Kenapa Film Adaptasi Terutama Dari Video Games Selalu Gagal ?


63
63 points

Ini adalah Content Community. Gamebrott Community adalah wadah berbagi pengalaman, opini, dan hal lainnya dalam Industri Videogame. Content ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab creator bukan tanggung jawab Redaksi Gamebrott.

Advertisements
[bsa_pro_ad_space id=1]

Kamu dapat membuat Content Community & dibayar ? seperti yang [gbauthorname] lakukan disini

Dari dulu sampai sekarang, dikalangan para fans ataupun para Gamer yang sangat fanatic, berlaku sebuah kutukan, bahwa sebuah film yang diadaptasi dari sebuah Games umumnya dan paling sering banyak kejadian adalah film-film tersebut tak akan pernah sesukses versi gamesnya, dan begitupun sebaliknya games-games yang diadaptasikan dari film-film Box-Office populer sekalipun tak akan pernah sukses.

Advertisements
[bsa_pro_ad_space id=1]

Seakan-akan ini seperti sebuah lingkaran setan yang tak akan pernah bisa dihilangkan sedari dulu. Dan sebenarnya hal ini juga berlaku dengan film-film adaptasi dari sebuah animasi Jepang( Anime ) yang di adaptasikan kedalam bentuk film Live-action oleh para sineas Hollywood, yang kebanyakan tak pernah sukses. Berbeda sedikit dengan Anime yang diadaptasikan ke dalam bentuk Live-action oleh sineas aslinya dari jepang sana, yang beberapa di antaranya bisa menembus kesuksesan yang cukup memuaskan, ini bisa dilihat dari Live-action Rurouni Kenshin( Samurai X ) yang film versi Live-actionnya sangat sukses dan populer dikalangan para fansnya hingga dirilis sampai menjadi sebuah trilogy( seri ke tiganya akan dirlis pada tahun 2020 besok ).

Tapi hal ini selalu berbanding terbalik dengan film-film adaptasi dari komik-komik superhero dari Marvel ataupun DC, yang selalu menuai kesuksesan baik secara domestic maupun internasional dan selalu disukai oleh berbagai macam kalangan. Tapi kenapa untuk adaptasi yang berhubungan dengan Videogames ke film ataupun sebaliknya dari film ke Videogames, selalu menemui kegagalan dan tak pernah sukses besar jika dibandingkan film-film yang diadaptasikan dari komik-komik terbitan Marvel ataupun DC. Padahal kalau kita telisik lebih jauh lagi film-film yang diadaptasikan ke dalam games umumnya film-film Box-Office yang sedang hits, begitupun sebaliknya games-games yang diadaptasikan kedalam film, umumnya games-games yang sangat populer dan sangat hits di kalangan para penggemarnya dan terbukti dari segi penjualannya pun gamesnya sangat sukses besar, tapi kenapa ketika diadaptasikan kedalam bentuk film terutama dalam format Live action movies, selalu gagal dalam hal penjualan tiket bahkan beberapa film ada yang bisa dibilang 100% gagal total dan hanya bisa meraup pendapatan yang tak begitu besar dari total keseluruhan bujet produksinya.

Sebenarnya hal ini simple saja, jika ditanyakan ke sebagian para fans bahkan seorang fanboy ataupun Gamer yang sangat fanatic adalah terlalu banyaknya suatu blunder atau perubahan yang sifatnya dipaksakan dari kebanyakan sebuah film adaptasi dari games maupun sebaliknya, yang membuat penontonnya yang kebanyakan adalah fans sejati dari games tersebut merasa aneh dan bingung ketika menyaksikan film adaptasi tersebut.

Tengok saja kejadian yang menimpa film adaptasi dari games platform populer sejagat yaitu Super Mario Bros, yang mana ketika film ini dirilis pada tahun 1993, film ini banyak diprotes oleh para fans fanatiknya, yang mana mereka merasa aneh dengan penampilan sang tokoh utama yaitu Mario dan Luigi, yang terlihat seperti karakter vilaiin yang sangat badass tipikal film-film action kelas berat macam Diehard. Belum lagi penampilan king Koopa yang dalam film ini di juluki President Koopa, yang mana wujudnya berubah dari semacam kura-kura purba menjadi manusia paling berkuasa dan kikuk yang diperankan oleh Aktor besar Dennis Hooper, apalagi setting tempat yang digunakan untuk film ini bergaya dystopia futuristic, yang mana ini sangat bertentangan dengan spirit yang terdapat di games aslinya, yang mana setting dunia Mario Bross adalah di sebuah dunia fantasi yang sangat indah dan juga lucu, yang mampu membangkitkan imajinasi dari para Gamer ketika memainkannya pada jaman dulu.

Dan ada lagi film adaptasi awal dari games J-RPG paling populer yaitu Final Fantasy, yang diberi subjudul Spirits Within, yang mana film ini sendiri bisa dikatakan gagal total selayaknya film adapatsi dari games Mario Bros. Ini dikarenakan, film yang menghabiskan Bujet produksi sebesar 137 juta dollar ini, banyak melakukan blunder dalam plot story maupun karakternya. Alih-alih para fans menantikan kemunculan karakter sekeren Squall, Cloud, ataupun Warrior Of Light, tapi para fans malah diberikan karakter yang entah dia ini muncul di games seri keberapa, yaitu seorang ilmuwan wanita yang bernama DR.Aki Ross, yang mana dalam filmnya karakternya disulih suarakan oleh Aktris Ming-Na Wen. Ditambah lagi film berformat CGI realistis ini, menawarkan cerita yang tak umum dikalangan penggemar Final Fantasy walaupun sama-sama menggunakan unsure fantasy dalam plot ceritanya, tapi blunder yang sangat banyak dan berlebihan ke dalam plot ceritanya inilah yang akhirnya membuat film ini hanya mendapatkan pemasukan sebesar 85,1 juta Dollar dari penayangannya di seluruh dunia, dan pendapatan film ini hanya mampu mengembalikan setengah dari bujet produksinya dan tak mendapatkan keuntungan sama sekali alias gagal total.

