9 Controller Terburuk Yang Bikin Kamu Keki Ketika Bermain Game

in

Mudah saja bagi gamers untuk membahas dan mengkritik tetang kualitas sebuah game. Mulai dari gameplaynya, grafis, fitur, cerita, bahkan sampai ke hal-hal sepele seperti user interface, HUD dan lain-lain. Namun jarang sekali kita temukan di forum-forum “fanboys” berdebat tentang game kesukaannya dengan berargumentasi hardware mana yang paling baik.

Controller, sebagai penghubung antara pikiran kita, tubuh dan dunia game itu sendiri memegang peranan yang sering disepelekan banyak orang. Di thread ini kami sudah merangkum controller yang dinilai kualitasnya papan bawah. Agar kamu gak menyesal di kemudian harinya mending simak yuk 10 controller game terburuk yang pernah dipasarkan. Check it out brott!

1.  The Kinect

 


Saat pertama dipublikasikan banyak orang langsung berspekulasi bahwa the kinect akan menjadi produk gagal. Kesan yang diberikan di trailer pertamanya sih menampilkan 1 keluarga yang sedang bersenang-senang menikmati pengalaman gaming dengan controller the kinect.

Namun kenyataan berbicara lain, saat hari perilisan, the kinect terbukti mengalami banyak bug, crash dan gagal untuk mentransfer command ke cpu. Hal yang paling memalukan adalah error yang dialami the kinect ketika dimainkan oleh orang dengan warna kulit yang sedikit gelap.

Microsoft menanggulangi kegagalan ini dengan meluncurkan produk tandingan “cacked handed” xbox-one controller. Namun nasi sudah menjadi bubur, the kinect tetap menjadi salah satu produk gagal yang paling memalukan bagi microsoft.

2. Wii U Gamepad

Meskipun ide yang mendasari pengembangan controller ini dinilai unik, original dan revolusioner. Produk akhir yang ditawarkan nintendo dinilai kurang memuaskan. Banyak kritikus beranggapan bahwa nintendo terlalu terburu-buru dalam proses penggodokan controller ini.

Harus diakui lcd built-in yang terdapat dicontroller ini memang berfungsi tanpa celah, namun kualitasnya dianggap receh dan terkesan murahan. Wii U Gamepad dinilai terlalu berat dan besar sehingga cepat membuat letih orang yang memainkannya.

3. PSP Analog Nub Yang Original

Ketika memikirkan tentang analog nub keluaran sony nama besar dualshock pasti terbayang di benak kebanyakan para gamers. Namun, alih-alih memproduksi analog nub psp dengan presisi dan kenyamanaan, Analog nub psp terlalu pipih dan kaku sehingga sulit untuk dikendalikan. Mencoba bermain dengan analog nub psp seperti mengendalikan cd yang ditempelkan kepermukaan yang ditempeli oleh lem, sukar.

4. Wiimote & Nunchuk


Harus di akui controller yang satu ini merevolusi cara kita bermain game. Bagi kalangan non gamers (filthy casual) controller ini bagaikan trampolin, unik dan semua orang mau mencobanya. Akan tetapi, ketika kita mencoba memainkan game yang bukan termasuk golongan WiiSports controller ini terbilang payah. Gamers harus memegang 2 benda yang tidak simetris dan mengayun-ayunkannya dinilai sangat tidak praktis. Hello nintendo kita ini gamers bukan bruce lee. Nunchuk seriously?

5. Nintendo 64


Pecinta nintendo 64 akan berargumen bahwa controller mereka sudah sempurna. Controller yang memiliki 3 gagang ini terdiri dari tombol arah di bagian kiri, joystick di tengah, dan tombol aksi di bagian kanan. Ketika kamu mencoba untuk memainkan joystick nya kamu akan merasa aneh karena bermain dan menggenggam controller hanya setengah bagian. Kelalaian ini kemudian diadaptasi oleh sony dengan mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut ergonomis dan semetrikalitas yang melahirkan DualShock yang legendaris.

6. The Duke Xbox

 


Mengenyampingkan fakta bahwa xbox 360 merupakan salah satu console yang paling populer dan berhasil dari microsoft, tidak membuat mereka luput dari kelalaian. Controller xbox generasi pertama yang dijuluki “The Duke” karena ukurannya yang segede gaban menjadi barang bukti dari kelalaian microsoft.

Mereka sepertinya berpendapat bahwa hanya orang dewasa yang bermain game, anak kecil dengan ukuran tangan yang lebih kecil jelas tidak dapat meraih tombol dengan jari-jari mungil mereka. Bahkan tak semua orang dewasa memiliki ukuran telapak tangan sebesar yeti 😀

7. Philip’s CD-i Controller


Seperti yang sudah kita bahas di wiimote, alangkah baiknya kalau controller tidak memiliki bentuk aneh, terdiri dari 2 bagian dan juga harus simetris. Ditahun 1993 ketika nintendo masih menjadi perusahaan yang paling dominan dalam industri game, philips mencoba untuk menyaingi dengan mengeluarkan cd-i.

   Kualitas game-gamenya yang buruk dan software support yang kurang memadai ditambah oleh controller yang seperti remote tv membuat philips tak mampu bertahan lama di industri ini.

8. Nintendo Power Glove

Nintendo memproduseri sebuah film berjudul The Wizard pada tahun 1989 sebagai strategi pemasaran produk ini. Filmnya mendapatkan respon negatif dan kritik pedas. Penggagasan tema masa depan yang berlebihan dibilang menjadi faktornya. Seperti filmnya yang terlalu muluk-muluk tentang masa depan, controller ini payah karena pada masa itu game bahkan belum 3D. Jadi gamers harus menjual kenyamanan memegang controller dengan 2 tangan dengan feature gagal yang terlalu cepat 10 tahun.

9. Dreamcast Sega


Salahkan pemasaran, Salahkan waktu perilisan yang kurang tepat, salahkan 3rd party yang kurang mendukung. Desain yang sangat besar dan gemuk dimaksudkan untuk mensupport’VMUs’ (Visual Memory Units) – sebuah sistem yang dimaksudkan untuk kartu memori portable yang juga berfungsi sebagai minatur dan console nya itu sendiri.

Disini kita bisa lihat sega berusaha sangat keras untuk melampaui nintendo dalam hal inovasi. Namun sayangnya usaha mereka itu tidak dibarengi dengan pertimbangan dan pemikiran yang masak. Ukurannya yang sebesar piring 😀 , ketebalannya, beratnya, tombol-tombol murahan yang sulit diraih oleh jari membuat dreamcast menjadi aib yang paling memalukan bagi sega.

Controller sebagai mediator antara pikiran dan dunia game memang sangat penting peranannya dalam menentukan kualitas gaming. Controller-controller diatas sebagian berasal dari produk yang memang terbilang gagal dan sebagiannya lagi berasal dari produk legendaris yang booming dipasaran. Saran kami jangan sampai salah pilih ya brott, ga mau kan layar lcd kamu bolong karena controller yang kamu lempar??

 

Avatar

Written by Ryan Wirawan