Harga Saham Nintendo – Nintendo dikenal sebagai perusahaan video game besar yang sudah berjalan sangat lama dan masih aktif menghadirkan berbagai macam produk mereka, mulai dari hardware, game, sampai merchandise-merchandise resminya.
Sementara itu ada laporan yang menyebutkan kalau harga saham perusahaan ini disebut-sebut mengalami penurunan dalam 5 bulan terakhir ini. Benarkah itu?
Kronologi Harga Saham Nintendo Turun Hingga 33 Persen dalam Lima Bulan Terakhir

Sampai penutupan perdagangan di hari Selasa, saham Nintendo berakhir di level ¥9,950 (sekitar Rp1 juta). Angka tersebut menjadi momen pertama kalinya harga saham mereka turun lagi ke bawah ¥10,000 sejak April 2025.
Penurunan tersebut terjadi setelah sebelumnya saham Nintendo sempat mencetak rekor tertinggi pada musim panas lalu dengan menyentuh ¥14,795 (sekitar Rp1,5 juta), level tertinggi yang pernah dicapai perusahaan di sepanjang sejarahnya.

Naik turunnya harga saham di industri game sebenarnya hal yang wajar. Tapi penurunan yang terjadi kali ini begitu cepat hingga di titik membuat para investor waswas. Terlebih, belum ada ketidakpastian soal harga Switch 2 ke depannya, margin keuntungan hardware dan seperti apa jajaran game first-party di 2026.
Menurut laporan GameSpark, Nintendo sedang melemah di bursa saham Jepang di mana dalam lima bulan terakhir, penurunannya saham Nintendo bisa mencapai sekitar 33 persen terhitung pada saat artikel ini ditulis (17/1). Investor terlihat waswas karena ada potensi kenaikan harga Switch dan minimnya game besar buatan Nintendo sendiri.
Masalah Dihadapi Nintendo

Sejauh ini, perusahaan game asal Jepang itu baru mengumumkan lima game first-party untuk 2026 yaitu Mario Tennis Fever, Pokemon Pokopia, Tomodachi Life: Living the Dream, Yoshi and the Mysterious Book dan Fire Emblem: Fortune’s Weave. Sebagian pemain heran mengapa beberapa seri game besar Nintendo masih belum kebagian game baru.
Namun, persoalannya bukan hanya soal deretan game yang terasa kurang “nendang”, tapi hal lain di luar software juga ikut jadi perhatian. Persaingan perusahaan-perusahaan teknologi untuk menjadi yang paling unggul di bidang AI makin panas dan dampaknya terasa sampai ke harga komponen.
Harga RAM disebut melonjak tajam karena pasokannya “disedot” kebutuhan AI skala besar, sehingga konsumen biasa jadi lebih sulit kebagian dan harga pun naik drastis.
Baca juga informasi menarik Gamebrott lainnya terkait Nintendo atau artikel lainnya dari Arif Gunawan. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.
















