8 Realita Pahit yang Kita Harus Terima dari Modern Gaming Saat Ini

changemymind

Industri video game telah ada selama puluhan tahun. Berbagai inovasi telah diperkenalkan, berbagai trend telah kita lewati, dan berbagai perkembangan teknologi telah diimplementasikan untuk kualitas video game yang lebih baik dan kompleks. Di era modern saat ini, video game tidak lagi sekedar dianggap sebagai permainan untuk bocah. Video game telah berkembang menjadi media interaktif yang kompleks dan dapat dinikmati dan diakses oleh siapa saja. Beberapa bahkan layak dikategorikan sebagai seni meskipun banyak ahli tidak setuju akan hal tersebut.

Dibalik semua hal positif yang teknologi telah berikan kepada video game, selalu ada konsekuensi yang studio, publisher, dan gamer harus hadapi. Ada banyak hal yang begitu menyebalkan dari gaming modern saat ini, dan berikut adalah beberapa yang kita semua harus terima apa adanya. Sebagai catatat, kamu tidak diharuskan untuk setuju dengan seluruh poin dibawah ini. Ini hanya opini pribadi dari saya yang ingin saya bagikan kepada pembaca lainnya. Apabila kamu miliki pendapat tersendiri atau ada poin yang tidak kamu setujui, kirimkan lewat sesi komen di Facebook.


1. Monetisasi game akan selalu ada dan mungkin semakin parah kedepannya

Kamu mungkin sering melihat gambar diatas. Dan mau seberapa bosan dirimu akan melihat gambar tersebut, pada dasarnya apa yang disampaikan memang ada benarnya. Video game kini menjadi bisnis besar, dan perusahaan akan mencari cara apapun untuk menghasilkan untung sebesar mungkin dari apa yang mereka hasilkan. Pada era PS3/Xbox 360, gamer dihadapi dengan trend Season Pass dan DLC premium yang janjikan konten ekstra dari apa yang kamu dapatkan dari game utama. Istilah “unlockable”, konten rahasia, dan bahkan cheat code perlahan tapi pasti musnah dikarenakan sistem monetisasi ini. Tidak semua DLC itu buruk, beberapa tawarkan konten setara dengan game utama dari skala kuantitas maupun kualitas, tetapi mayoritas dari DLC hanyalah menjadi trik cepat untuk para publisher kantongi uang ekstra dari penjualan game dengan memanipulasi nafsu gamer sekarang akan konten game yang mereka senangi.

Di generasi PS4/Xbox One, sistem monetisasi baru hadir yaitu via microtransaction layaknya di game mobile maupun game free-to-play. Gamer telah beberapa kali keluarkan amarah mereka ketika game dari publisher besar perkenalkan microtranscation, tetapi hingga saat ini tidak ada tanda-tanda sistem monetisasi ini akan musnah dalam waktu dekat. Semua ini karena diluar sana ada yang terus membeli produk-produk microtransaction ini. Publisher juga pintar dalam memanipulasi nafsu para gamer agar ingin membeli item microtransaction ini lewat berbagai cara mau itu lewat grinding yang parah untuk dapatkan item tersebut secara cuma-Cuma, atau semacam showcase agar pemain lain bisa melihat dan tertarik ikut beli, dan masih banyak cara lain yang publisher saat ini gunakan untuk menggoda pemainnya keluarkan uang ekstra.

Trend monetisasi ini tidak akan musnah sama sekali hingga kedepannya khususnya dengan ekspektasi publisher sekarang yang amat terlalu tinggi di tiap game yang mereka rilis. Karena sistem ini terlalu menguntungkan dan kecil resiko bagi para publisher dan tidak perlu proses pembuatan yang lama layaknya ekspansion atau membuat game baru. Yang ada malah mungkin sistem monetisasi ini akan semakin diperparah pada generasi console selanjutnya. Entah dalam bentuk apa lagi dan siapa pelopornya nanti, yang pasti ialah monetisasi parah dari publisher raksasa akan terus berlanjut selama masih ada yang membelinya.


