Legalitas Pemain Esports Berumur 8 Tahun Kembali Dipertanyakan

in , ,
Deen
Deen

Esports merupakan salah satu olahraga jenis baru yang lahir berkat perkembangan industri game. Esports tidak seperti sebagian besar olahraga yang membutuhkan kemampuan fisik yang dominan. Selama bisa bermain menggunakan alat pengontrol sederhana seperti mouse dan keyboard, maka tidak jadi masalah. Tidak heran beberapa anak-anak yang masih belia saja dapat berkecimpung dalam dunia Esports.

Dilansir dari Gamerant, legalitas pemain Esport berumur 8 tahun kini kembali dipertanyakan. Beberapa waktu lalu Team 33 yang merupakan organisasi Esport profesional menimbulkan kehebohan. Mereka merekrut seorang anak kecil yang bernama Joseph ’33 Gosu ‘Deen yang berusia 8 tahun ke dalam tim Fortnitenya.

Deen menerima bonus penandatanganan kontrak senilai $33.000 dan pengaturan permainan berkinerja tinggi senilai $5.000. Tim yang bermarkas di Los Angeles itu dilaporkan telah mencari Deen selama dua tahun terakhir sebelum memutuskan untuk merekrutnya.

Corocoro Survey 2020 Kids In Japan Vote Fortnite Pokemon Mario Siliconera 3

Hal tersebut dipertanyakan karena Epic Games telah memberlakukan aturan usia minimum 13 tahun untuk turnamennya. Dimana hal tersebut sempat menjadi perhatian publik ketika FaZe Clan menandatangani perjanjian dengan H1ghSky1 untuk streaming dan kompetisi meskipun saat itu berusia 11 tahun.

Pendiri Team 33, Tyler Gallagher berpendapat bahwa menandatangani Deen adalah langkah hukum yang legal, dengan menyatakan: “Pada dasarnya, tidak ada undang-undang ketenagakerjaan, karena dia tidak harus bekerja. Dia hanya bermain-main … Kami tidak akan menerbangkannya ke mana pun. Dia tidak mengikuti turnamen. Dia bermain seperti dia akan bermain pada hari Sabtu atau Minggu. Kami secara hukum diizinkan untuk memberikan uang kepadanya karena kami percaya padanya dan kami melakukan investasi.”

Penandatanganan kontrak antara Deen dan Team 33 dinegosiasikan oleh ibunya dan pengacaranya. Mereka menyertakan opsi untuk memutuskan kontrak sepenuhnya, jika ada kekhawatiran game yang menghabiskan waktu sehingga mengganggu tugas sekolah.

Selain ketentuan ini, kontrak untuk Team 33 adalah untuk membangun saluran YouTube Deen, melatihnya di Fortnite dan Call of Duty, dan menjual merchandise berdasarkan dirinya. Team 33 akan mengambil bagian 33 persen dari keuntungan dari YouTube dan merchandise Deen. Team 33 juga  memiliki kepemilikan atas akunnya, jika Deen keluar dari kontrak.

Hal ini kembali akan menjadi contoh kasus untuk dunia Esports. Terutama mereka yang akan merekrut dan melatih anak di bawah umur. Terlihat Team 33 mengambil langkah tepat yang hanya memfokuskan Deen pada streaming dan penjualan merchandise, sembari melatihnya agar siap berkompetisi secara sah di masa depan.


Baca juga artikel artikel lainnya di Gamebrott atau artikel video game menarik lain dari Ali.

For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected]

Avatar

Written by Ali

Penulis amatir yang menjadikan Gamebrott sebagai tempatnya latihan menulis, Akhirnya ia memberanikan diri menulis blognya yang berjudul meongeden.com