Beda dari Steam, Epic Store Punya Standar Ketat untuk Tidak Menerima Game “Sampah”


Follow Us

Bos Epic tak mau berkompromi seperti Gaben

Drama Persaingan antara Steam dan Epic Games Store mungkin sekarang nampaknya telah mulai panas. Tepat hari ini, Steam lagi-lagi harus rela dihantam secara bertubi-tubi oleh kontrak eksklusif yang berhasil Epic Games canangkan bukan untuk 1 game saja, tapi 6 game sekaligus seperti Control, The Outer Worlds, The Sinking City, hingga tiga game serangkai buatan Quantic Dreams.

Nulis artikel dibayar

Penawaran bagi hasil yang lebih menggiurkan jelas menjadi alasan utama kenapa developer dari kumpulan game-game tersebut rela membelot atau mempreferensikan rasa keberpihakannya kepada Epic Games. Melihat seolah begitu mudahnya Epic dalam menggandeng sekumpulan developer terlepas dari kebijakan bagi untung yang jauh lebih manusiawi dari Steam, apakah proses yang harus Epic Games Store lakukan dalam memasukan sejumlah game-game ke dalam library mereka memang terkesan sangat simpel ?

BACA JUGA  Belajar dari Summer Sale 2019, Valve Berikan Ekstra 5,000 Game Gratis

Dalam wawancara eksklusif yang sudah pihak PC Gamer adakan kepada Tim Sweeney selaku bos besar Epic, beliau mengatakan bahwa Epic Game Store sebenarnya punya suatu standar penilaian khusus dalam memfilter game-game apa yang diperbolehkan masuk di sana. Mirip seperti standar dari film yang diperbolehkan tayang di bioskop, Epic games rupanya sama sekali tidak mau menerima game-game dengan kualitas sampah.

Bagi Tim, istilah “sampah” yang dimaksud bukan berarti bahwa semua game yang belum sempat masuk di Epic Store dianggapnya sebagai game yang tak layak.

Kami punya standar untuk tidak menerima game “Sampah”. Kami sendiri hanya mau menerima game-game dengan kualitas yang benar, entah itu lahir dari developer indie ataupun yang besar (AAA) sekalipun. Kami juga merasa tidak bermasalah untuk mengambil game dengan rating usia anak-anak, remaja hingga dewasa.

Akan tetapi, kami justru sangat anti sekali dalam menerima game-game yang sangat tidak sesuai  norma, dominan akan unsur pornografi, bloatware, plagiat asset, dan hal-hal yang bernada “trolling” lainnya. Karena bagi kami, itu SAMPAH.

-Tim Sweeney, CEO Epic Games

Apa yang diungkapkan oleh Tim Sweeney tersebut seakan telah menyindir kekurangan Steam atau valve dalam melakukan proses kurasi game. Dengan tidak adanya lagi sistem Steam Greenlight, belakangan telah banyak bermunculan game-game dengan kategori “tidak jelas nan aneh” yang beberapa diantaranya sudah berhasil menimbulkan kontroversi atau kegaduhan dengan penyelesaian yang amat terlambat. Masih ingat dengan game tembak-tembakan di sekolah (Active Shooter), ataupun yang baru-baru ini seperti game visual novel absurd tentang pemerkosaan ? Karena itu adalah salah satu contohnya.

BACA JUGA  CD Projekt Red Buka Kompetisi Cosplay Cyberpunk 2077, Berhadiah Lebih Dari 550 Juta Rupiah!

Apakah hal yang sudah disampaikan oleh Tim Sweeney di atas bisa menjadi pelecut semangat untuk Gaben dalam memberikan suatu “comeback” penting kepada Epic Games  ? Kita lihat saja nanti.

Sumber: PCgamer


Baca pula informasi lain terkait Epic Games Store, beserta dengan cerita-cerita menarik seputar video game dari saya, Ido Limando.


Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item