2. Indie lebih dominan berinovasi ketimbang studio besar

Membuat game skala AAA tak hanya membutuhkan waktu yang lama tetapi juga biaya yang besar. Maka dari itu, banyak studio AAA saat ini tidak terlalu ingin mengambil resiko untuk mencoba fitur atau mekanik baru dan lebih memlih yang memang sudah terbukti sukses di pasaran. Maka dari itulah, mayoritas game AAA saat ini pada dasarnya hanyalah versi cantik dari yang pernah kamu mainkan atau perpaduan dari berbagai game yang sempat sukses di pasaran.

Sebagai contoh, Horizon Zero Dawn hanyalah perpaduan dari Far Cry dicampur dengan Tomb Raider dan Zelda, atau Spiderman PS4 yang pada dasarnya hanyalah Batman Arkham tetapi dengan Spiderman, dan lain-lain. Tak ada maksud mengatakan game-game tersebut buruk, bahkan saya menyenangi game-game tersebut dari awal sampai selesai, tetapi ini membuktikan apabila studio AAA sekarang terlalu bermain aman akan apa yang mereka ingin kembangkan.

Para developer indie menjadi scene di industi gaming saat ini yang memang berani tawarkan inovasi mereka. Hal ini karena mereka tidak dihadapi dengan resiko bangkrut ratusan juta dolar apabila game gagal serta mereka harus tawarkan sesuatu yang unik yang dapat membedakan game mereka melawan oversaturasi game saat ini.

Game seperti Undertale, No Man’s Sky, Cuphead dan bahkan Minecraft menjadi sesukses sekarang karena game-game tersebut berbeda dan unik dari apa yang pernah dimainkan para gamer. Belum ada sebelumnya game RPG dimana semua musuh bisa dibiarkan hidup, belum ada sebelumnya game dimana kamu bisa kunjungi 7 quantilion planet, belum ada sebelumnya game dengan visual kartun klasik yang sangat autentik, dan belum ada game yang dimana kamu bisa membangun apapun bermodalkan blok-blok semata. Studio indie miliki lebih banyak kebebasan akan apa yang mereka ingin ekspresikan. Tak ada si bos yang mengatur-ngatur mereka untuk membuat game sesuai trend, tak ada investor yang ngamuk akan saham, dan tidak ada konflik perbedaan ide karena game dikerjakan oleh ratusan staff.

Saya tetap menyukai bermain game AAA untuk kompleksitas teknologi, presentasi, dan production value yang mereka miliki. Tetapi saya tak terlalu berekspektasi akan adanya inovasi besar datang dari kelompok ini. Apabila ada inovasi dihadirkan oleh mereka maka harus diapresiasi, tetapi ketika tidak, bisa dimengerti mengapa.


3. PC takkan pernah dapatkan eksklusif kelas AAA lagi

Para pengguna PC terus menyombongkan platform mereka sebagai ‘master race’ karena hardware mereka yang lebih baik, performa game yang lebih mulus, visual lebih detil dan masih banyak lagi. Tetapi diluar dari kelebihan teknis tersebut, apa game yang benar-benar memamfaatkan hardware luar biasa tersebut yang di console tidak ada? Hampir tidak ada sama sekali.

PS4 miliki God of War, Spiderman, The Last of Us. Xbox One miliki Halo, dan Nintendo miliki Mario, Zelda, Smash Bros, dll. Apa eksklusif yang dimiliki PC? PUBG baru saja dirilis di PS4, Divinity Original Sin juga dirilis di console, Star Citizen direncanakan rilis di console. Eksklusif yang dimiliki PC ialah game-game free-to-play, game strategi, dan game-game indie shovelware di Steam. Ketiganya tidak membutuhkan PC super mewah untuk dapat dimainkan dan tidak miliki estatika maupun production value sekelas game eksklusif console.

Eksklusif PC telah mati sejak PS3 dan X360 dirilis. Mayoritas game yang dirilis di PC pasti dirilis di platform lain atau hanya menunggu waktu untuk merantau ke console atau handheld terbaru. Alasannya paling mainstream ialah karena pembajakan, tetapi ada faktor lain yang benar-benar pengaruhi hilangnya ketertarikan developer untuk buat game mereka eksklusif untuk PC.

