Cerita Dibalik Kesuksesan Telltale Games yang Ternyata Menyimpan Duka bagi Para Stafnya

in

Bila berbicara tentang Telltale games, tentu developer yang satu ini dikenal jagonya dalam membuat sebuah game yang bisa bikin kamu menangis tersedu-tersedu. Kalian pasti ingat dengan adegan Clementine yang menembak mati sang protagonis, Lee Everett dalam ending Walking Dead Season 1. Dimana sangat berat membayangkan seorang gadis kecil seperti Clementine mengemban sebuah tanggung jawab besar untuk harus mengakhiri penderitaan Lee yang sudah terinfeksi oleh gigitan zombie. Adegan memilukan tersebut rupanya benar-benar membawa game ini meraih sejumlah banyak penghargaan, yang paling diingat tentu adalah sebuah penghargaan game of the year yang Telltale sempat raih di tahun 2012 lalu. Hal itu terbilang sebagai pencapaian yang sangat luar biasa untuk sebuah studio game yang pada saat itu memiliki staff berjumlah kurang dari 100 orang.

Melihat begitu banyaknya pujian atas keberhasilan mereka mengadaptasi serial komik buatan Robert Kirkman tersebut ke dalam sebuah game bergenre drama interaktif. Dengan menggunakan formula yang sama pula, Telltale pun akhirnya ingin mencoba melebarkan sayapnya dengan mengadaptasi beberapa serial dari franchise lain seperti Fables, Borderland, Minecraft, sampai ke franchise superhero dari Marvel dan DC, yakni Guardian of The Galaxy dan Batman. Game-game buatan Telltale ini memang lebih berfokus pada narasi cerita, beserta eksekusinya yang dapat memanipulasi emosi dan rasa empatimu ketimbang sebuah aksi tembak-tembakan atau pertarungan yang memanjakan mata. Munculnya game-game yang Telltale adaptasikan dari franchise kenamaan tersebut pada akhirnya telah membuat Telltale berubah menjadi sebuah studio game yang semakin besar.

Karena itu, apabila seandainya kalian mendapat kesempatan untuk bisa berkerja di Telltale, pasti tanpa pikir panjang kalian akan dengan senang hati menerimanya bukan ? Lalu sambil berharap bahwa kalian akan mendapat sebuah pengalaman berharga dari para orang-orang kreatif seperti mereka. Namun sayangnya apa yang diungkapkan oleh sejumlah mantan karyawan Telltale ini sepertinya akan membuatmu bingung. Karena menurut mereka, bekerja di sana itu tidaklah seindah memandang wajah pacar idaman kalian.

Menjadi gelap mata karena sebuah keberhasilan ?

Dilansir dari The Verge, sejumlah mantan karyawan Telltale memberikan curahan hati kepada The Verge mengenai sisi lain yang tidak mengenakkan dari Studio pencipta game “drama” ini. Semuanya berawal ketika game Walking Dead Season 1 mereka terbukti laris di pasaran. Suksesnya game tersebut dengan jutaan kopi dan puluhan juta dollar yang sudah didapatkan membuat mereka dilirik oleh beberapa investor-investor besar di dunia. Pada akhirnya mereka menjalin hubungan kerja sama dengan sesama studio game seperti Gearbox Software, Mojang hingga ke stasiun televisi terkenal sekaliber HBO.

Hal tersebut membuat Telltale seakan naik level sebagai pihak developer game yang terlihat lebih bonafit. Namun, sangat disayangkan apabila berkembangnya Telltale ini nampaknya tidak berbanding lurus dengan kedewasaan mereka dalam mengelola iklim yang sehat di studionya. Salah seorang mantan karyawan Telltale mengungkapkan bahwa semenjak itu, kondisi lingkungan kerja di Telltale telah berubah drastis dari yang awalnya sangat menjunjung tinggi keakraban dan persahabatan menjadi semakin acuh tak acuh di antara para pegawainya. Mereka juga tak lupa menjelaskan bahwa ini adalah akibat dari kebijakan Telltale yang melakukan perekrutan karyawan secara besar-besaran demi mengerjakan banyaknya proyek-proyek game lain yang harus secepat mungkin mereka kerjakan.

Game-game buatan Telltale

jika kalian memperhatikan proyek-proyek pembuatan game apa saja yang selama ini Telltale buat, pasti kalian akan benar-benar dibuat pusing melihatnya. Misal Walking Dead saja direncanakan akan memiliki season berjumlah 4 buah, dalam masing-masing seasonnya saja terdiri dari 5 episode. Belum termasuk dengan standalone expansion berupa 400 Days, sampai Michonne yang memiliki 3 episode. Ini pun belum dihitung dari kemasan episodik dari game-game lain seperti Minecraft Story Mode, Wolf Among Us, Batman, Borderland, Guardian of the Galaxy sampai ke Game of Thrones. Tentu proyek pengerjaan seperti ini membutuhkan banyak waktu dan tenaga yang betul-betul memadai.

