[First Impression] The Division 2 – Seri Pertama yang Seharusnya Dibuat

in

Berbenah diri dan terus berkembang, dua kata itu menjadi acuan utama Massive Entertainment atau Ubisoft Massive dalam mengembangkan Tom Clancy’s The Division 2. Jika prekuelnya kita harus menghadapi fraksi jahat hingga musuh yang cukup tidak masuk akal (helikopter) di New York, kali ini serinya mengajak kita untuk membenahi kota Washington DC dari keterpurukan.

Selayang pandang, game ini tak jauh dari seri sebelumnya dengan beberapa mekanik yang sama persis. Dunianya kini didesain dengan sangat detil dan lebih hidup dengan menambahkan pernak-pernik kecil yang jamin buatmu berlarut-larut di dalamnya. Aktifitas dan misi yang lebih padat, akan sibukkanmu bahkan untuk menguak misteri sembari mencari equipment terkuat demi mengalahkan para NPC musuh. Setidaknya itulah yang saya alami setelah kurang lebih 30 jam mengeksplorasi dunianya.



Markasmu terbagi tak hanya satu, namun lebih dari 2 markas. Berimu lebih banyak tugas untuk membangun komunitas yang ada di dalamnya. Mulai dari merekrut beberapa NPC untuk mengakses beberapa tempat tertentu atau membantumu bertempur, hingga crafting senjata yang menjadi kunci utama gamenya. Misi yang diberikan demi membangun komunitas tersebut memang tak sedikit yang terkesan monoton, namun variasi dan tipenya yang beragam lengkap dengan beberapa bagian kecil elemen yang menjelaskan apa yang terjadi di dunianya jaminmu tak bosan-bosan untuk melakukannya lagi dan lagi. Membuat saya nyeletuk, “Harusnya begini seri pertamanya” saat memainkannya.

Tentunya membangun komunitas dan merestorasi para warga sipil Washington bukan hanya menjadi misi utamamu saja, namun memberantas para grup antagonis juga menjadi prioritasmu. Seiring berjalannya waktu, kamu akan dihadapkan dengan banyak sekali musuh yang semakin lama semakin sulit. Tak terkecuali para “elite” yang miliki armor super tebal dan wajib dihancurkan sebelum pelurumu bisa memberikan mereka rasa sakit hingga akhirnya mati. Munculnya elite tentunya dibarengi dengan musuh lain yang tak hanya satu. Memaksamu untuk terus berlindung di balik reruntuhan, tembok, atau peti, dan mengatur strategi musuh mana yang harus kamu bunuh demi terselesaikannya misimu.

30 jam memang bukan waktu yang singkat bagi saya untuk berikan setidaknya setengah dari pengalaman saya saat memainkan gamenya. Perjalanan masih panjang, namun sejauh mata memandang gamenya dikerjakan dengan sangat baik dan jauh lebih baik dari seri pertamanya. Saya sebenarnya sudah bisa memberikan spoiler kontennya sekarang juga, namun sepertinya harus saya simpan hingga review saya usai.

SSSH! 30 jam pengalaman saya belum tamat cerita utamanya, dan level 30 bukan jadi level maksimal. Oke, cukup, saatnya main lagi. Sementara, kamu bisa menikmati beberapa screenshot yang saya berikan di bawah.

Ayyadana Akbar

Written by Ayyadana Akbar

Senior Writer and Video Editor. Weird and have passive ability to easily forgotten by people. Multi-platform gamer with PC as his main platform while PlayStation in the second. RPG, MMORPG (any nation), JRPG (JP, EN), FPS, TPS are his main courses. Moving forward, not backward, and evolving without too long dwelling to the past. Open to try new video games, but still hooked by Apex Legends.

Contact him at [email protected] or click one of his social media accounts below (Read his article and scroll until you found this profile).