[Opini] Para Gamer Hanya Sapi Perah, Masa Depan Suram Industri Game?


69
69 points

Ini adalah Content Community. Gamebrott Community adalah wadah berbagi pengalaman, opini, dan hal lainnya dalam Industri Videogame. Content ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab creator bukan tanggung jawab Redaksi Gamebrott.

Advertisements
[bsa_pro_ad_space id=1]

Kamu dapat membuat Content Community & dibayar ? seperti yang [gbauthorname] lakukan disini

Untuk kalian gamer yang lahir di tahun 80 atau 90an pasti sangat merasakan perbedaan industri gaming pada saat ini dengan kondisi industri gaming pada tahun 2000an. Dulu ketika kita membeli sebuah game, kita mainkan, tamat, kita mendapatkan full experience dari game yang kita beli. Iya bisa di ibaratkan bermain game itu seperti menonton film atau membaca buku. Kita nikmati ceritanya, nikmati pengalamannya, endingnya. Semua itu kita dapatkan dalam satu kali transaksi. Mungkin jika ada kelanjutan atau cerita tambahan maka ada expansion pack yang menambah gameplay dan experience baru dari game yang kita mainkan.

Advertisements
[bsa_pro_ad_space id=1]

Season pass. Monetisasi yang lumrah di industri gaming saat ini.

Jika dibandingkan dengan awal 2000-an, kondisi industry gaming saat ini, secara bisnis, cenderung membaik, dilihat dari banyak nya developer indie, e-sport yang semakin populer, streamer game mulai menjadi mata pencaharian yang menjanjikan dan banyak hal lainnya. Tetapi dibalik hal-hal tersebut, ada beberapa hal yang  menurut saya mengkhawatirkan. Dalam beberapa tahun terakhir, bersamaan dengan meningkatnya popularitas gamen mobile kita bisa melihat pergeseran arah model industri gaming. Di awali dengan model-model game free to play di smartphone yang disisipi oleh seperti microtransaction, sistem gacha dan sebagainya. Keberhasilan monetisasi di platform mobile kemudian mulai merambah ke platform konsol dan PC. Developer dan Publisher, seperti Eidos, EA, Activion-Blizzard ramai-ramai menyuntikan elemen monetisasi pada game-game mereka, bahkan bahkan untuk game-game AAA title single player yang notabene berharga full price! Untuk game-game F2P saya rasa monetisasi bukanlah hal yang wajar, karena memang dari situlah sumber keuntungan developer game F2P, asalkan tidak berpengaruh pada kekuatan player, tentu agar tidak menjadi game yang Pay to Win atau P2W. Warframe adalah contoh game F2P yang bagus menurut saya. Saya tidak bilang semua monetisasi di game adalah hal buruk.

Monetisasi juga tidak selalu harus disikapi dengan skeptis. Dengan model yang tepat monetisasi tidak akan menjadi masalah, contohnya di Overwatch dan Warframe. Yang menjadi permasalahan sekarang banyak publisher dan developer yang terkesan serakah dalam memasarkan game nya dan itu terjadi bukan pada game F2P  tapi game full price yang berharga puluhan sampai ratusan dollar! Mungkin kalian masih ingat kontroversi loot box Star Wars Battlefront 2 rilisan EA 2017 lalu. Yang saat itu disinyalir mengandung unsur perjudian sehingga sempat di banned di beberapa Negara. Belum lagi EA saat itu mengunci karakter-karakter ikonik seperti Darth Vader. Nah, supaya player bisa mengunlock karakter-karakter tersebut, player harus menghabiskan waktu untung grinding paling tidak sekitar 40 jam atau jika player tidak ingin grinding, uang yang harus di habiskan untuk mengunlock karakter-karakter tadi bisa mencapai 2100 US Dollar atau sekitar 25 juta rupiah! Gila. Ya bayangkan kalian bermain Battlefront tapi tidak bisa memainkan Vader? Ibaratnya, kalian menonton film, untuk mengetahui cerita selanjutnya kalian harus mengulang-ngulang bagian awal dari film itu sampai 40 jam!  Saya tahu EA memang dari dulu terkenal dengan citra yang kurang baik tetapi saya juga tidak menyangka EA bisa seserakah itu. Tentu saja hal ini mengundang backlash yang masif dan bertubi-tubi. Beruntungnya backlash ini membuat EA sadar. EA terus melakukan perbaikan disana-sana sini membuat StarWars Battlefront 2 menjadi salah satu game yang layak dimainkan saat ini. Langkah EA ini patut diapresiasi.

Mictrotransaction di game full price dan single player? Seserakah itu kah developer game sekarang?

