5 Kasus Drama Esport Indonesia Sepanjang Tahun 2018


1. Perbedaan Rules Pada MSC 2018 Aerowolf VS Air Asia Saiyan

Kasus yang sempat menggemparkan jagat Esport Asia Tenggara ini memang menyita banyak perhatian gamer terutama dari fans Negeri Malaysia. Kasus ini bermula pada akhir hari ke-2 pada Tournament MSC 2018 yang diadakan oleh Revival TV dimana tim Aerowolf dan Air Asian bertengger di satu group yang sama dengan perolehan skor yang juga sama. Permasalahan timbul setelah statement panitia MSC yang menyatakan lolosnya Air Asian Saiyan karena mengacu pada rulebooks yang mereka pegang, dimana mengutamakan perhitungan kill-death agregate terlebih dahulu.

Hal yang mengejutkan datang dari Pihak Aerowolf yang dimana mereka menyanggah statement tersebut, karena jika mengacu pada Rulebooks yang “Aerowolf terima” slot lolos ada di tangan Aerowolf. Perbedaan ini nampaknya menunjukan sebuah blunder yang cukup fatal yang dilakukan oleh panitia MSC. Akhirnya dengan dibantu pihak developer Moonton akhirnya panitia mengambil keputusan yang mereka rasa “adil” untuk melakukan rematch antara Aerowolf dengan Air Asian Saiyan.

Kecewa atas keputusan panitia MSC 2018, Air Asian Sayian melalui akun Facebook resminya akhirnya memberikan statement resmi mereka dan memutuskan untuk angkat kaki dari ajang MSC 2018 dengan berat hati. Tak berhenti sampai disitu Air Asian Saiyan juga berencana untuk memperkarakan kejadian ini ke ranah hukum.

We would like to release a statement regarding the incident at MSC 2018.First of all, RevivaLTV (the event organizer)…

Posted by Aerowolf Pro Team on Monday, 13 August 2018

Pihak Aerowolf sendiri juga berdalih bahwa mereka hanya mengikuti isi dari apa yang tertuang dalam Rulebook yang mereka tahu. Meski begitu kerusakan nampaknya sudah terlanjut terjadi, amarah membabi buta dari fans esport Malaysia langsung ditunjukan kepada tim Aerowolf dan juga Revival TV.


2. Saling Gasak Player AOV, Kala Tournament

Poaching sendiri adalah usaha pendekatan/hasutan kepada seorang player, oleh player lain, owner atau management yang memiliki maksud perekrutan. Namun poaching sendiri baru akan disebut poaching apabila player yang dihasut itu sendiri masih berada dibawah kontrak tim lain atau terdaftar dalam Global Contract Database.

Kasus Poaching ini sendiri ternyata pernah terjadi di perhelatan Esport Indonesia, lebih tepatnya pada tanggal 22 September lalu saat ASL Season 2 melibatkan dua Tim besar di cabang game AOV yaitu GGWP.ID dan EVOS Esport. Hal ini bermula saat adanya indikasi usaha perekrutan salah satu junggle milik GGWP.ID bernama Ilham Bahrul oleh salah satu tim AOV bernama EVOS Esport.

 

Pihak management dari GGWP.ID lantas melaporkan hal ini kepada pihak Garena. Setelah dilakukan investigasi dan pengumpulan bukti-bukti akhirnya EVOS terbukti bersalah oleh pihak Garena dan dijatuhi hukuman verbal. Garena juga mengamandemen guna mempertegas peraturan mengenai Poaching, karena jika ada tim yang kembali terbukti melakukan pelanggaran ini, maka denda 100 Juta sudah menanti.


3. Drama Terkenal Cakar-cakaran Mobile Legend