Call of Duty Modern Warfare Review – Operasi Senyap Penuh Teror

in , , ,

Call of Duty bukan nama yang baru lagi di industri video game. Franchise yang dibuat untuk menyaingi Medal of Honor tersebut sukses bertahan hingga detik ini berkat keistimewaannya. Terlepas dari semua kontroversinya, terbukti bahwa ia bisa menjadi game yang datangkan banyak sekali keuntungan bagi Activision hingga detik ini. Game yang dimulai dengan Infinity Ward sebagai developer pertamanya tersebut miliki ciri khas cerita single player yang dramatis layaknya film. Puncaknya ketika seri Modern Warfare mengalami konklusi dari ceritanya di seri ketiga. Kirimkan banyak sekali pundi-pundi emas bagi developer dan publisher asal Amerika Serikat tersebut.

Meski sempat absenkan diri dari Black Ops 4 yang hadir tanpa singleplayer. Namun hal tersebut tak mereka ulangi di tahun 2019 ini. Di bawah kendali Infinity Ward yang dipasrahi untuk mengerjakan iterasi Call of Duty tahun ini. Mereka nampaknya ingin melakukan branding ulang seri Modern Warfare yang sempat melambungkan namanya dan menjadikan tambang emas bagi mereka. Tidak sebagai sekuel maupun remake, namun reboot. Hal ini terbukti dengan dibuatnya engine baru yang menjadi pertanda kehadirannya. Sebuah engine yang akan mereka gunakan di franchise gamenya di masa datang.

Lalu, apakah dengan lakukan branding ulang Modern Warfare Reboot mereka bisa bangkit untuk hadirkan ciri khas gamenya?

Wajah Lama Kembali

Cerita Call of Duty Modern Warfare dimulai dengan adegan kelompok teroris bernama Al Qatala di bawah pimpinan Wolf dan tangan kanannya, Butcher yang mengacaukan sebuah kota dengan bom bunuh dirinya. Kelompok ini mengatakan akan melakukan apapun untuk menumpas orang dan kekuatan asing di negaranya dengan kekerasan dan pembunuhan.

Kisahnya kemudian berpindah ke agen CIA bernama Alex dan para pasukan marinir yang ditugaskan untuk melakukan operasi penyergapan di salah satu markas militer yang terletak di Verdansk. Penyergapan ini bertujuan untuk mengamankan gas chlorine berbahaya yang mereka miliki. Sayangnya, ketika tim mulai berhasil menyelesaikan misi, mereka mendadak diserang oleh kelompok tak dikenal yang diduga adalah Al Qatala. Mencuri gas chlorine yang akan mereka gunakan untuk kepentingan kelompoknya. Membuat Kremlin harus memutuskan hubungan internasional Amerika dan Russia.

Alex akan kamu mainkan di awal misinya.
Sersan Garrick (kanan) akan menjadi playable character kedua selama misi selain Alex.

Mengetahui hal tersebut, bosnya, Laswell menghubungi John Price untuk mengejar kelompok teroris tersebut. Pindah tugaskan Alex untuk bekerja bersama Price yang kemudian merekrut Sersan Garrick saat kekacauan yang dimulai Al Qatala terjadi di London. Mereka kemudian meminta bantuan rekan lama Price, yakni Farah dan Hadir yang tengah bertempur melawan Al Qatala dan pasukan Russia di Urzikstan. Mampukah mereka menumpas Al Qatala dan menangkap pemimpinnya bernama Wolf?

Sentuhan Tampilan Visual yang Modern

Dengan mengatakan bahwa game ini merupakan versi reboot, maka wajar apabila kita akan membahas tampilan visualnya terlebih dahulu. Kehadiran engine baru milik Infinity Ward membuat Call of Duty Modern Warfare Reboot miliki tampilan visual yang menawan. Mulai dari cahaya, tekstur, asap, hingga efek dari ledakan atau api dari bom molotov yang dilemparkan. Ini dipercantik lagi dengan sentuhan ray-tracing yang dipopulerkan oleh NVIDIA.

