Cuphead Review – Lebih dari Sekedar Game, Ini Seni

in , , ,

Gameplay yang brutal tapi tak ada istilah “tak adil”

Trust nobody, not even yourself

Gameplay dari Cuphead pada dasarnya sama saja dengan kebanyakan platformer shooter lainnya seperti Megaman, Contra atau Metal Slug. Akan tetapi Cuphead lebih fokus dengan aspek boss battle ketimbang platforming. Game tawarkan 19 boss (belum termasuk sub-boss di finale kasino) , 6 level run & gun dan 3 level Mausoleum.

Untuk soal bos mungkin saya tak perlu jelaskan lagi karena tak dibahas diatas. Namun untuk level run & gun, jujur saya sedikit kecewa. Tak hanya jumlahnya yang sedikit, tetapi juga semuanya tak sebagus level bos. Mereka sempat tunda game ini satu tahun untuk tambahkan level platforming ini, namun hasilnya tak seapik ekspektasi khususnya setelah melawan kumpulan boss yang kreatif yang ditawarkan game. Bukan berarti run & gun tak bagus sama sekali, level masih terlihat cantik untuk dilihat namun game lebih andalkan “kasih musuh tanpa henti atau kasih yang susah mati” untuk buat sulit level ini ketimbang membuat desain “platforming” yang menantang.

Kebanyakan ide kreatif mereka tampaknya lebih banyak dikeluarkan ke desain musuh ketimbang desai level itu sendiri. Dan untuk level Mausoleum sendiri, semuanya sama hanya dengan variasi hantu yang berbeda, tapi yang level jenis ini tak bisa dikomplain terlalu banyak karena hanya sebagai level tambahan untuk dapatkan power-up baru.

All styles but no substance

Apabila ada satu hal yang kita semua bisa setujui dari game ini, maka kita semua setuju jika Cuphead itu susah minta ampun. Banyak orang yang mengecap game ini sebagai “Dark Souls Platformer” karena sama-sama sulit, sama-sama fokus dengan bos. Apakah dua hal tersebut membuat Cuphead pantas disebut “Dark Souls Platformer“? Iya… jika Dark Souls adalah satu-satunya game susah yang kamu kenal dalam 35+ tahun gaming terakhir. Intinya adalah stop bandingkan game apapun dengan Dark Souls hanya karena game tersebut sulit, tolong.

Kembali bicara soal gameplay game ini, Cuphead dibuat sulit dengan cara kamu dipaksa pelajari semua hal dari musuh yang kamu hadapi. Semua serangan dari musuh bisa dielak asalkan kamu cekatan dalam mengontrol Cuphead atau Mugman. Semua boss punya trik tersendiri untuk bisa dikalahkan, kamu hanya perlu pelajari gerak-gerik tiap bos ini dan mengeksekusinya dengan baik. Apabila kamu kuasai dua hal tersebut, game terlihat seperti mengambil permen dari anak kecil.

Game tak punya checkpoint ataupun cara untuk mengisi ulang HP, maka kamu dipaksa untuk terus belajar dari tiap kesalahan dan jika gagal, kamu harus ulang dan tingkatkan lagi skill-mu. Berkurang 1 HP saja sangat krusial di game ini. Tak hanya karena kamu diharuskan lebih hati-hati agar tak mati, banyaknya HP yang kamu miliki juga pengaruhi skor di akhir level. Apabila kamu pengejar skor tinggi, maka kamu harus bertahan tanpa tersentuh sedikitpun, dan jika kamu berhasil melakukan demikian pada semua bos kamu nantinya akan dihadiahi tapi takkan kami beri tahu apa kejutan tersebut.

Close enough for A+

Apabila ada satu hal yang harus saya benar-benar komplain dari game ini, itu adalah bos terakhir. Tanpa menyebutkan siapa, bos terakhir ini terlalu mudah dikalahkan, membuat penutup game terasa antiklimatik. Fase utamanya lumayan sulit dan butuh timing yang pas untuk hindari semua serangannya. Namun fase 2 dan 3 dari bos akhir ini sangat amat mudah, khususnya apabila dibandingkan bos sebelumnya yang mungkin menjadi bos tersulit di sepanjang game. Dari aspek visual, bos ini tergolong pas karena terlihat gelap dan apik, sayangnya terlalu mudah dikalahkan karena semua serangannya mudah dihindari serta terlalu sebentar di fase 2 dan 3.


Komposisi musik jazz yang luar biasa

Petualanganmu bermain Cuphead akan ditemani dengan musik Jazz oleh komposer Kristian Maddigan. Hanya satu kata yang bisa saya katakan: “Wow”.

Musik di game ini mungkin menjadi soundtrack game terbaik di 2017. Bukan sekedar karena saya senang musik jazz, tapi lebih dikarenakan betapa catchy, bervariasi, penuh nostalgia dan juga pas musik yang dibawakan dengan tema kartun 1930-an yang game bawakan. Soundtrack bundle dari game ini benar-benar recommended apabila kamu punya uang tambahan.

Dari detik pertama kamu mulai game, kamu langsung diiringi musik jazz yang begitu smooth, kamu akan terganggu dalam membaca teks cerita di game. Komposisi nada yang dihasilkan dari trombon, piano, drum dan lain-lainnya dari soundtrack game ini begitu asik hingga membuat pemain bisa saja sengaja mati di bos atau diam di map overworld lebih lama hanya untuk mendengarkan musik tersebut sampai habis. It’s just that f*cking good.  Untuk Kris Maddigan dan semua pmusisi yang terlibat dari soundtrack game ini, Bravo, kalian telah ciptakan salah satu koleksi musik terbaik yang layak dikoleksi oleh gamer dan bahkan pecinta musik pada umumnya.


Kesimpulan: Cuphead buktikan game bisa jadi seni

Thanks, Studio MHDR

Game mungkin bisa diselesaikan dalam 2 jam apabila kamu tak pernah mati sama sekali, dan juga 80% game diisi oleh boss battle. Namun tetap saja saya puas dengan semua konten yang saya dapatkan dari game ini. Uang Rp135,999 yang saya berikan rasanya sangat sedikit. Bahkan saya merasa seperti kriminal untuk hanya membayar sedikit itu untuk salah satu pengalaman gaming terunik yang saya dapatkan tahun ini.

Cuphead lebih dari sekedar game, Cuphead bisa digolongkan sebagai seni meski dengan kekurangan yang game ini miliki. Saya tak sabar untuk game selanjutnya dari Studio MHDR dan saya takkan segan menandatangani soul contract untuk dapatkan game selanjutnya dari Malhenhauer bersaudara.

Muhammad Maulana

Written by Muhammad Maulana

Seseorang yang menghabiskan waktunya mengamati Video Game dan Film.