Sebenarnya film adaptasi dari Anime pun banyak yang mengalami blunder apalagi jika sudah diberikan ke sineas Hollywood yang banyak seenaknya sendiri melakukan blunder dari sebuah cerita dari suatu maha karya, yang sebenarnya sudah sangat bagus, tapi malah dibikin hancur lebur dan menjatuhkan harapan para fansnya, yang mana membuat mereka hilang kepercayaan untuk menantikan sebuah film adaptasi dari anime populer, yang mana hal ini terjadi pada film live-action adaptasi dari anime Dragon Ball yang memiliki subjudul Evolution. Bahkan sempat tersiar kabar, ketika film ini mau memasuki fase pra produksi, banyak orang-orang dari belakang layar animenya, tidak boleh ikut campur sama sekali pada saat proses kreatif dan produksi film ini berlangsung, bahkan juga termasuk sang creator dari Dargon Ball itu sendiri, yaitu Akira Toriyama.

Jadi sebenarnya inti permasalahan dari suatu film adaptasi baik itu dari games maupun anime,  itu adalah banyaknya suatu blunder yang sering sekali terjadi baik tak disengaja maupun yang disengaja untuk dilakukan oleh sineas film itu sendiri, yang niatnya mereka mungkin mau menampilkan sesuatu yang berbeda untuk para fans, yang mana hal ini malah menjadi semacam boomerang untuk para sineas-sineas tersebut, dan menjadikan maha karya yang seharusnya sudah bagus dari awal, tapi karena di lakukan Blunder, malah menjadi gagal total.

Seharusnya para sineas-sineas film itu juga merenungi atau berpikir dulu diawal ketika mengadaptasikan suatu games ataupun Anime, mereka melihat kenapa games atau anime ini bisa sukses, ceritanya kenapa bisa sebegitu menarik, dan kalau memang dari awal plot dan karakteristik para tokohnya sudah sangat menarik bagi kebanyakn fans dan orang yang menonton maupun memainkan anime maupun games tersebut, lalu untuk apa dilakukan suatu perubahan besar-besaran lagi? Toh, para fans itu hanya ingin melihat tokoh-tokoh yang awalnya berasal  dari suatu imajinasi para kreatornya, menjadi benar-benar hidup dalam format Live-action dan mampu menampilkan cerita-cerita yang sangat dramatis maupun memorable, ketika mereka memainkan games ataupun menonton versi animenya dulu.

Dan hal inilah yang diharapkan menjadi landasan ke semua sineas-sineas film tersebut, terutama yang berasal dari Hollywood( yang memang sering banyak melakukan blunder terhadap adaptasi dari games maupun anime )untuk tak seharusnya melakukan blunder yang sangat berlebihan terhadap plot yang sudah ada dan sudah sangat menarik. Dan ini menjadi harapan dari para fans ketika melihat trailer film versi revisi final dari adaptasi games Sonic The Hedgehog( yang mana sebelumnya banyak fans mengkritik akan penampilan Sonic yang dibalut dengan teknologi CGI-Real )dan berharap film ini tak lagi atau malah meninggalkan spirit yang ada di gamesnya itu sendiri, dan kalau bisa malah harus dibuat semirip mungkin alurnya dengan versi yang ada di games. Ditambah lagi pengumuman pihak Disney baru-baru ini, yang berencana untuk mengadaptasikan anime Dragon Ball ke dalam versi Live action( lagi )dan mungkin dalam kasus ini, para fans boleh berharap besar, jika Disney tak akan membuat film yang keluar jalur terlalu jauh sekali dengan materi aslinya dari versi Anime maupun komiknya.

Dan sekarang bolehlah kita berharap, sebagai seorang fans ataupun Gamer sejati, menantikan film-film adaptasi dari games maupun anime, yang mendekati materi aslinya dan menuai kesuksesan selayaknya film-film Box-Office adaptasi dari Novel maupun komik superhero Amerika. Patut ditunggu semua itu, and whether in the future it will get better.


Like it? Share with your friends!

63
63 points

What's Your Reaction?

MARAH MARAH
0
MARAH
GEMES GEMES
0
GEMES
SEDIH SEDIH
0
SEDIH
WKWK WKWK
0
WKWK
Love Love
1
Love
OMG ! OMG !
1
OMG !
KEREN KEREN
0
KEREN
WTF ! WTF !
0
WTF !
bondymen

Grand Master

Hai perkanalkan Gue Bondy, seorang Gamer yang maniak dengan hal hal yang berbau fantasy dan dunia Geeks.. pokonya hidup Gue , always all about pop culture in life..

 

 

Btw, ngomong ngomong games kesukaan, hampir semua games di console gue mainin, tapi kalau mobile emang jarang banget, jadi bisa dibilang gue Gamer generasi X yang gemar dengan yang namanya mainin games di console dan Arcade..

Singkat kata, salam kenal semuanya...Salam Gamer

0 Comments