Alasan pertama ialah membuat game PC butuh waktu cukup lama untuk optimisasi. Berbeda dengan console yang miliki 1 spesifikasi hardware yang telah ditentukan, PC miliki ribuan kombinasi. Membuat game atau bahkan sekedar port untuk PC yang benar-benar optimized untuk seluruh macam konfigurasi tersebut memakan waktu dan biaya, belum lagi dengan opsi-opsi khusus seperti ultrawide resolution, 60 FPS,  konfigurasi mouse dan keyboard, dan lain-lain

Setelah proses yang ribet tersebut, penjualan game tergolong terlalu 50:50. Terkadang lebih sukses dari versi console, terkadang sedikit. Makanya banyak developer yang sungkan untuk merilis game eksklusif PC dan bahkan jika mereka awalnya merilis game di PC, pasti dalam beberapa waktu kedepan dirilis ke console juga karena mereka tahu penjualan yang dihasilkan dari PC pada awal-awal rilis terlalu pas-pasan.

Alasan kedua adalah tidak ada yang ingin mendanai. Developer game eksklusif mendapatkan persetujuan untuk membuat game mereka eksklusif untuk console tersebut. Bahkan game multiplatform tak jarang  membuat gamenya timed-exclusive karena persetujuan dengan manufacturer console. Sony miliki Naughty Dog, Santa Monica, dan lain-lain untuk membuat game khusus untuk hardware terbaru mereka. Microsoft dan Nintendo juga miliki deretan developer tersendiri yang ditugaskan untuk hal serupa. Sedangkan PC tidak dimiliki siapa-siapa. Bahkan Valve yang mendominasi market dari PC gaming saat ini tidak dapat disebut sebagai pemilik dari platform PC. Tidak ada yang menawarkan developer untuk membuat game mereka khusus untuk PC membuat platform master race ini mustahil untuk dapatkan game eksklusif kelas AAA.

Untuk urusan jangka panjang, PC memang miliki potensi besar khususnya untuk game dengan konsep games as live service seperti Rainbow Six: Siege, CS:GO, Overwatch, dan lain-lain. Tetapi tak semua developer punya waktu untuk terus perbarui game mereka dan tidak semua game dapat menjaga relevansinya dalam waktu lama.


4. “Nanti dibenerin lewat patch”

Keberadaan post-launch patch menjadi sebuah keberkatan dan kutukan di waktu yang sama. Di satu sisi, game akan terus dapatkan konten dan perbaikan bug karena developer selalu bisa luncurkan patch setelah game rilis. Disisi lain, keberadaan patch justru menjadi alasan bagi banyak game dirilis dengan status buggy dan tergolong unfinished.

Ketika sudah berada di tangan konsumen yang telah membayar untuk game tersebut, mereka berhak dapatkan pengalaman bermain yang 100% playable. Sayangnya banyak game saat ini hadir dengan masalah teknis maupun balancing yang membuat mereka harus menunggu beberapa hari hingga beberapa bulan agar masalah tersebut teratasi. Yang lebih buruk lagi adalah mengharuskan para modder beraksi untuk perbaiki game mereka sebagai contoh ialah port PC dari Nier Automata atau Dark Souls.

Game pastinya tidak akan sepenuhnya bebas dari bug maupun glitch. Tetapi memberikan pemain impresi yang bagus saat bermain game yang baru saja mereka beli tanpa harus mendownload deretan patch menjadi sesuatu yang mereka layak dapatkan setelah percaya akan uang yang mereka keluarkan akan memberikannya hiburan yang seperti diharapkan.


4. Game Sukses pasti punya komunitas toxic

Terkadang banyak orang yang mengatakan dirinya berhenti bermain game tertentu karena “komunitasnya toxic” atau “banyak bocah”, tetapi kenyataannya ialah tiap game pasti miliki komunitas yang toxic apabila memang ramai pemain. Semakin ramai sebuah game, maka semakin banyak orang toxic yang mengumpul. Orang banyak yang mengecap League of Legends, DOTA 2, Overwatch, dan CS:GO sebagai game paling toxic saat ini, tetapi itu dikarenakan game-game tersebut miliki fanbase yang memang sangat besar dan kebetulan saja kamu selalu ditemukan dengan orang yang toxic.