Sempat menjadi game paling dibenci. EA akhirnya merombak Battlefront menjadi salah satu game yang layak dimainkan saat ini

Contoh kasus lain adalah gagalnya Fallout 76 yang notabene adalah franchise besar dan legendaris. Fallout 76 bisa saya bilang adalah game terburuk dalam satu dekade ini. Kualitasnya tidak sebanding harganya. Penuh bug (Walaupun untuk bug ya itu sudah menjadi fitur untuk game-game Bethesda ^-^), dunia open world tanpa NPC, kualitas grafis yang tidak seindah promosinya (bahkan di beberapa keadaan masih lebih bagus Fallout 4), Loot rate yang rendah yang memaksa player untuk melakukan microtranssaction dan balancing yang buruk. Belum lagi kasus paket power armor yang tidak seperti diiklankan yang menurut saya udah masuk ke dalam ranah penipuan publik. Salah satu franschise besar yang berakhir menjadi game crash grab. Kenapa Bethesda tidak membuat Fallout 76 menjadi game F2P saja?

Kasus terbaru game dengan tingkat kekecewaan tinggi adalah Warcraft 3 : Reforged. Dimana W3:R mendapat rating metacritic hanya 0.5 (terakhir pada saat artikel ini di tulis) dari skala 100! Terendah dalam sejarah metacritic. Apa pasal? W3:R di gadang-gadang akan menjadi pemuas dahaga untuk para fans World of Warcraft yang sudah menanti remake WoW 3 selama 14 tahun. Tapi apa yang terjadi? Bug yang massif, ketidakbebasan player untuk membuat custom map, grafis yang tidak sesuai seperti di Blizcon 2018 dan masih banyak lagi membuat fans WoW geram. Tidak disangka developer sekelas Activision-Blizzard saja mulai kehilangan arah dan idealismenya. Ya, lagi-lagi franschise besar yang berakhir menjadi game cash grab.

Sedih rasanya melihat game sekelas World of Warcraft harus mendapat rating sekecil itu

Ya industri game bergerak ke arah yang menguntungkan bagi investor. Jaringan internet yang semakin luas dan kencang membuat proses microtransaction, penjualan season pass, pre-order game jadi semakin mudah. Dan memang microstransaction memang menjadi salah satu pemasukan tertinggi untuk developer dan publisher. Sebagai contoh EA. Terlihat dari grafik pendapatan EA di bawah, pendapatan terbesar EA adalah berasal dari microtransaction. Begitupun untuk konsol, terlihat bahwa gamer juga nyaman dengan adanya microtransaction. Jadi sudah terlihat kemana arah industri gaming saat ini. Satu model menguntungkan, maka model itulah yang akan diikuti.  Saya tekankan, saya tidak anti dengan microtransaction. Yang ingin saya tekankan adalah ada beberapa developer yang memanfaatkan ketidaktahuan gamer (terutama gamer-gamer muda) dan awam untuk mengeruk keuntungan, apalagi memanfaatkan  game-game yang legendaris dan punya nama besar yang berakhir hanya menjadi mesin uang.

Keuntungan terbesar EA adalah berasal dari microstransaction. Jika satu model bisnis terbukti berhasil maka model bisnis tersebut akan diikuti oleh perusahaan lain

 

Secara global mayoritas gamer juga menyukai dan nyaman menggunakan microtransaction

Sedih rasanya ketika menyadari banyak publisher dan developer kesayangan kita yang seperti sudah kehilangan passion dalam membuat game dan hanya membuat game untuk memeras para gamer, tidak peduli dengan para gamer. Ya secara keuangan industry game membaik, secara grafis game-game semakin cantik, teknologi gaming semakin maju. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang gamer seperti saya, kasus-kasus di atas adalah suatu kemunduran yang harus segera di koreksi. Franschise seperti Fallout 76, Mass Effect : Andromeda, Diablo 3 mana yang mendapat praise yang lebih baik dari pendahulunya? Tidak ada. Walaupun dengan kondisi seperti di atas masih ada beberapa developer yang masih waras dan gamer minded seperti CDProjekt yang berhasil membuat The Witcher 3 + 2 DLC yang masing-masing menambah gameplay sampai 50 jam dengan harga hanya 20 USD alih-alih hanya menjual season pass yang hanya menambah beberapa jam. Salah satu contoh monetisasi game yang bagus.

 

The Witcher 3 dengan dua DLC nya, Heartstone dan Blood and Wine. Salah satu contoh developer yang membuat game dengan passion yang sayangnya semakin jarang ditemukan saat ini

Akhirnya penulis berharap agar-agar gamer seperti kita dapat bersuara dengan keadaan ini. Karena sebenarnya arah industri game adalah kita sebagai gamer yang menentukan. Jika kita hanya diam saja, melihat developer game besar membuat game asal jadi dan game-game kesayangan kita hanya menjadi cash grab belaka, maka mungkin saja kedepannya tidak ada lagi game-game bagus yang di buat oleh orang yang mencintai game dan memikirkan gamer.  Membaiknya StarWars Battlefront 2 bisa menjadi contoh bahwa gamer bisa melawan balik dan bukan hanya sekedar sapi perah.


Like it? Share with your friends!

69
69 points

What's Your Reaction?

MARAH MARAH
0
MARAH
GEMES GEMES
0
GEMES
SEDIH SEDIH
0
SEDIH
WKWK WKWK
0
WKWK
Love Love
0
Love
OMG ! OMG !
0
OMG !
KEREN KEREN
0
KEREN
WTF ! WTF !
0
WTF !
agiemaliki

Elite

0 Comments