4 Alasan Mengapa The Evil Within Tidak Sepopuler Resident Evil


61
61 points

Ini adalah Content Community. Gamebrott Community adalah wadah berbagi pengalaman, opini, dan hal lainnya dalam Industri Videogame. Content ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab creator bukan tanggung jawab Redaksi Gamebrott.

Kamu dapat membuat Content Community & dibayar ūüíĶ seperti yang Rafi 3L lakukan disini

Ketika mendengar nama Shinji Mikami, pikiran kalian pasti tertuju pada satu nama game survival horror raksasa: Resident Evil. Shinji Mikami merupakan seorang membesarkan nama Resident Evil dengan ide-idenya yang cemerlang seperti hadirnya 2 skenario pada RE2 dan perubahan kamera over the shoulder pada RE4. Beberapa tahun setelah meninggalkan Capcom, beliau kecewa melihat perkembangan game survival horror yang kian berubah arah menjadi game action(RE5, RE6, Dead Space 3, Silent Hill:Book of Memories), akhirnya dibawah studio baru(Tango Gameworks) beliau menciptakan The Evil Within.

Game ini digadang-gadang akan menjadi ‘true survival horror’ dan itu memang benar. Sayangnya ada banyak masalah dan kejanggalan dari dalam gamenya yang membuat fans survival horror pun sedikit kecewa dengan karya Shinji Mikami. Berbagai macam masalah ini membuat nama The Evil Within cepat menghilang, bahkan seri ke-2 nya pun hanya mengalami popularitas diawal peluncurannya. Jika dibandingkan dengan RE7 atau RE6, nama The Evil Within jarang terdengar gaungnya, mengapa demikian? Berikut adalah alasan yang mungkin menyebabkan nama The Evil Within tidak sebesar Resident Evil.


1. Story dan World Design Keren, Namun Tanpa/Minim Clue

Cerita pada The Evil Within sebenarnya berkutat pada organisasi rahasia (Mobius) yang ingin membentuk dunia baru yang bisa mereka kontrol sesuka hati, cerita seperti ini biasanya bisa anda temui pada game¬†war politic¬†seperti Ace Combat atau Metal Gear Solid. Terdengar keren memang namun dieksekusi dengan buruk, dunia yang anda jelajahi tidak memiliki konteks ‘dunia baru’ dan politik sama sekali, tidak ada¬†clue¬†atau¬†resemblance¬†dari monster atau dunianya. Bandingkan dengan RE atau Silent Hill dimana monsternya memiliki kesinambungan dan koneksi dengan story atau dunianya. Anda juga tidak akan pernah tau tempat apa yang anda pijak sampai anda menamatkan gamenya,¬†plot twist? More to plot hole maybe.¬†Setidaknya hal ini diperbaiki dalam seri ke 2 nya, meskipun masih ada beberapa hal yang tetap sama.

2. Main Antagonis Minim Motivasi

Salah satu motivasi terbesar untuk menyelasaikan campaign adalah antagonis utama, dimana mereka seharusnya membuat kekacuan besar dan membuat anda ingin menghabisinya. Sayangnya hal ini tidak berlaku dalam franchise The Evil Within(setidaknya sampai seri ke 3 muncul), antagonis utama di game ini terkesan hanya ingin bermain-main dengan anda sembari melihat anda tersiksa. Baik Ruben Viktoria maupun Stefano Valentini seperti tidak punya motivasi khusus dalam membangun suatu dunia penuh horror di franchise ini.

3. Supporting Character Lemah dan Namanya Sulit Diingat

Supporting chacter atau NPC berperan penting dalam untuk memberikan ‘kehidupan’ dalam suatu game, meskipun bukan game open world, absennya kehadiran mereka membuat game terasa kosong. The Evil Within punya supporting chacter yang cukup banyak untuk membuat game terasa hidup namun mereka lemah. Dalam konteks ini lemah ikatannya dengan protagonis utama dan pada player, mereka seperti hanya ‘tambahan’ untuk membuat game terasa lebih hidup. Namanya pun sulit diingat, seperti Tatiana Guiterrez, Joseph Oda, Leslie Wither, Julie Kidman dll.

4. Punya Beberapa Mekanisme Bodoh

Salah satu hal terpenting dalam game adalah gameplay, gameplay yang epik dengan aksesibilitas yang tinggi akan membuat anda betah memainkan game dengan story yang *ekhm* kurang penting sekalipun, contohnya Doom dan Just Cause series. Gameplay The Evil Within memang cukup membuat tegang karena memang disesuaikan dengan pengalaman survival horror yang sebenarnya, apalagi ditambahnya konsep semi open world yang kece abis pada seri ke 2 nya. Sayangnya ada beberapa mekanisme yang terhitung bodoh pada game besar seperti The Evil Within ini:

1. Stelth Kill HARUS dari belakang, semisal anda berdiri disamping pintu menunggu musuh masuk, saat musuh masuk anda tidak bisa menyerangnya dari samping. Hal ini belum diperbaikai di seri ke 2

2. Obor bersifat instant use. Ada waktu dimana kalian harus membakar musuh dengan korek api,apa jadinya kalau menggunakan obor? Pastinya anda bisa membakar lebih dari 1 musuh kan? Sayangnya tidak, obor ini bersifat sekali pakai dan akan langsung rusak saat anda gunakan untuk membakar mayat maupun menyerang musuh.

3. Kapak pun demikian.

4. Musuh dengan¬†pattern¬†yang tidak jelas, saat anda mendekati musuh dari belakang, musuh tersebut secara ‘ajaib’ bisa mengetahui anda dan langsung berputar untuk menyerang anda.

5. Punya pisau yang powerful namun malah menggunakan tinju atau popor senjata saat melakukan melee attack.


Tadi adalah beberapa hal yang(mungkin) menyebabkan The Evil Within kurang populer. Meskipun demikian, The Evil Within memang merupakan survival horror yang unik dan¬†pure.¬†Anda harus mencoba franchise ini sesekali agar anda bisa mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana survival horror yang ‘baik’ itu.¬≠


Like it? Share with your friends!

61
61 points

What's Your Reaction?

MARAH MARAH
1
MARAH
GEMES GEMES
0
GEMES
SEDIH SEDIH
1
SEDIH
WKWK WKWK
1
WKWK
Love Love
0
Love
OMG ! OMG !
0
OMG !
KEREN KEREN
0
KEREN
WTF ! WTF !
0
WTF !
Rafi 3L

Grand Master

0 Comments