Developer tidak dapat melakukan apapun atas masalah komunitas toxic ini. Mereka hanya mendesain game yang kamu mainkan, urusan bagaimana sifat para pemainnya sudah diluar jangkauan mereka. Mereka membuat game atas dasar uang, dan dari yang mereka tahu pemain toxic juga merupakan pelanggan mereka yang harus dilayani selayaknya pelanggan lain. Usaha terbaik yang dapat developer berikan ialah memberlakukan sistem report, tetapi tentu saja tidak semua pemain yang kamu anggap toxic dapat terkena hukuman.

Singkatnya adalah apabila kamu tidak ingin berhadapan dengan pemain toxic di game online, pilihanmu ada dua: 1.) Bermain game single-player, 2.) Bermain game yang komunitasnya sangat kecil.


5. Mati perlahan couch gaming karena online

Multiplayer online itu menyenangkan. Kamu bisa selalu ketemu teman baru dan game yang kamu mainkan akan selalu berbeda-beda karena pemain yang ditemui tidak selalu sama. Tetapi sedikit menyedihkan melihat keberadaan online ini menjadi alasan utama couch coop atau local multiplayer perlahan musnah dari gaming modern saat ini. Terkadang ada saatnya kamu hanya ingin bermain bersama temanmu dan melakukan interaksi jarak dekat dengannya, sayangnya hal tersebut sudah jarang dapat dilakukan karena online tak hanya lebih fleksibel tetapi juga lebih menguntungkan publisher karena mereka dapat jual lebih banyak kopi dari game yang dirilis.

Kini mayoritas game yang miliki fitur ini terbatas pada game olahraga semata seperti FIFA atau PES. Dengan hardware console yang semakin kuat sekarang, mungkin kita dapatkan visual yang apik dan cantik. Tetapi sedikit ironis melihat teknologi tersebut semakin membuat kita bermain sendiri di rumah dan hanya berinteraksi lewat microphone semata untuk bermain bersama teman.


6. Open-world akan terus kuasai desain game sekarang dan kedepannya

Mulai dari pertama kali generasi PS4/ Xbox One dimulai, desain open-world mulai menjadi trend. Trend open-world bisa menjadi hal positif maupun negatif tergantung akan perspektif gamernya, namun secara pribadi saya sedikit khawatir akan betapa populernya penggunaan map besar ini. Franchise yang dulunya tidak open-world mendadak buat dunia game mereka sebesar mungkin karena ikut trend. Banyak yang berpendapat apabila semakin besar dunia game, maka semakin bagus game tersebut, tetapi itu semua tergantung pada eksekusinya. Banyak game open-world bagus berhasil menawarkan dunia yang detil dengan konten berlimpah yang memang menarik untuk ditelusuri, namun mayoritas dari game open-world sekarang hanya dibuat atas maksud untuk memperpanjang durasi game secara artifisial lengkap dengan side mission yang sekedar fetch quest yang diulang puluhan kali.

Apa kabar desain level tradisional? Tentunya masih akan diteruskan tetapi game dengan desain level yang tersusun rapi dan tidak super luas tampaknya perlahan mulai ditinggalkan karena mindset gamer saat ini yang terus berpikiran apabila semakin lama durasi game maka otomatis semakin baik game tersebut. Doom, Dishonored, Resident Evil 7, Hitman 2 menjadi game yang bagus salah satunya karena desain level yang memorable dan menarik untuk ditelusuri. Membuat level super detil dan unik di tiap area dengan skala open-world merupakan tugas yang hampir mustahil. Hanya Zelda: Breath of the Wild dan Red Dead Redemption 2 yang muncul di kepala saya ketika memikirkan hal tersebut. Sedangkan mayoritas dari game open-world sekarang hampir tidak ada yang benar-benar memorable. Apabila tanpa bantuan minimap, kamu takkan pernah selesaikan game tersebut karena mayoritas area terlihat mirip begitu-begitu saja terkecuali di point of interest tertentu.

