[First Impression] The Division 2 – Seri Pertama yang Seharusnya Dibuat


Follow Us

Berbenah diri dan terus berkembang, dua kata itu menjadi acuan utama Massive Entertainment atau Ubisoft Massive dalam mengembangkan Tom Clancy’s The Division 2. Jika prekuelnya kita harus menghadapi fraksi jahat hingga musuh yang cukup tidak masuk akal (helikopter) di New York, kali ini serinya mengajak kita untuk membenahi kota Washington DC dari keterpurukan.

Nulis artikel dibayar

Selayang pandang, game ini tak jauh dari seri sebelumnya dengan beberapa mekanik yang sama persis. Dunianya kini didesain dengan sangat detil dan lebih hidup dengan menambahkan pernak-pernik kecil yang jamin buatmu berlarut-larut di dalamnya. Aktifitas dan misi yang lebih padat, akan sibukkanmu bahkan untuk menguak misteri sembari mencari equipment terkuat demi mengalahkan para NPC musuh. Setidaknya itulah yang saya alami setelah kurang lebih 30 jam mengeksplorasi dunianya.

BACA JUGA  Tom Clancy’s Rainbow Six Quarantine Dapatkan Tahun Rilis Pasti!


Markasmu terbagi tak hanya satu, namun lebih dari 2 markas. Berimu lebih banyak tugas untuk membangun komunitas yang ada di dalamnya. Mulai dari merekrut beberapa NPC untuk mengakses beberapa tempat tertentu atau membantumu bertempur, hingga crafting senjata yang menjadi kunci utama gamenya. Misi yang diberikan demi membangun komunitas tersebut memang tak sedikit yang terkesan monoton, namun variasi dan tipenya yang beragam lengkap dengan beberapa bagian kecil elemen yang menjelaskan apa yang terjadi di dunianya jaminmu tak bosan-bosan untuk melakukannya lagi dan lagi. Membuat saya nyeletuk, “Harusnya begini seri pertamanya” saat memainkannya.

BACA JUGA  Konten Gratis Episode 1 Tom Clancy’s The Division 2 Dapatkan Tanggal Rilis! (Spoiler Alert)

Tentunya membangun komunitas dan merestorasi para warga sipil Washington bukan hanya menjadi misi utamamu saja, namun memberantas para grup antagonis juga menjadi prioritasmu. Seiring berjalannya waktu, kamu akan dihadapkan dengan banyak sekali musuh yang semakin lama semakin sulit. Tak terkecuali para “elite” yang miliki armor super tebal dan wajib dihancurkan sebelum pelurumu bisa memberikan mereka rasa sakit hingga akhirnya mati. Munculnya elite tentunya dibarengi dengan musuh lain yang tak hanya satu. Memaksamu untuk terus berlindung di balik reruntuhan, tembok, atau peti, dan mengatur strategi musuh mana yang harus kamu bunuh demi terselesaikannya misimu.

BACA JUGA  Gods & Monsters akan Jadi Game Baru Ubisoft yang Terinspirasi dari Zelda

30 jam memang bukan waktu yang singkat bagi saya untuk berikan setidaknya setengah dari pengalaman saya saat memainkan gamenya. Perjalanan masih panjang, namun sejauh mata memandang gamenya dikerjakan dengan sangat baik dan jauh lebih baik dari seri pertamanya. Saya sebenarnya sudah bisa memberikan spoiler kontennya sekarang juga, namun sepertinya harus saya simpan hingga review saya usai.

SSSH! 30 jam pengalaman saya belum tamat cerita utamanya, dan level 30 bukan jadi level maksimal. Oke, cukup, saatnya main lagi. Sementara, kamu bisa menikmati beberapa screenshot yang saya berikan di bawah.


Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item