Kontroversi Desain Sonic: Perbedaan Visi atau Sekedar Taktik Marketing?

in

Pada pertengahan bulan November ini, Paramount Pictures merilis trailer Sonic the Hedgehog baru dengan desain ulang yang lebih “enak” untuk dilihat. Seketika netizen lupa akan eksistensi desain pertama dan mulai memuji tim produksi hingga hype untuk menunggu tanggal tayang film. Dengan resepsi yang sangat positif dari trailer kedua, mulai muncul pertanyaan apakah desain buruk pertama yang sempat dirilis merupakan perbedaan visi antara sutradara dan studio, atau sekedar taktik pemasaran semata?

Konspirasi Desain Lama sebagai Taktik marketing

Ada berbagai cara sebuah studio memasarkan produk mereka sebelum dirilis. Cara paling klasik ialah dengan memperlihatkan sisi baik produk mereka, dalam kasus sebuah film, mungkin lewat memperkenalkan sutradara dan aktor berkelas yang terlibat atau memperlihatkan adegan apik yang bakal muncul di film. Tetapi tak jarang, tim marketing menggunakan cara tak lazim agar orang-0rang membicarakan produk mereka. Apa yang terjadi pada desain awal Sonic dianggap sebagai salah satu taktik yang dimaksud.

Dengan memperlihatkan desain yang sudah pasti tidak akan diterima oleh fans maupun mereka yang telah kenal Sonic, otomatis netizen akan heboh membicarakannya serta para media sekaligus content creator ikut mengeluarkan suara dan reaksi mereka akan trailer pertama yang membuat film menjadi topik pembicaraan terpanas di Internet.

there’s no such thing as bad publicity,” merupakan salah satu teori yang selalu diterapkan oleh tim PR marketing. Seburuk apapun reaksi yang dikeluarkan oleh fans bukanlah menjadi masalah selama semakin banyak orang mengetahui dan membicarakan produk yang akan dirilis.

Trailer kedua dianggap menjadi fase selanjutnya dari taktik marketing ini. Setelah sebelumnya menuai banyak kritik, trailer kedua dirilis sebagai redemption akan kesalahan mereka. Dalam waktu sekejap, film kembali menjadi bahan pembicaraan tetapi untuk alasan yang berbeda. Mayoritas orang terlihat puas dengan desain baru Sonic dan studio dianggap peduli dengan apa yang mereka adaptasi yang alhasil membuat banyak orang tertarik untuk menonton seperti apa film ini nantinya.

Apakah semua ini tak lebih dari sekedar perbedaan visi?

Meskipun teori konspirasi diatas sebelumnya sangat masuk akal melihat seberapa besar pers yang film ini dapatkan, bisa jadi juga semua ini tak lebih dari perbedaan pendapat antara sutradara dan Paramount Pictures. Ada beberapa hal yang membuat teori konspirasi diatas sedikit janggal. Sebagai pembuka, efek CG pada trailer pertama terlihat sangat detil dan hampir seperti efek final. Bahkan untuk aksi publicity stunt, takkan ada studio yang mau menghabiskan dana dan waktu mereka membuat desain yang sedetil itu. Bahkan harus dikatakan efek CG pada trailer kedua tidak terlihat sedetil apa yang sebelumnya ditunjukan pada trailer pertama.

Alasan kedua ialah Paramount Pictures telah dikenal senang membuat presentasi realistik pada film live-action produksi mereka. Sebagai contoh Transformers dan Teenage Mutant of Ninja Turtles juga dapatkan sentuhan realistik serupa pada karakter utama mereka. Hanya saja karena resepsi yang diterima tidak separah apa yang terjadi pada Sonic, tak terjadi aksi redesign layaknya pada maskot Sega tersebut.

Tak jarang studio ikut campur dalam direksi film yang tengah diproduksi, dan besar kemungkinan yang terjadi ialah Paramount Studios memang meminta versi realistik dari Sonic di trailer pertama. Studio terkadang tak peduli akan apa permintaan fans, mereka hanya melihat track record film-film sebelumnya dan apa yang sedang populer di box office. Karena film Michael Bay sebelumnya laris manis meski dengan resepsi buruk serta ditambah dengan maraknya gaya realistik pada film berbasis adaptasi, bukanlah sebuah kejutan lagi apabila Sonic yang kita lihat di trailer pertama ialah Sonic yang memang direncanakan dari awal atas permintaan Paramount Pictures. Melihat resepsi buruk dari fans, gamer yang kenal Sonic dan bahkan sang kreator Sonic sendiri, sutradara Jeff Fowler baru turun tangan dan berdiskusi dengan kepala studio untuk proposalkan desain ulang Sonic.

Bahkan jika skenario diatas bukanlah apa yang terjadi di balik layar. Kecil kemungkinan Paramount Pictures benar-benar ingin bermain-main dengan kontrak mereka. Seperti yang kita tahu, terealisasinya proyek film live-action ini merupakan hasil kontrak antara Sega dan juga Paramount Pictures. Aksi publicity stunt seperti ini sangatlah beresiko merusak citra brand yang mengakibatkan Paramount Pictures melanggar kontrak atau buruknya lagi dimintai ganti rugi. Studio besar seperti Paramount Pictures tentu tidak ingin hal semacam itu terjadi, membuat kecil kemungkinan mereka ingin bermain-main dengan IP yang mereka pegang.


Apapun alasannya, kontroversi di balik desain Sonic ini telah sukses dua kali membuat film menjadi bahan perbincangan netizen. Kini yang terpenting ialah kualitas dari film itu sendiri. Apabila film gagal memenuhi ekspektasi fans, seberapa sering redesign tiada berarti bagi mereka.

Sonic The Hedgehog akan dirilis pada 13 Februari 2020 mendatang. Apakah penundaan selama 4 bulan dari tanggal rilis pertama memberikan hasil setimpal? Kita lihat saja nanti.

Muhammad Maulana

Written by Muhammad Maulana

Seseorang yang menghabiskan waktunya mengamati Video Game dan Film.