• Berita
  • TECH
  • G | LIST
  • Review
  • Tutorial
  • OPINI
  • Video
    • TikTok
    • YouTube
    • Facebook
  • GB Live!
  • Freebies
    • Free Games
    • Giveaway
  • TopupNEW
No Result
View All Result
  • Android
  • iOS
  • PC
  • PS4
  • PS5
  • Switch
  • XBOX One
  • Xbox Series X
  • Genshin Impact
  • GTA
  • GB Live!
Gamebrott.com
  • Berita
  • TECH
  • G | LIST
  • Review
  • Tutorial
  • OPINI
  • Video
    • TikTok
    • YouTube
    • Facebook
  • GB Live!
  • Freebies
    • Free Games
    • Giveaway
  • TopupNEW
No Result
View All Result
Gamebrott.com
No Result
View All Result

Gamebrott > OPINI > [OPINI] Apa yang Membuat Sebuah Komunitas Game Menjadi Toxic dan Kebanyakan Berakhir Menjadi Drama?

[OPINI] Apa yang Membuat Sebuah Komunitas Game Menjadi Toxic dan Kebanyakan Berakhir Menjadi Drama?

by Andi
12 Agustus 2023
in OPINI
Reading Time: 7 mins read
A A
0
Komunitas Game Menjadi Toxic
0
SHARES
254
VIEWS
Bagikan ke FacebookShare on Twitter

Komunitas Game Toxic – Tak jarang ketika kita berselancar di jagat maya, banyak jumpai berbagai komunitas game dengan segala bentuk toxic yang ada. Sebagai gamer, terkadang kita sudah bosan melihat hal ini eksis dimana-mana. Loncat dari satu komunitas game ke komunitas lainnya, selalu berakhir dengan racauan dan perdebatan yang saling menghujat.

Fenomena ini tidaklah langka, dan bukan hanya terjadi di Tanah Air saja. Bahkan sudah terjadi di mancanegara sejak adanya internet sebagai jembatan antar pemain game yang hadir tahun 90an akhir dan 2000 awal.

Daftar isi

  • Alasan yang Membuat Komunitas Game Menjadi Toxic
    • Istilah Gamer Bermula dari Pemain Konsol
    • Integrasi Internet Mengubah Perilaku Gamer Menjadi Player Toxic
    • Toxic di Game Sudah Dianggap Lumrah
    • Kesimpulan: Komunitas Game Toxic Berujung Jadi Drama Panas

Alasan yang Membuat Komunitas Game Menjadi Toxic

komunitas game menjadi toxic
Alasan kenapa gamer menjadi toxic

Ada banyak hal yang menurut penulis bisa kita kaji dari pergumulan seperti ini. Mulai dengan bagaimana internet bisa mengubah pola berpikir gamer, hingga konsekuensi dari kecanduan game.

Semua ini tentu berkontribusi terhadap bagaimana sebuah komunitas game yang seharusnya dibangun untuk gamer saling berbagi pengalaman, berangsur berubah menjadi sarang hujatan.

Sebelum memulai pembahasannya, ada baiknya kita mulai dari bagaimana awalnya komunitas game terbentuk. Dan bagaimana sejatinya demografi gamer yang dulu dianggap sangat niche ini berubah hingga dianggap lumrah dan bahkan selebriti saja menjadi gamer.

Istilah Gamer Bermula dari Pemain Konsol

komunitas game menjadi toxic
Konsol game PlayStation

Kalau kalian yang sudah berumur separuh baya dan seorang gamer, metode bermain game yang kalian kenal mungkin tidak jauh dari konsol dan arcade. Dimana dulu konsol-konsol seperti Atari, Sega, Nintendo, dan mungkin Sony PlayStation dan Xbox merupakan nama yang tidak asing.

Berbeda dengan era sekarang dimana gawai portable seperti smartphone saja bisa digunakan untuk bermain game. Bahkan game yang sama dengan versi konsol (Fortnite misalnya). Tidak lagi mengherankan kalau jumlah gamer semakin banyak dan industri ini berkembang menjadi sesuatu yang masif dan mendatangkan profit besar.

Istilah multiplayer dulu pun belum ada karena internet belum masif digerakkan sebagai sarana entertainment. Hingga jika gamer ingin bermain multiplayer, harus bergantung pada game yang mengizinkan couch play (istilahnya 1P dan 2P) dan belum memiliki sistem konektivitas yang terhubung ke jaringan. Alhasil mereka harus bisa bermain secara lokal alias langsung tatap muka.

Integrasi Internet Mengubah Perilaku Gamer Menjadi Player Toxic

komunitas game menjadi toxic
Ketika stres bermain game berujung menjadi toxic

Kalau sekarang, integrasi internet sudah sangat memadai untuk urusan game. Hingga muncullah berbagai istilah seperti MMORPG, MOBA, Online PVP, dan lain sebagainya. Semua itu berkat infrastruktur internet yang sudah mumpuni baik di negara barat maupun di Indonesia sendiri.

