Belakangan ini, game dengan basis gacha dan miktrotransaksi di dalamnya memang sedang trend dimana-mana. Dan sadar atau tidak sadar, game semacam ini menjadi adiksi tersendiri untuk para pemainnya.
Sebab, game-game seperti ini mengandalkan keberuntungan, menimbulkan dorongan untuk terus “pull” item langka, belum lagi dengan adanya kemudahan transaksi digital membuat banyak pemainnya tanpa sadar menghabiskan uang secara berlebihan. Dan sebagian besar gamer Jepang mengaku alami kesulitan keuangan karena adiktif terhadap transaksi di dalamnya.
Gamer Jepang Mengaku Alami Kesulitan Finansial Karena Game

Diterjemahkan oleh Automaton, sebuah survei tahunan dilakukan oleh perusahaan keuangan Jepang, SMBC, untuk meneliti kebiasaan belanja orang dewasa. Survei ini melibatkan 1.000 responden pria dan wanita Jepang berusia 20–29 tahun.
Dari para responden, 18,8% telah melakukan pembelian in-game pada tahun 2025 dan mengaku sangat menyesalinya. Rata-rata pengeluaran mereka sekitar 5.080 Yen atau sekitar lima ratus ribuan rupiah. Namun, 10,5% responden mengatakan mereka menghabiskan terlalu banyak uang untuk pembelian dalam game, sampai akhirnya mengalami kesulitan finansial.

Analisis Sensor Tower pada tahun 2025 mencatat bahwa meskipun pasar domestik game mobile di Jepang mengalami penyusutan, tetapi rata-rata pengeluaran per user masih cukup tinggi untuk menutupi penurunan tersebut. Ditemukan bahwa meskipun game yang dimainkan bukan dari Jepang, tapi hampir 70% pendapatannya masih datang dari gamer Jepang.
Dan definisi “kesulitan finansial” ini memang agak rancu. Bisa saja artinya mereka tidak bisa menabung hingga benar-benar kekurangan uang bahkan hanya untuk sekadar makan, dan ada juga yang terlilit hutang. Tapi tetap, kasarnya ada 1 dari 10 gamer Jepang yang mengalami krisis ini sebagai akibat adiksinya dalam jajan di game.

Memang dibalik kemudahan dan keseruan dari sebuah game zaman sekarang, banyak sekali hal-hal merugikan yang datang apabila kita tidak bisa mengontrol diri. Jadi, perlu banget para gamer untuk punya kesadaran finansial dan kesadaran diri agar tidak impulsif jajan di game. Sebab, sebuah game seharusnya memberikan hiburan, bukan menjadi beban.
Baca juga informasi menarik Gamebrott lainnya terkait Berita Game atau artikel lainnya dari Sofie Diana. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com






![[RUMOR] State of Play 2026 Pertama akan Berlangsung di Bulan Februari 14 State of Play 2026](https://cdn.gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/01/State-of-Play-2026.webp)








