Epic Games: Kami Janji Tidak akan Mengeksklusifkan Game secara Terus-Menerus

in ,
Jelaskan pula alasan dibalik pemberlakuan praktik yang kontroversial itu

Eksklusif telah menjadi satu headline utama yang mengiringi munculnya Epic Games Store. Dengan wacana untuk menjadikan platform penjualan game digital PC terbarunya itu sebagai saingan kuat bagi Steam, mereka melakukan suatu langkah yang terlihat efektif, namun memiliki dampak yang sangat kontroversial. Pemberlakuan kontrak pemasaran eksklusif untuk sejumlah game selama setahun (Timed Exclusive) benar-benar telah menimbulkan suatu kegemparan yang luar biasa bagi para mayoritas gamer-gamer PC.

Banyak dari mereka yang sudah merasa nyaman di platform tertentu sangat amat mengecam keras aksi yang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh pihak Epic Games. Seruan boikot beserta dengan pandangan-pandangan sinis nampak  juga selalu menghiasi perusahaan pencipta game Fortnite tersebut. Semuanya itu memang dilatarbelakangi dari munculnya suatu sistem bagi hasil yang terlampau lebih menggiurkan dan adil. Dimana Epic Game Store hanya mempajaki pendapatan semua developer dengan presentase 12% saja, berbeda dari Steam yang bisa mengemplang pendapatan hingga 30% lewat bonus 25% dan 20% apabila developer game tersebut mampu meraih angka penjualan sebesar 10 dan 50 juta dollar.

Dari perspektif Epic Games sendiri, selain demi menegaskan bahwa mereka cukup punya power di bidang ini, mereka sebenarnya juga cukup sadar bila kebijakan yang sedang Epic bawa memang terkesan cukup ekstrim dan kejam bagi sebagian besar konsumen. Akan tetapi, berdasarkan klarifikasi yang sudah Epic Games ungkapkan dalam acara GDC kemarin, positifnya mereka telah menjamin bahwa aturan pengeksklusifan ini tidak akan selamanya digalakkan. Dimana kabar ini setidaknya bisa membuat mayoritas para gamer-gamer PC sedikit lega (sedikit ya tapi).

Kami sama sekali tidak mungkin bisa menjalankan praktik kontrak eksklusif secara terus-menerus atau bahkan selamanya. Kami hanya melakukan ini untuk sementara saja demi menolong banyak orang (developer) untuk bisa cepat tumbuh dan berkembang.

Saya pribadi mengerti banyak yang merasa sentimen sekali terhadap hal ini. Tapi kami bisa pastikan bahwa suatu saat nanti akan semakin sedikit hingga bahkan tidak ada sama sekali game-game eksklusif yang kami bawa di hadapan mereka.

– Steve Allison, Kepala Epic Games Store

Sementara mantan pendiri Steamspy, Sergei Galyonkin yang kini berperan sebagai publishing strategy director dari Epic Games Store menjelaskan bahwa para timnya ingin mencoba memberikan suatu terbososan baru lewat kehadiran sistem ini.

Kami ingin mensosialisasikan suatu model finansial baru kepada pihak developer supaya mereka tidak hanya bisa bertahan saja di industri ini, tapi juga TUMBUH. Bagi sebagian developer, mendapatkan untung hingga setengah juta kopi itu sudah sangatlah besar. Namun dalam situasi kebijakan 70/30, bergantung dari situasi pemasaran ataupun strukturisasi biaya yang harus mereka keluarkan, hal ini justru malah bisa membuat mereka stagnan ketimbang berkembang.

Jadi, kami ingin menuntun mereka agar bisa sampai ke fase sana. Dalam perspektif bisnis, mereka (developer) ingin melihat apa yang bisa mereka lakukan dalam bisnisnya. Sebut saja bila mereka memasarkan gamenya di 5 toko digital sekaligus dengan 4 toko yang mengadopsi kebijakan 70/30 dan 1 toko seperti kami yang memberlakukan 88/12. Dimana hasil pendapatan mereka pasti akan tersebar dalam proporsi yang bermacam-macam bukan ?

Jika banyak dari mereka mendapat omset bersih kurang dari 70% dari total hasil penjualan kotornya, pihak penjual biasa akan mendapat suatu tekanan yang membuat mereka sulit untuk memfokuskan diri dalam berkembang. Dari sana, kami memang ingin mengubah pola pikir developer dengan memastikan bahwa seluruh hasil penjualan game mereka hanya bisa terorientasi secara maksimal di tempat kami (Epic Games Store).

Sergei Galyonkin, Director of Publishing Strategy

12% cuma bohongan atau tidak ?

Dengan menjunjung tinggi biaya pajak 12%, Epic Games melalui sang CEO Tim Sweeney juga menjamin bahwa jumlah presentase ini sama sekali tidak akan pernah berubah baik itu secara naik ataupun turun. Demi menangkal tudingan bahwa 12% terdengar tak masuk akal atau hanya siasat sementara, beliau menjelaskan bila angka tersebut sudah dianggapnya sangat pas dan akan menjadi angka yang permanen.

Jumlah 12% ini kabarnya terpecah untuk keperluan-keperluan berikut:

  • 6.5% untuk masuk di kantong Epic
  • 3,5% untuk proses pembayaran
  • Sekitar kurang lebih 1% untuk pemakaian CDN Bandwith
  • 1% lagi untuk customer service

Kami sudah lama mengoperasikan bisnis komersil kami di game Fortnite selama lebih dari setahun dalam skala yang besar. Kami dan para tim sangat paham dengan biaya pengeluaran yang harus saya keluarkan.

Sehingga dari hal itu, saya cukup yakin bahwa kebijakan 12% benar-benar sudah masuk dalam perhitungan kami dan kami tidak akan pernah sekalipun meningkatkannya.

Tim Sweeney, CEO Epic Games

Melihat hal tersebut, bagaimana langkah strategi dari pihak Steam sendiri dalam menghadapi komepetitor kuat satu ini jelas merupakan hal yang patut ditunggu.

Sumber: PCgamer


Baca pula informasi lain terkait Epic Games Store, beserta dengan cerita-cerita menarik seputar video game dari saya, Ido Limando.

Ido Limando

Written by Ido Limando

Just an ordinary gamer who currently in love with Warframe. Also Football, Badminton, and Pro Wrestling enthusiast. Contact: [email protected]