[Movie Review] Sonic The Hedgehog – Bagaikan Nonton Fanfiction dalam Layar Lebar, Namun Fun


Ketika trailer pertama Sonic the Hedgehog diluncurkan, fans dan gamer yang kenal dengan karakter maskot Sega tersebut merasa tersinggung. Tak hanya desain pertama tidak terlihat seperti Sonic, tetapi juga memberikan horor dan mimpi buruk. Postur tubuh serta gigi yang terlalu “manusia” berikan kesan Uncanny Valley kepada netizen.

Kritik negatif dan lelucon banjiri trailer pertama tersebut dan pada akhirnya sutradara umumkan bahwa mereka akan perbaiki desain si landak biru tetapi film terpaksa tertunda beberapa bulan sebagai hasilnya. Trailer kedua dirilis 3 bulan kemudian dan respon yang didapatkan berbalik 360 derajat. Desain baru terlihat lebih enak dilihat mata serta lebih mendekati versi game. Tetapi apakah operasi wajah pada model Sonic cukup untuk menjadikan film ini layak ditonton? Kita lihat saja langsung.


Plot: Bagai menonton fanfiction

Sebuah direksi menarik yang diambil oleh film ini ialah kisah backstory dari Sonic. Di saat game tidak terlalu pedulikan apa yang terjadi sebelum Dr. Robotnik alias Eggman menyerang, film menggambarkan Sonic kurang lebih seperti Superman, karakter yatim piatu yang miliki kekuatan hebat tetapi tidak yakin bagaimana harus memanfaatkannya. Menjadi incaran para penjahat yang inginkan kekuatannya, Sonic bersembunyi  di kota kecil bernama Green Hills menggunakan cincin emas yang dimana pada film ini berfungsi sebagai alat teleportasi antar dunia.

Menjadi alien di planet bumi, Sonic gunakan kekuatan lari cepatnya untuk menghindari kontak dengan manusia. Meskipun begitu dirinya tidak lepas dari pop-culture yang ada di bumi karena dirinya selalu memata-matai aktivitas manusia khususnya kedua pasangan Thomas Michael “Tom” Wachowski  yang diperankan oleh James Marsden dan Maddie Wachowski yang diperankan oleh Tika Sumpter. Singkat cerita, setelah kecerobohan Sonic yang bosan dan juga kesepian, dirinya meminta bantuan dari Tom dan juga Maddie untuk dapat melarikan diri dari bumi dan juga Dr. Robotnik yang dibintangi Jim Carrey.

Plot dari Sonic the Hedgehog tergolong sangat dasar dan tipikal film buddy trip dengan karakter maskot yang baru saja isekai ke bumi layaknya Space Jam, Looney Tunes: Back in Action atau bahkan Who Framed Roger Rabbit. Tak ada kejutan baru yang ditawarkan film dan bahkan bisa dibilang cerita film sangatlah klise dan strukturnya bagaikan cerita fanfiction buatan fans maniak yang ingin karakter “OC”-nya bertemu dan berteman dengan Sonic. Direksi ini masuk akal melihat franchise Sonic tidak punya reputasi karena miliki cerita yang apik tetapi karena gameplay. Beberapa game terbaru dan juga serial komik mungkin miliki cerita yang cukup serius, tetapi mungkin takkan jadi awal yang tepat untuk film adaptasi live-action. Anehnya ada pesona tersendiri yang membuat saya mampu menikmati film meski dengan naskah yang terkesan datang dari Deviantart, dan semuanya lebih dikarenakan chemistry antar karakter.


