7 Alasan Kenapa Ragnarok M Eternal Love Kurang Layak ada di Smartphonemu


Disclaimer: Artikel ini khususnya ditujukan bagi player hardcore yang butuh kebebasan main game MMORPG.

Jika ditanya franchise game online yang paling sering “diperah”, tentu kamu setuju bahwa Ragnarok Online merupakan salah satunya. Game yang dibuat berdasarkan komik Lee Myoung Jin tersebut seolah menjadi tolak ukur game MMORPG Korea hingga saat ini. Setelah kehilangan popularitasnya di Indonesia berkat bisnis LYTO yang kurang disukai kebanyakan player, game tersebut kemudian dipindahkan ke Gravindo, “anak perusahaan” LYTO sendiri yang sayangnya tetap buat gamenya kurang populer.


Beruntungnya, “player lawas” akhirnya kembali bernostalgia setelah kehadiran Ragnarok M Eternal Love dengan grafis 3D yang ditujukan untuk Android dan iOS. Game buatan X.D. Global ini awalnya dirilis di China dan Taiwan berkat lisensi resmi dari Gravity, pemilik franchise Ragnarok Online. Ia kemudian dirilis di Asia Tenggara di bawah naungan Gravity Interactive.

Saat pertamakali mencobanya di versi China, game ini terkesan memang bawakan “rasa baru” yang pernah ada di versi klasik PC-nya (saya ngga akan bandingin dengan Ragnarok Online 2 yang bagi saya menjadi salah satu game gagal buatan Gravity). Semua elemennya nyaris tak pernah absen. Membuat saya bertanya-tanya, bagaimana mereka mendapatkan keuntungan dari game bagus tersebut. Namun sepertinya saya kembali harus kecewa setelah ia dirilis di Asia Tenggara dengan bahasa yang bisa saya mengerti. Membuat saya tak bisa merekomendasikan gamenya bagi kamu yang hardcore dan menginginkan kebebasan saat memainkannya. Berikut saya jelaskan alasannya.

7. Auto Play Buat Gameplay Ngga Otentik

Autoplay memang telah jadi dasar fitur game MMORPG mobile, namun ketika diaplikasikan ke Ragnarok jadi tidak otentik.

Seolah ngikutin game MMORPG Korea Selatan dan game mobile kebanyakan, auto-play juga diimplementasikan di game ini. Sayangnya, ngga cuman auto-run saat quest, X.D. juga sematkan bot resmi yang mungkinkanmu hunting secara otomatis.

Di satu sisi, fitur ini memang memudahkanmu agar bisa memainkan gamenya sembari lakukan kegiatan lain karena karakteristik game mobile yang memang seperti itu. Namun di sisi lain, ia justru hilangkan keotentikan game aslinya yang terkenal dengan gameplay point-to-click yang seru.

6. Stamina System Bikin Hunting Ngga Seru

Kalo kamu ga main 2-3 hari maka staminamu akan maksimal jadi 900. Ga bakal nambah lagi.

Sama seperti game mobile pada umumnya, rupanya Ragnarok M Eternal Love ini berlakukan stamina system. Sistem ini membatasimu saat hunting/grinding monster tiap harinya. Jika staminamu mulai habis, maka drop dan expmu akan berkurang. Bahkan, kamu tak dapatkan exp sama sekali jika staminamu sudah pada batasnya. Kamu akan diberi 300 stamina setiap harinya dan akan ter-reset setiap jam 5 pagi WIB.

Jika kamu tidak memainkan gamenya, maka stamina akan tertumpuk hingga maksimal 900 stamina. Lebih dari itu, kamu ngga bakal dapat stamina lebih. Ironisnya, ngga ada kalkulasi berapa stamina yang kamu butuhkan saat bunuh 1 monster atau beberapa monster, kamu harus ngitung sendiri. Kamu bisa cek staminanya dengan mengakses menu more>settings dan lihat “combat time”.

Memang, keterbatasan stamina bisa diatasi dengan party dan tidak memainkan gamenya selama beberapa hari. Namun sistem tersebut bikin hunting jadi ngga seru, setelah mungkin kamu tinggal “auto attack” selama berjam-jam dan ngga naik 1 level-pun kemudian menyadari bahwa staminamu habis.

5. Grinding Terasa “Percuma” Karena Quest Based

Board Mission jadi salah satu faktor yang membuat grindingmu berasa “percuma”.

Ngga kayak game Ragnarok Online klasik, exp Ragnarok M Eternal Love saat hunting/grinding super seret. Kalo kamu pingin naik level cepet, maka satu-satunya cara adalah mainin quest. Baik main quest, daily quest, optional quest, hingga board quest. Buatmu yang ngga punya waktu berasa sia-sia untuk implementasikan cara lamamu saat memainkan gamenya di PC.

Ya, semuanya memang bisa teratasi dengan party, tapi ngga melulu player khususnya player hardcore selamanya punya temen party yang baik bukan? Terlebih kebanyakan player yang ditemukan jalanin “auto” saat hunting, buatmu yang nunggu “lamaran” partymu dengan player lain tertunda cukup lama. Beragamnya tipe player yang ada, secara ngga langsung buat game ini seolah ngga friendly buat semua tipe gamer.

4. Quest yang Jadi Pemasukan EXP Utama Terbatas