Youtuber agar spoiler Persona 5 tidak tersebar

Memang bikin sakit hati ketika game yang fokus story seperti Persona 5 dibocorkan bagian pentingnya secara luas di internet sebelum kamu memainkan game tersebut. Atlus mengerti hal tersebut dan melakukan sebisa mungkin agar spoiler tidak tersebar mulai dari mematikan fitur share di Playstation hingga melakukan copyright strike ke tiap streamer atau Youtuber yang gunakan footage dari game khususnya pada bagian-bagian akhir game.

Hal ini membuat streamer dibatasi dalam livestreaming game ini. Setiap streamer yang livestream bagian penting dari cerita di game akan langsung dapatkan copyright strike tanpa pandang bulu. Sistem ini justru dikritik panas oleh gamer di Internet, membuat Atlus matikan kedua sistem tersebut dan meminta maaf secara terbuka kepada gamer khususnya yang menjadi korban copyright strike.


4. Mod berbayar dihidupkan kembali oleh Bethesda via Creation Club

Masih ingat ketika Valve dan Bethesda mencoba membuat program mod berbayar untuk Skyrim beberapa tahun yang lalu? Rencana tersebut seketika dibatalkan dalam beberapa hari setelah menuai banyak kritikan panas dari komunitas Steam.

Pada E3 2017, Bethesda mencoba hidupkan kembali program tersebut dengan Creation Club. Program ini miliki sistem serupa layaknya mod berbayar, akan tetapi mod yang masuk lebih diseleksi lagi oleh Bethesda. Meskipun menuai banyak kritikan panas serupa seperti beberapa tahun yang lalu, Creation Club tetap direalisasi beberapa bulan selanjutnya.

Rating dari Fallout 4 dan Skyrim: Special Edition di Steam seketika jatuh menjadi mixed setelah terealisasinya program tersebut. Namun hingga saat ini, tak ada tanda-tanda program tersebut akan dimatikan oleh Bethesda. Yang ada malah program tersebut terus berlanjut dan berkembang hingga sekarang.


5. Tema tuhan di Fight of Gods

Apabila kamu ingin mencari marketting yang mudah di bisnis video game, kontroversi mungkin jadi cara paling mudah. Fight of Gods merupakan game early-access yang mengusung tema perkelahian antar tuhan. Dari deskripsi singkat ini saja tampaknya sudah jelas mengapa game ini menjadi kontroversial di beberapa negara seperti Singapura, Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Malaysia sempat blokir Steam selama satu malam akibat keberadaan game ini. Hal tersebut terjadi karena Valve terlambat memberikan respon akan permintaan pemerintah sana untuk segera blokir game tersebut di Malaysia. Kebesokan harinya, game telah diblokir di beberapa negara karena konten sensitif yang dimuat game.


6. Loot Box di game single-player

Semua gamer tak punya waktu banyak untuk bermain game lama-lama. Beberapa orang punya pekerjaan penting untuk diselesaikan, membuat mereka tak bisa selalu habiskan satu malam tanpa tidur bermain game layaknya gamer lain. Hal ini dieksploitasi oleh beberapa publisher untuk bawa microtransaction kedalam game single-player AAA yang harus dibeli $60 untuk dimainkan.

Game seperti Shadow of War, Forza 7, Assassins’ Creed Origins miliki loot box masing-masing yang diciptakan dengan maksud “menghemat waktu gamer”. Shadow of War bahkan miliki end-game yang memerlukan banyak grinding untuk diselesaikan, membuat loot-box yang ada di game semakin menggoda untuk mereka yang ingin jalan pintas. Keberadaan loot box di game single-player ini undang kontroversi besar di industri game, membuat website OpenCritic secara halus menolak keberadaan dari loot box ini. Namun setidaknya loot-box yang dimiliki game-game diatas tak separah kontroversi selanjutnya ini.

BACA JUGA  Sutradara Anthem Goda Fans akan Informasi Lanjutan Gamenya Sebelum E3 2018

7. Loot box pay-to-win Star Wars Battlefront II

Star Wars Battlefront II dijanjikan EA takkan miliki season pass dan DLC apapun, sebuah keajaiban yang membuat gamer bertanya “Apakah EA sudah insyaf sekarang?” Akan tetapi harapan tersebut hilang seketika disaat Open Beta dirilis kepada gamer. Game ternyata miliki microtransaction via loot box sebagai pengganti season pass dan DLC tersebut. Namun berbeda dengan loot box seperti pada game lainnya seperti Overwatch yang sifatnya kosmetik dan opsional. Loot box yang disuntikkan ke Star Wars Battlefront II menjadi jalan pintas untuk dapatkan semua konten di game.

Pemain bisa habiskan ribuan jam untuk dapatkan semua konten yang ditawarkan game atau membayar $2000 lebih untuk loot box. Loot box juga dapat memberikan efek bonus tertentu, membawa kesan pay-to-win di pandangan banyak gamer. Setelah diprotes besar-besaran oleh gamer, EA memutuskan untuk mematikan sementara microtransaction di game. Namun tentu saja hal tersebut tak cukup. Gamer mau microtransaction ini benar-benar musnah dari game, hingga muncul banyak petisi kepada pemerintah untuk buat hukum tersendiri akan keberadaan loot box ini.