Pengembangan karakter yang pas untuk duo utama, tidak untuk sisanya

Dari segi jalan cerita, film terkesan sangat average, namun untuk urusan karakter, film lakukan beberapa hal yang tepat khususnya pada duo utama. Saya senang dengan representasi Sonic yang disuarai oleh Ben Schwartz. Sonic dibuat cerewet, hiperaktif dan sering merendahkan musuhnya layaknya di game, tetapi di film ini dia lebih sering mengeluarkan referensi pop-culture yang membuat saya berpikir kalau Sonic disini lebih seperti Michaelangelo di TMNT. Meskipun demikian, saya cukup terkesan akan film berhasil membuat karakter ini tidak annoying sepanjang film. Hal ini dikarenakan film habiskan babak pertama film fokus membangun karakter, menunjukan bahwa ia memang alien di dunia barunya ini dan meskipun semangatnya tak pernah habis, dia tidak miliki siapa-siapa setelah kejadian yang menimpanya dan butuh seseorang untuk menemaninya.

Di sisi lain, Tom adalah karakter orang putih sidekick paling mendasar yang dapat kamu harapkan dari film buddy trip semacam ini. Tak banyak karakteristik yang membuat Tom begitu menarik sebagai karakter tetapi perpaduannya bersama Sonic membuat keduanya terlihat seperti dynamic duo.  Tom merupakan orang dewasa biasa yang menanggapi semua hal dengan serius. Berbeda dengan Sonic yang begitu naif, begitu asing akan dunia yang dihinggapinya, dan bertingkah seperti anak kecil. Tom selalu memberikan istilah dan hal yang asing di telinga Sonic, tetapi karena Sonic yang masih terlalu polos, dia selalu menanggapinya secara literal dan kekanak-kanakan. Kontras antara kedua karakter membuat hubungan pertemanan diantara keduanya perlahan tumbuh, dan kamu sebagai penonton juga merasakan betapa keduanya memang peduli satu sama lain meskipun belum 24 jam bertemu.

Sulit untuk bicarakan film ini tanpa membicarakan Dr. Robotnik. Apabila kamu kenal dengan Jim Carrey, maka kamu akan tahu apa yang harus kamu ekspektasi dari aktingnya disini. Arogan, konyol, dan lebay, semuanya dilakukan oleh pemeran Ace Ventura ini. Meskipun secara pribadi saya senang dengan Carrey, saya harus bilang saya tidak begitu senang dengan perannya di film ini. Performa lebay khasnya memang selalu menghibur tetapi secara dialog, tetapi ada sesuatu yang mengganjal tiap kali dirinya tampil di layar. Tak ada satu pun leluconnya yang begitu mengundang tawa dan saya merasa dia terlalu “dibebaskan” tanpa diberi direksi oleh sutradara karena yang saya lihat hanyalah Jim Carrey memainkan dirinya sendiri ketimbang Dr. Robotnik. Mungkin dasaran saya saja yang terlalu kenal dengan source material yang digarap, tetapi tetap saja menjadi sesuatu yang disayangkan bagi saya melihat representasi sang jenius jahat melihat sang sutradara terlihat seperti orang yang juga kenal akan sumber cerita yang ia garap.

Diluar dari ketiga karakter utama diatas, film juga hadirkan beberapa karakter baru yang mewarnai petualangan Sonic, tetapi tak ada satu pun diantara mereka yang bahkan saya ingat namanya. Mereka hanya hadir karena penulis ingin ada lelucon di film, dan setelah lelucon usai, karakter tersebut bahkan tidak disebutkan lagi.


Lebih fokus pada banter pembicaraan ketimbang spektakel

Tak banyak aksi spektakel yang terjadi sepanjang 90 menit durasi film. Mayoritasnya diisi oleh pembicaraan antar dua karakter utama dengan beberapa konflik di pertengahannya. Hampir semua yang ditunjukan trailer pada dasarnya merupakan seluruh spektakel yang kamu dapatkan di film nanti. Hal tersebut bukanlah masalah besar mengenal ini adalah film “origin story”, maka wajar jika sutradara lebih memilih untuk fokus membangun karakter Sonic. Dan seperti yang saya sampaikan sebelumnya, karakter Sonic ini dieksekusi dengan baik dan diadukan dengan Tom menjadikan mereka duo yang erat. Melihat keduanya saling adu mulut dan berbagi cerita menjadi momen yang menyenangkan dari film.