Jadi bisa dikatakan internet adalah kunci awal mengapa semua ini terjadi. Dampak yang dihasilkan terlalu besar meskipun dengan internet kita bisa menikmati terkoneksi dengan siapa saja di belahan dunia manapun.

Problema player toxic pun mulai bermunculan. Komunitas game dipenuhi dengan mereka yang toxic karena banyak dari mereka memang sangat vokal dalam berbicara. Hingga ada beberapa alasan mengapa komunitas game menjadi toxic adalah sebagai berikut:

1. Keawanamaan/Anonimitas

Pertama tentu tidak lain karena anonimitas. Di jagat internet, kita tidak saling kenal. Setidaknya kalau di forum terbuka dengan jumlah pengguna ribuan, chance kita menemukan orang yang kita kenal sangat kecil.

Maka dari itu, kita bisa bebas menciptakan sebuah topeng atau persona baru tanpa takut ada yang tahu kalau sifat kita di dunia nyata itu jauh berbeda dengan apa yang kita tampilkan dalam dunia maya. Perasaan anonim inilah yang membuat manusia lebih buas karena berlindung dibalik tembok maya tersebut.

2. Kebanyakan Tidak Berpikir Sebelum Bertindak

Kedua bisa jadi karena lewat internet, kita kebanyakan tidak berpikir dulu sebelum bertindak. Masih berurusan dengan yang pertama tadi, kita lebih merasa nyaman ketika tidak mengenal lawan yang kita ajak bicara. Otomatis kita tidak perlu menjaga perasaan mereka dan bebas menyuarakan kekesalan, kebencian, dan lain sebagainya dalam bentuk amarah.

3. Internet Membuat Mereka Tidak Terlihat

Tambahan poin lainnya adalah kita tidak terlihat di internet. Lawan bicara kita tidak tahu bagaimana wujud kita di dunia maya (selama tidak ter-doxxing). Otomatis kita tidak lagi merasa bersalah atas apa yang kita lakukan meskipun kita tahu apa yang kita katakan itu akan menyakiti hati orang.

4. Semua Punya Posisi yang Setara di Jagat Maya

Internet juga tempat dimana tidak ada pihak yang punya status lebih tinggi dibanding lainnya. Semua punya posisi setara satu sama lain. Hingga tidak ada “polisi” atau hukum yang akan menjerat mereka kalau menyakiti orang lain. Hingga istilah Cyberbullying menjadi sebuah fenomena baru begitu internet mulai dikenalkan, terutama diantaranya adalah komunitas game dimana perbedaan pendapat saja akan memicu bullying secara virtual.

Dari pembahasan diatas, bisa diartikan kalau sebuah komunitas game sudah bisa dikatakan toxic bila sudah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Banyaknya Harassment
  2. Memberikan opini yang bersifat menyerang
  3. Kurangnya kesadaran akan ujaran kebencian
  4. Memfavoritkan suatu orang atau memberikan privilege bagi orang tertentu
  5. Doxxing atau membocorkan identitas asli pengguna
  6. Memanipulasi orang lain untuk disalahkan

Toxic di Game Sudah Dianggap Lumrah

komunitas game menjadi toxic
Terlalu sering melihat yang toxic, gamer jadi merasa sudah lumrah

Komunitas game toxic juga bisa dimulai dari game-nya itu sendiri. Yakni game tersebut memang gampang digunakan untuk memancing gamer untuk melakukan hal seperti itu. Contoh saja ketika game PVP ranked yang sekarang sedang booming. Sistem ranked dalam game online saat ini adalah sumber utama bagaimana sebuah game dicap sebagai game toxic bagi sebagian gamer.

Ketika kita sudah menyalahkan player lain dengan amarah dan kata-kata yang tidak sepantasnya, maka kita sudah menjadi bagian dari komunitas toxic tersebut. Bahkan perilaku seperti ini dicontohkan oleh influencer di media besar seperti YouTuber, Twitch Streamer dimana mereka memperlihatkan sifat yang buruk dan berkata kasar selama permainan.

Otomatis apa? Perilaku ini tentu diikuti oleh mereka yang masih belia karena beranggapan yang para influencer lakukan bagi mereka terlihat “keren.” Alhasil, semua ini akan menjadi drama baru di komunitas.

Kesimpulan: Komunitas Game Toxic Berujung Jadi Drama Panas

komunitas game menjadi toxic
Reaksi kecil bisa memicu reaksi besar

Dari sekian banyaknya problem dalam industri game, yang paling sulit untuk dibenahi memang adalah soal drama dalam komunitas. Apalagi kalau di komunitas game yang toxic, selalu saja pembahasan kecil bisa berujung ke drama panas.

Kejadian seperti ini cepat pula menyebar kemana-mana terutama untuk game yang memang populer dimainkan oleh khalayak ramai. Alhasil memicu reaksi berantai dan membuat drama yang tadinya cuma ada di komunitas lokal membesar dan merembes kemana-mana.

Kalau menurut kalian bagaimana, brott? Apakah kalian pernah merasakan komunitas game yang toxic?


Baca juga informasi menarik Gamebrott lainnya terkait Gamer, Toxic atau artikel lainnya dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.