8. PUBG vs Fornite Battle Royale

PlayerUnknown’s Battlegrounds telah menjadi game terpopuler tahun ini dengan 3 juta pemain tetap disaat artikel ini ditulis. Tak butuh waktu lama untuk munculnya game yang copycat yang memamfaatkan hype besar dari battle royale ini. Fortnite Battle Royale dari Epic Games menjadi salah satu yang pertama menjadi game copycat tersebut. Fortnite Battle Royale tawarkan gameplay yang serupa dengan PUBG akan tetapi dengan visual kartun serta mekanik crafting/building. Hal ini menarik perhatian Bluehole khususnya sang kreator game yaitu Brendan ‘PlayerUnknown’ Greene. Singkatnya adalah Bluehole merasa Fortnite BR meniru genre battle royale yang diusung PUBG dan akan mengambil aksi lebih lanjut akan hal tersebut.

Ironisnya adalah battle royale telah ada sejak H1Z1 dan mod Arma 2 yang keduanya dibuat oleh PlayerUnknown, maka genre ini tidaklah lagi bisa dibilang “unik”. Dan juga engine yang dipakai untuk PUBG adalah Unreal Engine 4, engine yang dibuat oleh Epic Games. Kontroversi ini pada akhirnya menjadi free publicity untuk pihak Epic Games melihat Fortnite kini jauh lebih populer dari sebelumnya setelah keberadaan mode Battle Royale ini


9. Marketing Wolfenstein II: The New Collosus dengan Unsur Politik berlebihan

Melawan Nazi telah menjadi DNA dari Wolfenstein dari generasi ke generasi. Di zaman modern dimana orang semakin sensitif dengan perbicangan politik, mungkin membawa unsur tersebut sebagai selling point untuk game terbaru Anda bukanlah ide yang bagus. Dari awal diperkenalkan di E3, Bethesda dan Machine Games terus perlihatkan aspek politik dari game ini dengan memperlihatkan betapa kelamnya dunia jika dikuasai oleh Nazi. Tak ada yang salah dengan hal tersebut, namun untuk game yang dulunya tak terlalu dibawa serius pada urusan politik, sekuel ini terkesan berlebihan sekarang pada aspek tersebut. Semakin dekat dengan tanggal rilis, pemasaran dari game ini makin bersifat politikal hingga mencapai titik dimana Twitter resmi game menuliskan “Make American Nazi-Free Again” yang menjadi parodi dari ungkapan Donald Trump saat kampanye. Unsur politik yang berlebihan membuat game dipandang sebagai Sosial Justice Warrior (SJW) propoganda dan bentuk protes kepada Trump sebagai presiden. Sisi baiknya, Wolfenstein II: The New Collusus menjadi salah satu game action terbaik tahun ini.


10. Insiden Keceplosan Pewdiepie

PewDiePie bukanlah nama yang asing lagi untuk kalian yang sering akses Youtube. Channel yang miliki 58 juta subscriber ini telah membuat banyak kontroversi karena lelucon yang bersifat offensive untuk beberapa golongan. Lelucon berlebihannya ini bahkan membuatnya dilepas dari Maker Studio milik Disney dan Season 2 dari “Scare Pewdiepie” harus dibatalkan oleh Youtube. Meski dengan 2 konsekuensi besar tersebut, Pewdiepie kembali membuat kontroversi tahun ini dengan keceplosan N-word saat livestreaming PlayerUnknown’s Battlegrounds.

BACA JUGA  EA Sports Umumkan Nominasi FIFA Team of The Year 2017 untuk FIFA 18

Meskipun keceplosan dan tak ada maksud sengaja, developer dari Firewatch langsung luncurkan copyright strike ke channel pria Swedia tersebut pada semua video let’s play Firewatch yang diunggah channel tersebut. Sean Vanamman, co-founder dari Santa Monica memandang PewDiePie sebagai orang yang rasis setelah insiden tersebut dan merasa terhina melihat sosok sepertinya mendapatkan uang dari memainkan game yang dia buat susah payah. Sean juga menagajak developer-developer lain untuk melakukan hal serupa, membuat channel PewDiePie terancam dihapus apabila usaha dari Sean ini memang berhasil. Pada akhirnya copyright strike dari Sean diterima oleh Youtube dan semua video Firewatch yang diunggah PewDiePie telah dihapus. Sisi baiknya adalah channel PewDiePie kini masih aman, namun dia kini harus lebih berhati-hati lagi pada konten yang dia buat untuk hindari hal seperti ini terjadi lagi.


11. EA Matikan Visceral Games

Yang satu ini lebih seperti tragedi ketimbang kontroversi. Visceral Games merupakan studio dibalik seri Dead Space, Dante’s Inferno dan bahkan Nascar Rumble. Meskipun dua game terakhir yang dirilis studio ini tergolong tak begitu bagus, Visceral Games miliki reputasi yang masih baik di mata gamer. Mendengar mereka sedang kerjakan game single-player Star Wars menjadi berita baik untuk para gamer melihat keahlian mereka dalam membuat game single-player serta penulis dari seri Uncharted – Amy Hennig terlibat dalam proyek tersebut. Namun sayangnya proyek tersebut kini hanya jadi terbuang saja dengan EA mematikan studio ini dengan alasan “gamer tak senang lagi game single-player”.

Game Star Wars yang dikerjakan oleh Visceral ini juga akan diubah habis-habisan nantinya oleh studio baru agar disesuaikan dengan “apa yang gamer mau” menurut EA. Proyek tersebut tak lagi usung konsep linear seperti sebelumnya dan kemungkinan akan menjadi game fokus multiplayer layaknya Battlefront. Matinya Visceral Games ini memunculkan tanda tanya besar “apakah benar gamer tak senang game single-player lagi?” Dengan Wolfenstein II: The New Collosus, The Legend of Zelda: Breath of the Wild, Nier Automata dan game-game lainnya lebih diterima positif oleh gamer serta terjual dengan baik, tampaknya opini EA jauh dari kata benar.

BACA JUGA

Lainnya dari kategori: G | LIST