Adegan yang paling menjadi highlight ialah ketika Sonic melakukan aksi lari cepatnya yang dimana waktu seakan berhenti dan dengan santai ia menghadapi banyak hal ketika orang lain belum sempat mengedipkan mata sama sekali. Adegan ini merupakan replika dari apa yang Quicksilver lakukan di film-film X-Men terakhir. Adegan ini jadi puncak spektakel yang akan kamu dapatkan, diluar dari aksi yang kamu dapatkan hanyalah aksi kejar-kejaran antar karakter yang itu sendiri hanya berlangsung beberapa menit saja.

Visual: Sonic terlihat bagus, itu yang terpenting

Setelah redesign, Sonic terlihat sangat bagus di film ini. Mungkin di beberapa adegan efek CGI terlihat tidak begitu rapi, tetapi secara desain, ini mungkin desain terbaik yang dapat mereka capai dan hasilnya terlihat memuaskan. Tak ada lagi kaki panjang dengan mata dan gigi manusia, Sonic terlihat sangat mendekati apa yang ada di game dan itu sangatlah diapresiasi.

Tak banyak yang bisa dibicarakan soal efek visual di film. Mungkin kualitasnya tidak setara The Lion King, tetapi setidaknya Sonic tidak lagi membuat teror kepada penontonnya. Tetapi harus saya akui, saya sedikit penasaran untuk menonton kembali film ini tetapi dengan desain lama tersebut.


Beberapa nitpick yang terus mengganjal setelah menonton

Saya menikmati film ini.Bukan karena filmnya begitu bagus hingga layak menang Oscar, tetapi karena film tidak mencoba menjadi sesuatu yang aneh-aneh dan pentingkan apa yang membuat film “fun” untuk ditonton. Tetapi ada beberapa nitpick yang sulit untuk tidak diungkapkan setelah menonton film.

Motivasi Tom untuk membantu Sonic tidak begitu realistis. Dia memang menjadi pelaku kenapa konflik ini terjadi, tetapi konsekuensi yang ia harus hadapi untuk menolong Sonic terlalu besar dan tidak berarti apa-apa untuknya. Dia dianggap sebagai teroris karena membantu si landak biru, terus apa yang akan dia lakukan setelah misinya selesai, membiarkan dirinya terus jadi incaran polisi dan membatalkan rencananya pindah kota? Ya, filmnya mungkin berakhir bahagia untuk semua karakter utama tetapi tetap saja terasa aneh melihat Tom tidak terpikir apa-apa sama sekali akan aksinya di film ini.

Pesan yang diantarkan film juga cukup aneh. Secara tidak langsung film mengajarkan bahwa tidak apa-apa untuk tidak mengejar cita-citamu karena kampung halaman lebih penting ketimbang masa depan karir. Untuk film yang utamakan audiens muda, mungkin mereka ingin datangkan pesan yang lebih berkesan. Namun tidak, Tom batalkan cita-citanya dan tetap bertahan di kota kecil karena dia bertemu karakter maskor yang benar-benar betah tinggal disitu.

Klimaks film juga bisa dikatakan sangat corny. Tipikal layaknya film buddy trip yang telah ada, kekuatan persahabatan menjadi kunci pertarungan klimaks di film ini. Karena klimaks seperti ini telah terjadi ratusan kali, sulit untuk tidak memutar bola mata ketika protagonis mendadak sehat kembali dan termotivasi setelah seseorang mengucapakan kata “teman”.


Konklusi

Sebagai film adaptasi game, Sonic the Hedgehog lebih baik daripada mayoritas film yang telah rilis. Namun apakah ini layak dikategorikan sebagai yang terbaik? Tidak, naskah film terlalu dasar dan bahkan terkesan seperti fanfiction buatan fans yang kebanyakan memainkan Sonic. Dibandingkan film game lain, Sonic mungkin jauh lebih baik karena skenario dan karakter yang menyenangkan, tetapi tanpa memandang track record dari film adaptasi game, Sonic the Hedgehog tak lebih dari sekedar film popcorn.