Mantan Karyawan Ubisoft Jepang – Dalam belakangan ini, perusahaan video game Ubisoft telah menghadapi banyak sekali masalah internal. Salah satunya adalah masalah dimana saham perusahaan tersebut terus turun dalam beberapa tahun terakhir. Banyak komunitas Gamer sebut saham perusahaan itu terus turun karena mereka terlalu fokus terhadap unsur DEI (Diversity, Equity, and Inclusion) pada produknya.
Sementara itu salah satu mantan karyawan perusahaan video game tersebut yang berasal dari Jepang justru punya pendapat lain terkait perusahaan tempat dia kerja sebelumnya. Menurutnya perusahaan tersebut mengalami saham turun bukan karena DEI. Apa alasan dia?
Alasan Mantan Karyawan Ubisoft Jepang Sebut Saham Perusahaan Turun Bukan Soal DEI

Melalui akun Twitter X miliknya, Kensuke Shimoda selaku mantan karyawan Ubisoft Osaka membagikan pendapat terkait saham perusahaan tersebut terus turun bukan karena unsur DEI seperti yang dikatakan komunitas Gamer. Diketahui dia dulunya bekerja sebagai Game Designer dari April 2021 sampai November 2024 di sana.
Kensuke Shimoda menjelaskan bahwa saham Ubisoft turun bukan karena unsur DEI, melainkan karena perusahaan menjadi korban dalam sebuah bisnis yang dia sebut sebagai “Big Business Syndrome” atau “Sindrom Bisnis Besar”.

Dia mengatakan berdasarkan pengalaman selama dirinya bekerja di sana, para pendukung DEI di sana memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap cara perusahaan beroperasi. Meskipun upaya terkait DEI seperti ekspansi global dan perbaikan lingkungan, menurutnya hal itu sebenarnya berjalan dengan baik.
Shimoda mengungkap masalah utama yang terjadi muncul karena status Ubisoft sebagai perusahaan multinasional yang berbasis di Prancis menjadi pemicu terjadinya berbagai macam persoalan yang dialami.
Secara spesifik, Shimoda mengungkap adanya jarak psikologis yang terjadi antara studio yang ada di Prancis dan studio lain non-Prancis dimana selama ini menjadi inti dari budaya kreatif dari Ubisoft.
Dibahas Juga Soal Produk Video Game

Selain itu mantan karyawan Ubisoft asal Jepang tersebut juga menjelaskan apakah produk video game perusahaan tersebut juga dipengaruhi oleh unsur DEI sehingga berakhir gagal seperti yang dikatakan oleh komunitas Gamer.
Menurutnya, produk video game perusahaan game tersebut berkaitan dengan kurangnya judul-judul game hit mereka yang rilis baru-baru ini dengan adanya “penurunan pada departemen pemasaran dan juga kreatif” di sana. Hal inilah menjadi sumber dari masalah jebakan “Big Business Syndrome” yang dia sebut sebelumnya.
Berdasarkan dari apa yang dia perhatikan pada perusahaan itu belakangan ini, beberapa posisi kepemimpinan di sana diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki cukup pengalaman dalam pengembangan video game online, mobile, ataupun free-to-play. Apalagi menurutnya posisi-posisi tersebut memiliki tingkat perputaran yang renah sehingga sulit bagi karyawan di sana yang lebih berpengalaman dari para pemimpin tersebut untuk mengambil alih kendali.
Itulah informasi mengenai pendapat dari salah satu mantan karyawan Ubisoft dari Jepang mengenai saham perusahaan perusahaan tersebut turun bukan karena unsur DEI seperti yang dikomentari oleh komunitas Gamer. Bagaimana menurut kalian dengan pendapat dari Kensuke Shimoda?
Baca juga informasi menarik Gamebrott lainnya terkait Ubisoft atau artikel lainnya dari Muhammad Faisal. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.

![[RUMOR] Tak Ditangani Creative House, Franchise Watch Dogs Dimatikan Ubisoft? 8 Franchise Watch Dogs](https://cdn.gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/01/Franchise-Watch-Dogs.webp)
![[Rumor] Lebih dari 2000 Karyawan Ubisoft Dilaporkan akan Kena PHK oleh Perusahaan 9 Karyawan Ubisoft PHK](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/01/shutterstock_1811408623-e1769224302858-350x250.webp)