Lingkungan kerja yang ultra berat ?

Meski sudah memberlakukan kebijakan shift atau rotasi, terjadinya sebuah degradasi kualitas dari game-game yang selama ini mereka hasilkan rupanya tetap menjadi suatu hal yang tak bisa dihindari. Seperti melesetnya target kerja yang sudah ditentukan dan munculnya revisi mendadak dari para atasan yang menyebabkan gagalnya mereka dalam membenahi kekurangan yang sudah dibuat. Selain karena hengkangnya Jake Rodkin dan Sean Vanaman selaku tokoh penting yang berjasa dalam menyukseskan Walking Dead Season 1. Sistem manajerial yang buruk beserta kurangnya komunikasi antar atasan dan bawahan rupanya juga tak kalah berpengaruhnya bagi kondisi Telltale Games sekarang.

Sean Vanaman (kiri) dan Jake Rodkin (kanan)

Sedangkan untuk para karyawan sendiri, mereka pun akhirnya merasakan keletihan dan kejenuhan yang luar biasa akibat harus bekerja selama 14 hingga 18 jam sehari. Bahkan ketika mereka berhasil menyelesaikan satu proyek, tanpa adanya jeda istirahat para karyawan akan segera ditugaskan kembali untuk secara langsung mengerjakan proyek selanjutnya. Belum lagi makin diperparah dengan gaji yang ternyata tidak sesuai standar di kawasan San Fransisco. Meski Telltale sendiri menawarkan sebuah cuti, namun dikarenakan jadwal kerja yang sungguh padat, mengambil cuti di sini berarti sama saja dengan membebankan tambahan pekerjaan kepada para anggota tim yang lain. Tentunya hal ini akan berdampak ke makin renggang dan dinginnya hubungan antar karyawan di Telltale Games. Sehingga ujung-ujungnya tetap saja menjadi “mau lanjut atau keluar ?”.

Selain Rodkin dan Vanaman yang saat ini sudah keluar dan mendirikan studio game baru bernama Campo Santo yang dikenal akan gamenya yang berjudul “Firewatch“. Telltale juga sudah kehilangan beberapa tokoh-tokoh veterannya yang hijrah ke studio game lain, seperti Adam Hines yang pindah Night School Studio dan sudah menggarap game yang berjudul Oxenfree di tahun 2016, lalu ditambah dengan Dennis Lenart, Pierre Shorette, Nick Herman, dan Adam Sarasohn yang sama-sama sudah berbarengan pindah ke Ubisoft.

Gara-gara satu orang ?

Keluarnya tokoh-tokoh kunci Telltale tersebut rupanya memang berdampak pada hilangnya sosok kepemimpinan ideal yang dibutuhkan bagi studio mereka. Salah seorang mantan karyawan Telltale justru menyebut bahwa CEO mereka pada saat itu, yaitu Kevin Bruner adalah penyebab utama dari buruknya manajerisasi kerja di studio Telltale beserta mundurnya kualitas dari suatu karya yang telah mereka hasilkan. Mereka bahkan tak tanggung-tanggung menyebut Bruner sebagai orang yang sangat iri dengan kesuksesan Walking Dead Season 1 yang sudah dikerjakan oleh Rodkin dan Vanaman. Bruner juga dianggap sangat sering menginterupsi dan membatasi ide dari para bawahannya hingga memaki-memaki mereka dalam sebuah meeting review. Bahkan ada yang bilang bahwa keluarnya Rodkin dan Vanaman dari Telltale disebabkan karena sudah lelahnya mereka berdua untuk harus selalu berdebat dan berselisih paham dengan Bruner. Akibat dari galaknya sikap sang CEO tersebut, para karyawan pun diam-diam sampai memberikan Bruner julukan sebagai Sauron (Tokoh antagonis dalam Lord of the Ring).

Penilaian miring dari para mantan karyawan Telltale tersebut akhirnya dibantah oleh Bruner sendiri. Bruner menginfokan kepada The Verge melalui email bahwa ia ingin meyakinkan kepada semua orang di telltale bila semua hasil karya yang sudah dibuat di sini adalah hasil kerja dari para seluruh tim di studio, dan bukan karena satu, dua, ataupun sebagian orang saja. Lalu menanggapi tentang meeting review yang para mantan karyawan ungkapkan, Bruner juga membantah dan menegaskan jika meeting tersebut beliau anggap sangatlah penting. Karena dalam membuat sebuah game yang dikemas secara episodik, penilaian secara cepat harus segera dilakukan guna menghasilkan konten yang betul-betul maksimal.