Fitur ray-tracing yang saya pribadi coba menjadi ray-tracing paling optimal yang pernah saya mainkan dalam gamenya. Jika beberapa game akan memaksamu untuk mengimplementasikan ray-tracing di resolusi 2K, maka tidak dengan Call of Duty Modern Warfare Reboot. Karena dengan 1080p saja kamu bisa menikmatinya. Tentunya dengan GPU yang mendukung.

Lalu, bagaimana performanya di PC dengan spesifikasi rendah? Percaya tidak percaya, saya sudah mencobanya di PC lain dengan spesifikasi i5 generasi keempat dengan RAM 8GB dan GPU NVIDIA GTX 960. Hasilnya, game bisa berjalan lancar di 60 fps dengan setting grafis very low rata kiri. Sayangnya saya tidak menyarankanmu untuk memainkannya di PC dengan RAM 4GB meskipun semua spesifikasi baik CPU maupun GPU memenuhi.

Efek ledakan dan cahaya dalam gelap membuat peran raytracing menjadi semakin sempurna.

Perubahan tampilan visual ini juga tersirat di penyajian ceritanya yang kini menjadi terpisah dan tak melulu disajikan dalam perspektif orang pertama. Dengan adanya cutscene pre-rendered di beberapa bagian, Infinity Ward mencoba untuk memberikan kesan bahwa ceritanya kali ini miliki beberapa perspektif yang berbeda. Hal ini kemudian diperkuat dengan keberadaan dua playable character yang bisa kamu mainkan. Mulai dari agen CIA merangkap tentara yakni Alex, hingga Sersan Garrick yang ditugaskan untuk mengamankan London dari marabahaya Al Qatala yang mengancam.

Sentuhan Gunfight yang Lebih Realistis

Terlepas dari cerita dan tampilan visualnya yang menawan, game shooter tentu takkan lengkap tanpa mekanisme gunfightnya yang jadi inti gameplaynya. Berbeda dari seri sebelumnya, Modern Warfare hadir dengan gunfight yang lebih realistis. Kebanyakan senjatanya kini miliki recoil yang bisa dikatakan cukup nyata. Kamu tak lagi bisa asal aim dan spray karena kamu harus atur recoilnya dengan mouse jika kamu memainkannya di PC. Beberapa senjata kini tidak bisa digunakan dengan asal spray karena pelurunya akan pergi kemana-mana tanpa attachment yang mendukung. AK47 misalnya yang bakal mengangkat ke atas dengan cukup tinggi jika kamu tidak mengatur recoilnya.

Perubahan tersebut mengubah permainan intinya yang awalnya run and gun menjadi lebih taktikal. Terdapat beberapa sudut yang bisa digunakan untuk berlindung dan mengintip layaknya Rainbow Six Siege. Namun berbeda dengan game karya Ubisoft tersebut yang bisa intip kanan kiri dengan leluasa, kamu harus menggunakan tombol mouse 5, yakni tombol atas yang berada di bagian samping kiri mousemu di sudut tertentu. Misalnya seperti pinggiran dinding, di atas barikade, atau di atas kap mobil. Ini akan membantumu untuk berlindung dari serangan musuh berkat kini recovery time-mu akan jauh lebih lambat dibanding biasanya.

Beberapa suara senapannya kini juga didesain dengan sangat baik. Ia terdengar lebih gahar dan menyeramkan. Jika kamu menembakkan senapanmu di beberapa area, maka kamu akan bisa mendengarkan suara yang berbeda. Area terbuka dan tertutup akan menghasilkan suara yang cukup berbeda. Efek muzzle tiap senjata seperti suppressor juga kini miliki suara yang lebih baik. Memberikanmu bayangan untukmu yang belum pernah mendengarkan suara senjata bersuppressor menjadi lebih dekat.

