Apa Penyebab Nahida Genshin Impact Ditindas oleh Orang Akademiya?

nahida genshin impact ditindas

Apa Penyebab Nahida Genshin Impact Ditindas oleh Orang Akademiya?

Mungkin kalian yang sudah lama enggak mainin ini game pasti bertanya – tanya, kenapa banyak pemain yang ingin ‘menyelamatkan‘ Dendro Archon yang satu ini? Kenapa Nahida Genshin Impact ditindas oleh rakyatnya sendiri?

Seharusnya, sebagai seorang Archon, ia bisa memiliki kekuatan untuk dapat mengatur dan mengayomi rakyatnya. Atau seminimal mungkin, hal menyedihkan seperti yang disebutkan di atas tidak terjadi ke seorang Archon.

Lantas, apa yang membuat Nahida, sang Lesser Lord Kusanali, ditindas oleh rakyatnya, khususnya Akademiya? Yuk. Kepoin artikelnya!

Disclaimer! Artikel ini mungkin mengandung spoiler Archon Quest.

Nahida Genshin Impact Ditindas oleh Orang Akademiya

Menurut saya pribadi, Arc Sumeru ini banyak mengandung ‘bawang’. Banyak tragedi terjadi meskipun dari luar kelihatannya region dengan idealis kebijaksanaan ini terlihat baik – baik saja.

Ada banyak nama yang harus kita ingat dalam artikel ini sebagai karakter kunci untuk mengupas alasan dibalik Nahida Genshin Impact ditindas oleh Akademiya. Mungkin kata ‘ditindas’ ini sendiri terdengar kejam, namun, memang perlakuan Akademiya memang kejam banget sih emang.

Lahirnya Lesser Lord Kusanali

Kelahiran Kusanali Genshin Impact

Lesser Lord Kusanali adalah sebutan lain bagi Dendro Archon di Sumeru. Nama personalnya sendiri adalah Nahida. Adapun nama Archon-nya adalah “Buer”, salah satu nama iblis yang sama dipakai oleh Archon lainnya seperti Barbatos, Morax, dan Beelzebub.

Ia adalah archon termuda dan paling baru di antara The Seven. Ia menjadi Archon sejak gugurnya Greater Lord Rukkhadevata akibat tragedi yang terjadi 500 tahun yang lalu.

500 tahun yang lalu, ketika Celestia memanggil seluruh Archon untuk menyerang Khaenri’ah, hanya Greater Lord Rukkhadevata yang tidak ikut turun ke lapangan. Sebab, di saat yang sama, ia harus menjaga Sumeru dari ambang – ambang kehancuran.

Kala itu, Rukkhadevata harus menjaga Irminsul dari Ilmu Hitam yang tidak berasal dari dunia ini. Diduga ilmu itu dipanggil oleh Raja Deshret yang berduka atas kematian Goddess of Flower.

Greater Lord Rukkhadevata

Namun, Ilmu Hitam tersebut menyebabkan banyak kerusakan dan kematian; Eleazar, Withering, dan lain – lain. Saat itu, kesadaran Greater Lord Rukkhadevata terhubung ke Irminsul, dan ia merasakan sesuatu yang salah.

Rasa sakitnya mulai menyiksa sang Dewi. Dan saat itu pula, tanda – tanda korosi di Irminsul mulai terlihat. Jika membiarkan ilmu hitam mencemari Irminsul, maka seluruh Teyvat akan hancur berantakan.

Lalu, Rukkhadevata memutuskan untuk menciptakan Akasha. Akasha ini digunakan untuk mengumpulkan mimpi dan kebijaksanaan seluruh rakyat Sumeru sehingga ia berhasil mencegah Ilmu Terlarang itu merusak Irminsul.

Kusanali dan Rukkhadevata

Namun, semua tidak berjalan lancar. Greater Lord Rukkhadevata mengalami sakit kepala berlebihan dan membuatnya tak nyaman. Ia teringat bahwa kesadarannya juga terhubung ke Irminsul. Jadi, sejak awal kesadaran Greater Lord Rukkhadevata juga tercemar oleh Ilmu Hitam ini.