Maksud utama saya dari poin ini ialah game open-world akan terus menjadi trend untuk masa-masa kedepannya. Gamer sekarang lebih mementingkan sandbox besar dan durasi lama ketimbang desain level brilian dan pengalaman bermain yang terus menempel di kepala.


7. Mobile game lebih soal adu marketing ketimbang adu kualitas

Mobile game awalnya miliki potensi besar untuk saingi console gaming. Ketika game seperti Infinity Blade dirilis, banyak gamer yang optimis apabila visual sekelas console bisa saja dicapai pada mobile gaming dan bisa saja smartphone bisa saja kedepannya menggeser console handheld yang ada saat itu seperti PS Vita maupun Nintendo 3DS. 8 tahun kemudian, potensi tersebut masih belum sepenuhnya tercapai dan bahkan mobile gaming kini miliki reputasi buruk di mata gamer console dan PC.

Masalah terbesar mobile gaming sekarang tentu saja ialah sistem monetisasinya. Mayoritas game yang dirilis di platform ini miliki microtransaction yang berdampak besar pada progress pemainnya alias pay-to-win. Tak hanya itu, game mobile sekarang tak lepas dengan yang namanya iklan yang tak senggan-senggan ditayangkan di tiap sesi bermain. Namun ini bukanlah hal yang ingin saya bicarakan dalam poin ini, yang lebih prihatin dari mobile gaming sekarang ialah popularitas game di Appstore maupun Playstore lebih tergantung pada “seberapa banyak uang yang kamu keluarkan untuk iklankan game” ketimbang kualitas dari game itu sendiri.

Ada banyak game yang memang bagus di smartphone, namun tertutupi oleh ribuan game lain yang dimana yang bagus masih bisa dihitung jari. Untuk mengatasi oversaturasi game ini, satu-satunya solusi agar gamemu ramai pemain ialah promosikannya seluas mungkin. Pada console gaming atau PC gaming, sebuah game bisa saja populer karena kualitasnya. Game seperti Undertale, Stardew Valley, Five Nights at Freddys, Minecraft bahkan PlayerUnknown’s Battlegrounds tidak miliki marketing super luas pada awal-awal rilis atau bahkan tidak dipromosikan sama sekali. Game-game ini hanya mengandalkan gameplay yang menarik dan unik yang kemudian viral di internet dan menjadi populer seperti sekarang ini. Skenario yang sama hampir tidak terjadi pada game mobile. Seluruh game mobile yang ada pada kategori populer diisi oleh game-game yang pasti kamu pernah lihat iklannya mau itu dari Youtube, social media, atau iklan yang kamu dapatkan saat bermain game lain.


8. Mobile gaming terlalu menggoda untuk diabaikan publisher raksasa

Setelah kontroversi besar yang dihasilkan dari Diablo Immortal, Blizzard tetap pastikan apabila seluruh franchise mereka akan hadir ke mobile nantinya. Melihat franchise klasik seperti ini menjadi cashgrab mobile tentunya menjadi hal yang mengecewakan bagi fans, tetapi apabila kamu berada di posisi mereka, kamu akan sulit untuk tidak tergoda dari profit yang dihasilkan dari platform mobile.

Game mobile tidak membutuhkan modal besar, game mobile tidak terlalu butuh mekanik super ambisius, dan game mobile dapat dimonetisasi sesadis mungkin dan orang masih akan membelinya. Profit besar dengan modal sedikit ini membuat wajar apabila banyak publisher besar ingin investasikan beberapa brand populer mereka ke platform ini.

Kamu sebagai penggemar dari franchise tersebut hanya dapat menerima fakta ini dan melupakan apabila game mobile tersebut pernah ada. Sisi baiknya adalah profit yang dihasilkan dari game mobile tersebut bisa saja dituangkan pada proyek besar yang kamu akan tertarik mainkan.


Exit mobile version