Mantan Pengembang Highguard – Wildlight Entertainment telah merilis game perdana mereka yaitu Highguard. Namun, perilisan game tersebut dinilai gagal karena jumlah pemain kian menurun meskipun game merupakan game Free-to-Play.
Dan mengenai ‘Kegagalan’ ini, para mantan pengembang Highguard yang terkena PHK masal kini bercerita mengenai proses pengembangan game hingga alasan mengapa game tersebut gagal.
Mantan Pengembang Highguard Ceritakan Proses Hingga Kegagalan Game

Dilansir dari laporan Jason Schreier di Bloomberg, para mantan pengembang Highguard bercerita mengenai proses pengembangan hingga kegagalan game tersebut termasuk alasan mengapa game memilih diam sejak pengumuman hingga perilisan.
Mengenai proses pengembangan, pada awalnya game didesain sebagai game Shooter Survival seperti Rust, namun sayangnya selama pengembangan hasilnya tidak seperti yang diharapkan tim pengembang.
Setelah 2 tahun berjalan, akhirnya tim memindahkan arah pengembangan menjadi game Shooter kompetitif. Beberapa elemen dari versi survival tetap tibawa ke arah baru ini seperti Raid Base dan farming material sehingga menimbulkan sebuah ide “Raid Shooter”.
Dam sebelum game menjadi 3v3, ternyata Wildlight Entertainment sempat membuat mode 4v4 terlebih dahulu. Dan hasilnya, map besar dengan sistem looting dan mining namun isi map yang kosong.
Gagal Karena Kesombongan Pimpinan

Mengenai kegagalan yang terjadi, para mantan pengembang Highguard ini juga bercerita mengenai alasan kegagalan game tersebut. Saat ditanya, para mantan pengembang ini mengatakan bahwa kesombongan pimpinan lah yang menjadikan penyebab game gagal.
Pimpinan tim pengembang dianggap sombong karena merasa mereka dapat menciptakan kembali kesuksesan yang didapat oleh Titanfall terutama Apex Legends yang juga dirilis secara Shadow Drop.
Namun, terdapat perubahan rencana mendekati masa perilisan dimana Geoff Keighley yang mencoba game ini sangat tertarik dan ingin mengumumkannya pada slot utama acara The Game Awards yang menyebabkan rencana Shadow Drop berubah haluan.

Selain itu, pada masa test secara external, para pemain cukup kebingungan dengan banyaknya fitur yang ada dalam pertandingan. Fitur mic yang dimatikan membuat mereka tidak dapat berkomunikasi satu sama lain secara natural.
Dan hal paling fatal saat test tersebut adalah kehadiran tim pengembang yang membantu pemain yang kebingungan sehingga hasil play test tidak seperti gambaran saat perilisan secara terbuka.
Dan kini, diketahui bahwa tim pengembang yang masih bekerja di Wildlight Entertainment hanya dibawah 20 orang saja dimana tenaga kerja sekecil itu akan cukup berat menjaga game agar tetap hidup. Selain itu, Tencent juga diketahui telah menarik pendanaan mereka dari studio tersebut setelah melihat data dari hari pertama perilisan.
Baca juga informasi menarik Gamebrott lainnya terkait Berita atau artikel lainnya dari Javier Ferdano. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com
