Going Dark

Cerita Call of Duty Modern Warfare tak lagi berkutat ke beberapa kontroversi tertentu. Namun lebih condong pada situasi nyata. Namun tak semuanya bisa tersampaikan dengan baik dalam eksekusinya. Bahwa sekitar 50% bisa tersampaikan dengan baik dan bisa disebut berhasil, namun sisanya terasa cukup generik. Misalnya mereka berhasil merepresentasikan teror dan horor perang yang terjadi saat misi tertentu. Kamu dijamin akan dibuat ketakutan dengan bagaimana perang yang sesungguhnya terjadi. Bagaimana konflik politik dan perebutan kekuasaan bisa mengakibatkan gugurnya banyak korban tak berdosa.

Misi dalam kegelapan seperti ini akan sering kamu jumpai.

Namun di sisi lain, kegenerikan bahwa Amerika dan negara sekutu sebagai pahlawan dan Russia atau negara timur tengah sebagai si jahat membuat saya cukup bosan melihatnya. Memang, kedua negara tersebut tak miliki hubungan yang cukup baik, namun hal ini sudah cukup banyak direpresentasikan di berbagai media. Salah satunya adalah film. Di satu sisi, terdapat sebuah potret bagaimana buruknya situasi yang dilakukan. Namun hal tersebut justru ternetralkan berkat tentara musuh yang datang dengan membabi-buta.

Dari sisi gameplaynya sendiri, kamu akan lebih sering menjalankan misi di malam hari. Penyergapan di tempat-tempat gelap yang memaksamu untuk menggunakan night vision membuat permainannya tak melulu bar-bar. Membuatmu harus berpikir bagaimana agar tidak salah tembak. Penyergapan di rumah misalnya yang memaksamu harus berhati-hati untuk menembak musuh. Membunuhnya atau melumpuhkannya menjadi pilihanmu. Salah sedikit, kamu akan bisa menembak orang tak bersalah.

Sayangnya, hal tersebut tak berbanding lurus dengan penokohan dan perkembangan karakternya. Captain Price sendiri yang menjadi sorotan utama nampak seolah menjadi satu-satunya karakter yang berkembang dengan sangat baik. Voice actornya, Barry Sloane berhasil membawakan Price dengan sangat baik. Motion capture yang ia lakukan bersama Infinity Ward berikan pesona Price dan karakternya terlihat hidup.

Captain Price menjadi sorotan utama dalam gamenya.

Namun tidak untuk beberapa karakter lain seperti hubungan antara Alex, Farah, dan Hadir. Ketiganya yang menurut saya bisa menjadi ujung tombak cerita, seolah diselesaikan begitu saja tanpa menjadikan perkembangan karakternya bertahap. Seolah Infinity Ward hanya fokus pada Price saja yang mungkin akan dijadikan tokoh utama di sekuel selanjutnya. Karena jika kamu melihat konklusi ceritanya, nampaknya mereka akan melanjutkan sekuelnya.

Jika kamu memainkan gamenya dari Modern Warfare pertama. Maka kamu akan mengetahui beberapa adegan yang dibuat ulang oleh Infinity Ward dalam seri ini. Misi Captain Macmillan yang ikonik akan terulang di bagian tertentu. Namun dengan perubahan yang cukup berbeda. Kemungkinan Infinity Ward mengambil inspirasinya dari adegan tersebut.

Ceritanya memang didesain dengan sangat baik jika dibandingkan versi orisinalnya dengan berbagai perspektif. Namun pada kenyataannya, menurut saya pribadi seri orisinal justru lebih baik berkat pengalaman perspektif orang pertama yang melihat berjalannya cerita secara langsung. Seolah ajak kita untuk ikut berperan di dalamnya.

Cerita Farah dan Hadir seharusnya bisa digali dengan lebih detil jika mereka ingin berikan sesuatu yang cukup fresh. Atau jika mereka berencana untuk melanjutkan dengan sekuel.

Sayangnya terdapat beberapa hal yang saya sayangkan di singleplayernya. Desain AI yang dilakukan Infinity Ward terlihat cukup lemah menjelang akhir permainan. Khususnya companion AI. Awalnya, semua memang didesain dengan sangat baik, namun tidak di pertengahan permainan. AI menjadi terlihat bodoh dan tidak berinisiatif kecuali kamu pergi ke titik yang cukup jauh, sementara musuh seolah tak ada habisnya untuk kian datang. Terkadang saya juga mati konyol karena seharusnya mereka sudah berada di posisi yang sama dengan saya dan ikut membantu, namun pada kenyataannya terlampau cukup jauh. Membuat saya harus berusaha sendirian.