Terlepas dari anggapan negatif para mantan karyawan terhadap Bruner, mereka mengakui bahwa Bruner juga sebenarnya berkontribusi secara positif untuk Telltale. Bruner sendiri memiliki latar belakang sebagai seorang programmer, ia sempat membantu membenahi suatu bentuk pemograman yang salah pada mekanisme gameplay sebuah game. Fitur yang menyebabkan munculnya “xxxxx will remember that” ketika pemain memutuskan sesuatu dalam game Walking Dead dan seterusnya adalah murni ide dari Bruner.

Berbicara tentang fitur, beberapa sumber justru menyebutkan bahwa selain Bruner, para karyawan mereka sendiri rupanya tidak memiliki ide guna mengembangkan karyanya. Mereka hanya terpaku atas kesuksesan Walking Dead dan menggunakannya sebagai tolak ukur utama dalam menciptakan game-game teranyar mereka. Seiring semakin besarnya Studio Telltale, hal ini justru malah menjadi sebuah lingkaran setan yang membelenggu dan membuat Telltale menjadi semakin stagnan. Semua orang yang baru bekerja di Telltale seakan menganggap Walking Dead sebagai buku resep saja tanpa memahami esensi dari apa yang harus bisa dikembangkan lewat game tersebut.

CEO baru, harapan baru

“Badai pasti berlalu”, mungkin ini adalah gambaran dari bagaimana sepak terjang Telltale dalam menyambut tahun 2017 lalu. Pada bulan Maret 2017 kemarin, Kevin Bruner akhirnya telah resmi mengundurkan diri dari Studio Telltale, dengan alasan bahwa ia menilai jika Telltale membutuhkan sebuah penyegaran di studionya. Keluarnya Bruner dari Telltale ini nampaknya membuat para karyawan bernafas lega. Produktivitas kerja mereka akhirnya menjadi jauh lebih baik semenjak saat itu. Para karyawan bisa dengan bebas mengeksplorasi hal-hal baru, tidak ada lagi revisi mendadak dari para atasan, ditambah dengan suasana lingkungan kerja yang juga menjadi lebih hangat dibanding sebelumnya.

Didapuk menjadi CEO sementara menggantikan Kevin Bruner, Dan Connors pada bulan September kemarin akhirnya memutuskan untuk mengangkat Pete Hawley sebagai seorang CEO baru yang akan siap untuk merevitalisasi kembali Telltale ke arah yang lebih positif. Pete Hawley sendiri sebelumnya dikenal sebagai mantan General Manager dari Zynga, developer yang dikenal dalam membuat game-game untuk jejaring sosial Facebook. Para karyawan Telltale tersebut sepertinya cukup antusias dengan terpilihnya Pete Hawley yang akan menjadi bos baru mereka.

Namun sekitaran 2 bulan setelahnya, Studio Telltale di bawah kepemimpinan Hawley secara mengejutkan memutuskan untuk memPHK 25% karyawannya (sekitar 90 orang). Tentunya banyak karyawan bersangkutan yang pastinya cukup terpukul dan sedih dengan kabar tersebut. Meskipun begitu, mereka rupanya memahami dan tidak menyalahkan keputusan Hawley dalam memberhentikan sebagian dari mereka. Hawley sendiri meyakinkan kepada para karyawan yang sudah diberhentikan untuk tidak perlu khawatir, karena ia menjanjikan bahwa gaji mereka akan tetap cair sampai di akhir tahun nanti. Lalu Hawley juga memberi kesempatan kedua kepada mereka kembali dalam sebuah acara Job fair yang Hawley adakan.

Para mantan karyawan yang berbicara kepada The Verge menyatakan bahwa aksi pemberhentian kerja tersebut memang lambat laun tidak akan bisa terhindarkan. Ini semua adalah bagian dari kesalahan Studio Telltale di masa lalu yang lebih memprioritaskan kuantitas dibanding kualitas. Disamping mereka cukup sedih karena sudah kehilangan pekerjaan di studio yang mereka cintai, namun mereka meyakini bahwa Hawley benar-benar melakukan apa yang dirinya harus lakukan guna membawa studio Telltale ke arah yang lebih maju, bukan mundur. Mereka cukup optimis bila tahun 2018 ini adalah era baru bagi studio Telltale dalam mengembangkan game-game yang lebih menakjubkan dan revolusioner, terutama game Walking Dead Season terakhir yang rencananya akan mereka rilis di tahun ini.

Sumber: The Verge

Written by Ido Limando

Just an ordinary gamer who currently in love with Warframe. Also Football, Badminton, and Pro Wrestling enthusiast. Contact: [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published.