Jadi, ia mengambil cabang Irminsul yang palng murni dan tidak terkontaminasi sebagai inkarnasi di samsara berikutnya dan meninggalkan beberapa petunjuk. Dari sinilah Kusanali lahir. Dengan harapan Kusanali dapat menghapus Rukkhadevata serta polusi dari Irminsul selamanya.

Alasan Kekejaman Sage Akademiya Terhadap Lesser Lord Kusanali

Kasian lhooo!

Sebagai cabang Irminsul baru, tentu Nahida miliki penampilan serta perawakan yang sangat mirip dengan pendahulunya. Ia kemudian diangkat sebagai Dendro Archon selanjutnya dengan panggilan “Lesser Lord Kusanali”.

Namun, ia tidak memiliki tingkat kebijaksanaan yang sama dengan Greater Lord Rukkhadevata. Hal ini lah yang membuat Akademiya memandang rendah dirinya dan bahkan rela mengurungnya di Sanctuary of Surasthana selama 500 tahun.

Dan selama isolasinya, tidak ada satupun orang di Sumeru selain para Sage Akademiya yang mengunjunginya selama 500 tahun.

Bayangin aja, sendirian sejak lahir. Terus gak diperhatiin selama 500 tahun? Sedih gak sih?

Silahkan dihajar, Grand Sage-nya kaack!

Para Sage Genshin Impact sendiri juga jarang ngobrol dengan Archon mereka. Lebih parahnya, mereka mengambil alih pemerintahan Sumeru dengan idealisme kebijaksanaan yang mereka bentuk sendiri.

Sage dari Akademiya bahkan melarang perayaan Sabzerus Festival. Sabzerus Festival adalah festival yang awalnya diadakan oleh Goddess of Flower untuk memperingati hari ulang tahun Greater Lord Rukkhadevata.

Namun, kini Sabzerus Festival diadakan oleh rakyat Sumeru untuk merayakan ulang tahun Lesser Lord Kusanali. Sayangnya, para Sage, khususnya Azar Genshin Impact, menentang keras adanya festival ini. Sebab, dengan merayakan Sabzerus, sama saja mengkonfirmasi kematian Rukkhadevata.

Grand Sage Azar dan Sateria Menghentikan Sabzerus Festival

Semakin kesini, buah pikir Akademiya semakin liar. Meskipun sudah ada Mahamatra yang mengatur jalannya ilmu pengetahuan sesuai prinsip Akademiya yang sudah berlaku, para Sage ini juga ternyata berlaku lebih gila.

4 dari 6 Sage ternyata menjalankan proyek besar yang disebut “Dewa Buatan Manusia”. Dan yang menjadi subjek eksperimen tersebut adalah salah satu anggota Fatui Harbinger yang absen di trailer “Winter’s Night Lazzo”.

Benar, dialah Scaramouche.

TAKOOOOOD

Bermodalkan rasa bencinya terhadap sang ibu (Raiden Shogun) serta orang – orang yang membunuh teman baiknya, Scaramouche berniat menjadi dewa baru di Sumeru dengan bermodalkan Gnosis Electro yang ia dapat di Inazuma.

Tentu saja dengan penciptaan dewa baru ini, para Sage sudah berhasil mencapai kebijaksanaan yang menurutnya adalah kebijaksanaan tertinggi. Dan tentunya sangat berbahaya apabila dibiarkan begitu saja.

Perbuatan kejam Akademiya terhadap Kusanali yang saya jabarkan di atas mungkin hanya sebagian besar. Jika kalian memiliki perbuatan kejam Akademiya yang lain, boleh banget bagikan di kolom komentar ya, brott!


Baca juga informasi menarik lainnya terkait Genshin Impact atau artikel lainnya dari Sofie Diana. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com

Exit mobile version