Tak bisa dipungkiri, ini juga terjadi di AI musuh di pertengahan cerita. Mereka seolah sengaja menyettingnya agar hanya mengejar player tanpa mempedulikan AI companion yang membantunya. Banyangkan jika kamu harus dipaksa 1 vs 1 melawan juggernaut yang miliki ketebalan armor yang luar biasa dan minigun yang dibawanya. Ironisnya, ia justru terus berlarian mengejarmu dan bukan rekanmu atau acak mengejarmu dan rekanmu.

Beberapa scripted event seperti dikejar helikopter terasa kurang bebas. Kamu harus menggunakan jalan A terus untuk menyelesaikannya, padahal terdapat jalan B dan C yang juga memungkinkan untuk menyelesaikannya. Namun jika kamu melakukannya, maka kamu akan otomatis mati.

Hal lain yang membuat saya sedikit kecewa adalah adanya pilihan jawaban saat ditanya NPC. Sayangnya pilihan jawaban tersebut hanya miliki satu jawaban yang benar. Terasa sangat sia-sia untuk memberikannya. Buat apa memberikan pilihan jawaban di cerita jika hanya satu yang benar? Kenapa tidak langsung dilakukan saja melalui cutscene?

Tak Lagi Bar-Bar di Multiplayer

Kamu bisa memilih operator untuk karaktermu.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa kini handling senjatanya dijadikan dengan lebih realistis. Maka hal tersebut juga tersirat di multiplayernya. Dengan semakin sulitnya semua senjata. Maka kamu tak bisa menembaknya dengan asal-asalan tanpa memperhatikan recoil dan kapan dan di mana kamu akan menembak. Berusaha berlari melakukannya akan membuatmu mati sia-sia. Semua telah berubah, face it. Player PC, PlayStation 4, dan Xbox One akan mampu bermain dalam satu server. Melebur dinding yang membatasinya.

Multiplayer kini menjadi lebih taktikal. Kamu kini tak bisa asal tembak dan maju seperti seri lawasnya.

Multiplayernya miliki berbagai fitur yang sudah ada di seri sebelumnya. Mulai dari create a class, perk, dan lethal/equipment. Terdapat tambahan unik lain seperti operator yang bisa kamu buka dengan menyelesaikan challenge, hingga dobel XP atau XP tambahan lain dengan merampungkan daily challenge. Misalnya seperti membunuh 25 musuh dengan sniper, dan seterusnya.

Kamu bisa membuat 5 custom class dalam create a class. Semua hal dari memodifikasi senjata hingga memasang perk masih sama dan tetap ada di sini sama seperti seri lawasnya.

Hal unik dari fitur create a class yang ada adalah blueprint yang otomatis akan mengganti skin senjatamu. Jadi misalnya kamu mendapatkan blueprint AK47, maka kamu bisa menggantinya dengan tampilan lain. Hingga tulisan ini turun, belum ada kejelasan bagaimana cara mendapatkannya. Namun kemungkinan ia bisa dibeli di in-game store dengan uang asli. Karena hingga detik ini, baru satu skin saja yang ada di sana.

Cyber Attack menjadi mode yang cukup mirip dengan Search and Destroy, namun menggunakan EMP bomb.

Beberapa mode generik yang bisa diakses melalui Quick Play seperti Team Deathmatch, Cyber Attack, Domination, Search and Destroy, Headquarters, Team Deathmatch & Domination 20 player, dan Kill Confirmed terlihat sama saja dengan seri terdahulunya. Bahwa mereka hanya menambahkan satu mode baru untuk Quick Play yakni Cyber Attack. Sebuah mode yang mirip dengan Search and Destroy namun menggunakan EMP sebagai bomnya. Selain itu, mode ini akan mungkinkanmu untuk menghidupkan kembali rekan-rekanmu yang sudah terbunuh.

