Dragon Ball Z: Kakarot Review – Nostalgia Nanggung Akira Toriyama


Sebelum banyak sekali lahir komik shonen, yakni komik yang diperuntukkan untuk anak lelaki di Jepang. Dragon Ball merupakan salah satu judul yang paling disegani di masanya. Ia menceritakan seorang anak keturunan bangsa Saiya bernama asli Kakarot yang diubah namanya menjadi Son Goku oleh Son Gohan, kakek yang menemukan Kakarot kecil dari pesawatnya. Alih-alih menjadi jahat seperti misi yang diberikan bangsa Saiya padanya, Goku justru menjadi anak baik yang kita cintai hingga detik ini. Karya Akira Toriyama tersebut sontak sukses di Jepang dan menjadi fenomena di dunia berkat kepopulerannya. Ia juga menjadi kiblat para komikus lain untuk membuat genre yang sama dengan cerita yang berbeda.

Kepopuleran Dragon Ball hantarkannya untuk diadaptasi ke berbagai media lain selain komik. Satu yang pasti adalah anime, yang kemudian dilanjutkan ke video game yang kala itu ditangani oleh Bandai sebelum bergabung dengan Namco menjadi Bandai Namco.

Namun sejak berakhirnya seri Z, Bandai Namco jarang sekali mengangkat game Dragon Ball untuk fokus pada cerita utamanya, khususnya Z yang menjadi puncak kesuksesan Toriyama dan serinya. Mereka justru membuat game dengan fokus lain sembari menyempurnakan mekanik pertempurannya. Salah satunya adalah Dragon Ball FighterZ dan Xenoverse. Namun tidak untuk seri teranyarnya, Dragon Ball Z: Kakarot yang sangat fokus pada mekanisme action RPGnya.

Lalu, bagaimana CyberConnect2 dan Bandai Namco mampu merepresentasikan cerita Z di Dragon Ball Z: Kakarot pada para fansnya dengan dukungan dan bantuan langsung dari kreatornya, Akira Toriyama sendiri?

Dari Drama Kakak Hingga Melawan si Merah Jambu

Raditz akan menjadi boss pertama yang harus kamu hadapi untuk melanjutkan cerita.

Dragon Ball Z: Kakarot sendiri menceritakan kisah Z yang terbagi atas empat saga: Raditz, Frieza, Cell, dan Majin Buu sebagai kisah penutup Z. Bagi kamu yang pernah mengikuti anime maupun manganya, maka kisah mereka bukan yang pertama bagimu. CyberConnect2 merepresentasikannya dengan sangat baik karena semua elemen animenya dibuat ulang, termasuk adegan-adegan ikoniknya. Mulai dari kemunculan kakak kandung Goku yakni Raditz hingga bagaimana pertempuran epik melawan Frieza. Tenang, mereka tidak akan membuatmu berlama-lama menunggu saganya berakhir karena disingkat dengan cukup baik. Perlihatkan adegan ikonik dan pentingnya saja. Sebuah persembahan yang sangat dinantikan oleh fans Dragon Ball di seluruh dunia untuk gamenya.

Tentunya hal ini bukan lekas menjadikan gamenya menganut kisah yang sama persis sampai sedetail mungkin. Hal ini mengingat beberapa adegan yang mungkin bagi sebagian dirimu memberikan “greget”-nya Dragon Ball dihilangkan. Misalnya saja adegan kerasnya latihan Goku dan kawan-kawan, atau adegan saat Cell datang meneror semua warga bumi sebelum menyelenggarakan Cell Game yang sangat dipersingkat.

Adegan kisah cinta Bulma x Yamcha x Vegeta juga tidak mereka sajikan, tak menjelaskan sama sekali kenapa Trunks lahir. Padahal di kisah aslinya terdapat drama antara ketiganya yang bisa menjelaskan asal muasal Trunks. Pernikahan Vegeta dan Bulma juga tak direpresentasikan. Terlebih kisah lahirnya Marron dan hubungan antara Krilin dan Android 18. Membuatmu bakal bertanya-tanya, kapan mereka menikah.

Meskipun bisa dinikmati dengan sangat enjoy, namun fakta bahwa beberapa adegan yang hilang membuatnya jadi kurang greget dan lengkap.

Pertempuran konyol Trunks dan Goten saat Tenka Ichi Budokai melawan Android 18 saat mereka menyamar sebagai Mighty Mask juga sepertinya dipotong begitu saja dan langsung lanjutkan cerita serius Babidi dkk. Terkesan bermain aman dengan adegan ikonik yang telah sering mereka munculkan di seri sebelumnya. Seharusnya mereka bisa menghadirkan beberapa adegan unik, konyol, maupun yang lain demi terciptanya “kejelasan” dan elemen “entertainment” yang lebih detil bagi para pemainnya. Saya melihat ceritanya seperti tak miliki character progression sama sekali untuk karakter selain yang paling penting yakni tokoh utama. Mereka hanya berkutat pada adegan yang itu-itu saja dan tak mencoba untuk berikan yang lain karena seolah bermain aman.

Android 21 yang dikenalkan di Dragon Ball FighterZ juga akan muncul di sini, namun dengan nama “Female Researcher”. Ia tak miliki peran apapun selain menjadi penjaga training ground di rumah Bulma.

Beberapa karakter seperti Nam, Eighter (Delapan kalau di terjemahan komik resmi bahasa Indonesianya), hingga karakter orisinal Akira Toriyama yang tak muncul sama sekali dalam anime maupun manganya juga ada di sini. Salah satunya adalah Bonyu, satu-satunya mantan anggota perempuan squad captain Ginyu dan Android 21 yang muncul sebagai staff dari Capsule Corporation dengan nama “Peneliti”. Ya, hanya “peneliti. Namun ia memiliki desain yang sama persis dengan Android 21 di game Dragon Ball Fighte