Tags: gamerToxic
SummarizeShareTweetSend
Previous Post

Kritik Rusia, Kreator Metro 2033 Divonis 8 Tahun Penjara

Next Post

[RUMOR] Android Link Your Devices Bakal Hadirkan Teknologi Pindah Device Ketika Menelpon

Andi

Andi

Menyukai game namun terhalang motion sickness, hampir tidak bisa memainkan game FPS karena itu. Pencinta Fate series dan Nasuverse in general

Related Posts

Player Super Meat Boy

Akhirnya Ada Player Super Meat Boy Berhasil Selesaikan Game Tanpa Mati Setelah 15 Tahun Rilis

by Arif Gunawan
4 hari ago
0

Komunitas Player Super Meat Boy menemukan ada salah satu Palyer yang berhasil selesaikan game ini tanpa mati setelah 15 tahun....

Theotown

Theotown, Game Simulasi Kota yang Tiba-tiba Trending di Komunitas Gamer Indonesia

by Muhammad Faisal
4 hari ago
0

Belakangan ini, game simulasi kota berjudul Theotown sedang trending dikalangan komunitas Gamer Indonesia. Kenapa bisa begitu?

Shiny Charm Pokemon Z-A

Demi Bisa Mendapat Shiny Charm Pokemon Z-A, Gamer Ini Buat Alat Khusus dengan 3D Printer

by Muhammad Faisal
3 bulan ago
0

Demi bisa mendapatkan Item Shiny Charm Pokemon Z-A, ada Gamer memakai alat khusus dengan 3D Printer dan Controller Turbo. Wait,...

Usia Gamer

Rata-rata Usia Gamer Kini Mencapai 41 Tahun Menurut Hasil Survey Global ESA

by Muhammad Faisal
3 bulan ago
0

Berdasarkan hasil survey dari sebuah asosiasi, rata-rata usia Gamer saat ini telah mencapai 41 tahun dan masih gemar main video...

Load More
Please login to join discussion
Blue Protocol Star Resonance Rectangle Banner

Gamebrott Latest

Dottore Genshin Impact

Siapa itu Dottore Genshin Impact?

by Sofie Diana
19 jam ago
0

Bypass Charging 2026

Apakah Fitur Bypass Charging Hanya Gimmick? Ini Penjelasannya!

by Bima
20 jam ago
0

Build Xmas Oguri Cap Sagittarius Cup

Build Xmas Oguri Cap Sagittarius Cup Umamusume

by Javier Ferdano
21 jam ago
0

Aktor Ben Starr

7 Karakter Video Game Disuarai Ben Starr, Sang Aktor Inggris Tampan!

by Nadia Haudina
22 jam ago
0

Harga ARC Raiders Helldivers 2

Harga ARC Raiders Senilai $40 Terinspirasi dari Helldivers 2

by Arif Gunawan
1 hari ago
0

Gamebrott Live

Gamebrott Trending

Cheat GTA

200+ Cheat GTA Paling Lengkap Januari 2026 di PS2, PS3, PS4, PS5, PC dan Android

by Muhammad Faisal
2 minggu ago
0

Nama Squad Mobile Legends

2000+ Nama Squad Mobile Legends (ML) Keren dan Artinya yang Berkualitas

by Jeri Utama
2 minggu ago
0

Nickname Keren

1000+ Nickname Keren yang Bisa Kalian Pakai di Game Favoritmu 2026!

by Jendra
2 minggu ago
0

Download Game PPSSPP Ukuran Kecil

120+ Game PPSSPP Ukuran Kecil Terbaik di Dunia yang Seru dan Tidak Cepat Bosan Tahun 2025

by Muhammad Faisal
1 tahun ago
0

Cheat The Sims 4

Kumpulan Cheat The Sims 4 Terlengkap Bahasa Indonesia Untuk PC, PS4, Xbox One 2026

by Ernard Anky
2 minggu ago
0

© Gamebrott.com Ltd. 
Untuk say hello, kerjasama, Press Release, dan kolaborasi lainnya silahkan hubungi;
Career
: hrd@gamebrott.com
Partnership: info@gamebrott.com
Press Release: pr@gamebrott.com
Phone/Whatsapp: (+62)-852-7134-8676

POWERED BY

Visit our GMA team:
Vietnam – EXP GG VN
Taiwan HK – EXP GG TW
Thailand – GamingDose

  • About Us
  • Contact Us
  • advertising
  • SITEMAP

© 2024 Gamebrott Limited

Share

Facebook

X

LinkedIn

WhatsApp

Copy Link
×
No Result
View All Result
  • Berita
  • Review
  • G | LIST
  • PLATFORM
    • Android
    • iOS
    • PC
    • PS4
    • PS5
    • Switch
  • TECH
  • Tutorial
  • Popular Games
    • Mobile Legends
    • Free Fire
    • PUBG Mobile
    • GTA
    • Genshin Impact
  • Videos
    • TikTok
    • YouTube
    • Facebook
  • GB Live!
  • Freebies
    • Free Games
    • Giveaway
  • Topup

© 2024 Gamebrott Limited