Mapnya kini didesain dengan sedikit lebih luas. Membuatmu sedikit agak rileks dan nyaman karena tak perlu fokus menghabiskan energi untuk terus bereaksi cepat saat berhadapan dengan musuh. Tujuan Infinity Ward memang baik agar player bisa memanfaatkan map dan bermain dengan lebih tactical. Namun sayang, pada prakteknya desain map tersebut justru memotivasi banyak player untuk camping atau diam di satu tempat.

Ground War adalah mode conquest Battlefield, namun dengan Killstreak.

Mode baru lainnya adalah Ground War yang mana akan mengikuti mode conquest ala Battlefield milik EA dengan mapnya yang cukup luas. Paksamu untuk merebut beberapa poin dengan berjalan kaki atau mengendarai tank. Ya, kali ini kamu bisa mengendarai tank dan kendaraan perang lain termasuk helikopter. Sayangnya, meski tank akan bisa menembakkan peluru, helikopter yang dikendarai hanya sebatas transportasi saja.

Hal lain yang menurut saya pribadi cukup mengecewakan adalah tak adanya destruction physics saat ground war. Menjadikan elemen arcade masih tetap melekat dalam gamenya. Berbeda dengan versi beta yang mana tank cukup empuk, kini tank dan kendaraan lain di Ground War menjadi sedikit lebih keras. Berikan kesempatan bagi mereka yang ingin keluar sebelum mati karena ledakan.

Sayangnya, killstreak UAV dan counter UAV masih menggunakan syarat yang sama. Membuat musuh yang dapatkan killstreak tersebut bisa lakukan spam UAV tanpa habis sama sekali dan memanfaatkannya untuk menumpas musuh. Seharusnya khusus untuk ground war, hal ini bisa ditoleransi dengan mengubah peraturannya dengan kill 8 untuk UAV misalnya atau yang lain tanpa harus menghilangkan killstreak.

Kini Ground War miliki map satu lagi yakni Tavorsk District.

Bagi kamu yang ingin merasakan bagaimana sulitnya peperangan, maka kamu bisa mencoba mode Realism. Di mana HUD akan dihilangkan dan hanya terbatas pada penanda rekan satu timmu. Selebihnya, semua tergantung skill menembakmu. Membuatnya nyaris tak mungkin untuk camping atau diam di suatu tempat. Tidak, ini bukan mode hardcore seperti seri orisinalnya, namun mode yang lebih mengutamakan realisme. Ia tidak miliki darah setebal Team Deathmatch karena time-to-killnya yang lebih singkat.

Sejauh ini NVG jadi salah satu mode favorit saya agar terhindar dari camper.

Salah satu mode ikonik unik lainnya adalah NVG dengan night maps yang akan paksamu untuk bergelut dalam multiplayer malam hari. Ia akan menggunakan peraturan mode realism yang bisa dibayangkan sendiri bahwa kamu akan kesulitan dengan segala keterbatasan yang ada. Mode yang baru diupdate tanggal 3 November kemarin akan menjadi favorit para orang yang tak ingin ada camper.

Co-op, Lanjutan Cerita?

Rekan satu timmu sekarat di co-op? Tenang! Kamu bisa menghidupkannya kembali.

Selain mode NVG yang ada di multiplayer, terdapat mode co-op yang paksamu untuk bergabung dengan tiga orang player lainnya. Mode ini seolah dijadikan lanjutan dari cerita singleplayer yang akan menceritakan bagaimana Price dan timnya mengirimmu untuk menanggulangi operasi Al Qatala. Saat ini terdapat empat misi co-op yang bisa dimainkan: Operation Headhunter, Kuvalda, Paladin, dan Crosswind. Tiap dua operation sekali akan terdapat adegan sinematik briefing ceritanya yang cukup memanjakan mata meski hanya briefing misi.

Co-op akan berimu beberapa tujuan tertentu di setiap misinya.

Tiap misi miliki area yang cukup berbeda. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa mode ini sangat sulit meskipun telah dibantu player lain sekalipun. Musuh di mode ini takkan ada habisnya. Usahamu untuk stealth akan dijamin gagal karena pada akhirnya kamu harus bertempur melawan semua musuh yang ada. Belum lagi jika kamu harus bertemu dengan Juggernaut yang sangat keras. Mati satu? Tenang, kamu masih bisa dihidupkan kembali dengan menunggu respawn selama maksimal satu menit. Sementara jika semua orang dalam timmu mati atau injured, maka misi akan gagal. Itupun jika salah satu rekanmu memilih untuk menyerah.

Kotak ini adalah armor drop yang dikeluarkan oleh anggota satu timmu untuk membantumu mendapatkan armor.

Pertempuran sengitmu akan dibantu kotak yang berisi random killstreak atau random ammo/armor/grenade yang tersebar di penjuru map. Jadi, kamu dan timmu harus memanfaatkannya dengan baik jika tidak ingin menjadi bulan-bulanan musuhmu.

Berbeda dengan multiplayer biasa, Co-op miliki role yang mungkinkanmu untuk membantu rekan satu timmu dengan kemampuannya masing-masing. Misalnya saja medic yang akan mampu membuat rekan satu timmu hidup kembali dari jarak jauh dan lain sebagainya.

Ini adalah misi yang bisa kamu mainkan di co-op.
Berbeda dengan multiplayer, co-op miliki role seperti medic hingga yang lain dengan kemampuannya masing-masing.

Sayangnya, Co-op ini merupakan mode yang bukan menjadi lanjutan ceritanya secara gamblang, karena pada akhir cerita singleplayer Infinity Ward dengan jelas mengatakan bahwa kisah akan berlanjut di Spec Ops. Di mana saat ini hal tersebut hanya bisa dilakukan di PlayStation 4 saja dan bukan PC tempat versi kami mereviewnya. Jadi, kami tidak bisa memberikan informasi apapun terkait Spec-Ops untuk saat ini.

Bug XP yang tak muncul terkadang buat saya kebingungan karena tiap selesai atau gagal dalam misi, maka XP akumulasi terkadang tak terakumulasi. Padahal pada kenyataannya, mau misimu gagal atau tidak, semua XP akan terakumulasi. Ini menurut saya hal yang sangat perlu diperbaiki oleh Infinity Ward di patch selanjutnya.

Meskipun begitu, XP yang diberikan oleh co-op tergolong cukup besar apabila kamu berhasil menyelesaikannya. Setidaknya kamu bisa naik satu level setiap kali kamu berhasil menyelesaikannya. Namun perlu diingat, kamu dan timmu harus hafal tiap patternnya agar bisa selesai dalam waktu singkat. Karena jika tidak, maka kamu akan bergelut dalam kebosanan. Menunggu rekan satu timmu respawn satu menit selama berjam-jam. Saya tidak menyarankan untuk memainkan mode ini kecuali kamu punya banyak waktu dan ingin naik level cepat. Mode ini juga tidak disarankan untuk menaikkan level senjatamu karena multiplayer biasa akan lebih cepat dibanding co-op.

Always Online dan BD PS4 Hanya Multiplayer

Dari banyaknya keluhan yang saya rasakan saat mereview versi PCnya. Tim kami yang memainkannya di PlayStation 4 menganggap bahwa membeli BD PlayStation 4 akan langsung plug and play setelah selesai menginstallnya. Pada kenyataannya tidak sama sekali.

BD PlayStation 4 hanya berisi multiplayernya saja, sementara file singleplayer harus didownload ulang sebesar kurang lebih 50GB. Membuatnya tak praktis bagi mereka yang memiliki kecepatan internet seperti cara berjalannya siput. Tentunya hal ini bisa diatasi dengan membuat dua BD seperti yang dilakukan Rockstar di Red Dead Redemption 2. Memang, hal tersebut akan membuat waktu install lebih lama. Namun dengan jumlah file yang banyak, maka wajar apabila membutuhkan BD yang lebih.

Sebelum kamu masuk ke main menu, kamu akan dihadapkan dengan laman koneksi.

Always online juga cukup mengganggu bagi mereka yang hanya ingin menikmati singleplayernya secara offline di PC. Sebelum masuk menu, kamu akan dihadapkan dengan loading yang berbunyi “Connecting to Online Services”. Sebuah DRM Battlenet agar gamenya tak dibajak. Kamu akan membutuhkan internet untuk bisa memainkannya meski singleplayer. Hal ini berbanding terbalik dengan versi consolenya yang bisa dimainkan secara offline. Memutus internet di tengah menu akan langsung melemparkanmu ke menu yang mana akan memaksamu keluar ke desktop.

Kesimpulan

Versi reboot dari Call of Duty: Modern Warfare sukses imajinasikan ulang seri yang sempat populer di masanya dengan wajah baru. Tampilan visualnya yang memesona dengan engine baru dan gunfightnya yang lebih realistis, jadikan seri ini standar Call of Duty di masa datang. Captain Price sendiri benar-benar digarap dengan sangat baik di universe yang dibuat oleh Infinity Ward dengan pengembangan karakternya yang cukup mulus. Sayangnya mereka tak menggali lebih dalam cerita dan pengembangan karakter Farah dan Hadir untuk berikan kesempatan dan kemungkinan kisahnya untuk dilanjutkan ke seri selanjutnya.

Konsep teror perang yang mereka sajikan berhasil hadirkan kengerian yang mendalam dalam konflik global yang ada saat ini. Sayangnya konsep generik Amerika dan negara sekutu barat yang selalu menjadi pahlawan sudah seharusnya dihapus karena sudah terlalu pasaran. Konklusi di akhir kisahnya berikan sebuah sinyal bahwa seri ini hanyalah prolog dari kisah Captain Price yang akan dilanjutkan ke seri selanjutnya. Bagi saya pribadi, pembawaan cerita di berbagai perspektif memang cukup menarik, namun tidak untuk keiimersifannya jika dibandingkan seri orisinalnya yang hanya dibawakan melalui perspektif orang pertama, yakni kamu.

Semua aspek gunfightnya yang dibuat lebih realistis terasa sangat memuaskan dan menjadi candu bagi tiap fans lawasnya. Terlebih di mode multiplayernya yang kini tak lagi run and gun. Membuat usahamu membunuh player lain dalam gamenya menjadi lebih rewarding.

Multiplayernya menjadikan Call of Duty Modern Warfare cukup berani dengan menantang langsung rivalnya berkat Ground War yang diimplementasikan. Sayangnya mekanik gunplay yang kini menjadi realistis dengan map yang luas memicu beberapa player yang seharusnya bermain lebih taktis menjadi camper. Cara bar-bar yang selama ini dilakukan takkan bisa terjadi kembali di seri ini. Sementara co-op merupakan tambahan yang menarik untuk representasikan cerita, namun sayang bukan menjadi lanjutan kisahnya secara gamblang. Karena semua akan dilanjutkan di spec-ops yang hingga detik ini masih eksklusif di PlayStation 4 saja.

Meskipun begitu, saya sangat menyarankan gamenya bagi kamu yang rindu gameplay singleplayer dan ceritanya yang khas yang kini telah dipoles menjadi lebih baik meskipun pada akhirnya justru main aman. Namun sayangnya, bagi kamu yang tak memiliki koneksi internet dan berusaha menimangnya di PC, maka kamu harus mengikhlaskan diri untuk melewatinya karena fitur always onlinenya atau membeli versi consolenya. Sementara kamu yang tak bisa lepas dari masa lalumu berkat gameplaynya yang kini menjadi lebih tactical, bisa menikmatinya sembari belajar untuk menyesuaikan diri dengan sistem baru tersebut.

Ayyadana Akbar

Written by Ayyadana Akbar

Senior Writer and Video Editor since Gamebrott was established in 2015. Specializing in Japanese Games, JRPG, Shooter, PC, and console news and reviews. If you have PR related to video games you can contact him at [email protected]