Menggali Sejarah 3 Penguasa Sumeru Kuno Genshin Impact dan Peradabannya

Menggali Sejarah 3 Penguasa Sumeru Kuno Genshin Impact dan Peradabannya

Menggali Sejarah 3 Penguasa Sumeru Kuno Genshin Impact dan Peradabannya

Genshin Impact adalah game open-world RPG yang hadirkan kisah menarik dan tak biasa. Game ini pertama kali dirilis pada 2020 dan sudah berusia 2 tahun dengan diberikan berbagai macam konten serta kisah menarik mengenai dunia Teyvat.

Game garapan HoYoverse ini sudah sampai pada update 3.1 yang mana menghadirkan area padang pasir Sumeru bersamaan dengan Archon Quest yang seru didalamnya. Berbicara tentang region Sumeru, penulis ingin bagikan informasi mengenai sejarah 3 penguasa Sumeru kuno Genshin Impact serta peradaban lamanya.

Hmm~ sudah kayak belajar sejarah saja ya, brott. Yaudah, yuk langsung kita gali bersama aja!

Satu Peradaban yang Dipimpin oleh 3 Penguasa Sumeru Kuno Genshin Impact

Dar Al – Shifa

Sebelum diperintah oleh Akademiya, region Sumeru ini dulunya dipimpin oleh tiga penguasa yang kerap disebut ‘God-Kings‘ dalam satu peradaban atau kerajaan bernama Ay-Khanoum. Mungkin ini serupa dengan konsep trimurti yang dianut oleh beberapa agama. Namun, tentu saja dikemas dalam peruntukan yang berbeda.

Tiga penguasa ini adalah Greater Lord Rukkhadevata sang Dendro Archon, Scarlet King atau Al-Ahmar sang King of Warriors, dan Goddess of Flower yang juga sering disebut Mistress of Dreams.

Kerajaan Ay-Khanoum dibentuk oleh Scarlet King dan Goddess of Flower, dibantu perkembangannya oleh Greater Lord Rukkhadevata. Kerajaan ini memiliki arti “City of the Moon Maiden” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Kota Gadis Bulan”.

Kuil Kerajaan Greco-Bactrian di Ai Khanoum

Dalam bahasa Uzbekistan, nama kota ini disamakan dengan “Ai-Khanoum” yang berarti “Gadis Bulan”. Kota ini sendiri ternyata memang eksis di dunia nyata pada zaman dahulu. Tepatnya berlokasi di bagian utara Afghanistan dan menjadi ibukota Kerajaan Greco-Bactrian.

Lalu, bagaimanakah latar belakang dari 3 penguasa ini? Yuk, kita gali lebih dalam.

Goddess of Flowers

Nilou berdandan dan menarikan tarian Goddess of Flower pada Festival Sabzerus di Genshin Impact 3.0

Nama Goddess of Flowers pernah disebutkan dalam Archon Quest Genshin Impact 3.0. Bersama Scarlet King, ia mendirikan kerajaan Ay-Khanoum di padang pasir yang indah banget. Ia juga yang pertama kali memberikan ide untuk mengadakan Festival Sabzerus demi memperingati hari ulang tahun Greater Lord Rukkhadevata.

Menurut para pengikutnya, eksistensi Goddess of Flower ini sama dengan matahari dan hujan. Sang Dewi membawakan rahmat pengampunan, sukacita, cinta, musik, nyanyian, dan anggur sebagai sumber kekuatan untuk mereka.

Padisarah

Legenda mengatakan, kematian Goddess of Flower ini disebabkan oleh panasnya matahari yang membakar dan pasir di gurun yang mana belum dikonfirmasi kebenarannya. Ada juga yang mengatakan bahwa sang Dewi sudah merencanakan kematiannya sendiri.

Gugurnya Goddess of Flower menjadi awal keruntuhan peradaban Ay-Khanoum dan punahnya bunga Padisarah yang indah. Kisah ini sendiri bisa kamu baca di deskripsi material ascencion senjata “Oasis Garden’s Mourning”.

Scarlet King

Makam Scarlet King

Scarlet King atau juga biasa dipanggil Al – Ahmar, memiliki arti “Sang Merah”. Ia juga dikenal sebagai rajanya para prajurit, ahli hortikultura dan orang bijak. Menurut legenda, Scarlet King dulunya adalah anak langit, maka dari itulah ia dipuja oleh penduduk padang pasir.

Ia jatuh hati pada Goddess of Flowers yang mana sang Dewi menyadari hal itu. Namun, tidak diketahui apakah perasaan tersebut terbalas atau hanya bertepuk sebelah tangan. Setelah kematian sang Dewi Bunga, ia menjadi gila dan sangat berduka.

Penyakit Eleazar

Karena kesedihan yang membuatnya menjadi gila, sang Raja menciptakan utopia untuk rakyatnya, yang mana justru membuat rakyatnya sengsara. Ia melepaskan ‘ilmu hitam’ ke dunia, dari sinilah penyakit Eleazar dan Withering Zone pertama kali muncul di region Sumeru.

Menyadari perbuatannya yang merugikan rakyat, ia memutuskan untuk mengorbankan dirinya sendiri. Ilmu hitam ini perlahan hilang dibantu oleh kekuatan Greater Lord Rukkhadevata.

Seluruh orang yang selamat dari ilmu ini diungsikan ke Desa Aaru. Karena itulah Candace yang padahal juga anak padang pasir mengatakan bahwa kebangkitan Scarlet King hanya menimbulkan masalah nantinya.

Greater Lord Rukkhadevata

Greater Lord Rukkhadevata

Greater Lord Rukkhadevata menghilang saat Cataclysm terjadi, dan banyak yang percaya bahwa ia telah gugur dalam perang ini. Namun, tidak ada bukti apapun atas kematiannya. Saat ia menghilang, Lesser Lord Kusanali ditemukan dan dipercaya sebagai penerus Rukkhadevata.

Sebelum kematian Scarlet King, ia bersama Rukkhadevata sekali lagi mengumpulkan orang dan menciptakan peradaban baru. Namun, karena Scarlet King masih terjerat kesedihan masa lalu, hal ini menyebabkan keduanya menjadi pisah jalan; Scarlet King di Padang Pasir, Rukkhadevata menciptakan hutan hujan di region Sumeru.

Kusanali, kah?

Dalam Archon Quest 3.1, dikisahkan bahwa ilmu hitam yang dibawa oleh Scarlet King membuat rakyatnya binasa, dan tanaman yang tumbuh langsung layu semua. Rukkhadevata yang mengetahui hal ini langsung turun tangan dan membantu Scarlet King untuk membasmi ilmu terlarang ini.

Nyatanya, ilmu ini tidak bisa dihilangkan hanya dalam sekajap mata. Setelah Scarlet King memutuskan untuk mengorban diri, sang Dendro Archon juga ikut berkorban dengan menghabiskan seluruh kekuatannya untuk menghapus bersih ilmu terlarang ini.

Alhasil, kekuatannya yang terkuras habis, membuat tubuhnya menyusut menjadi anak kecil. Dalam ilustrasi di trailer story Genshin Impact 3.1, kita bisa lihat bahwa sosok anak kecil ini mirip dengan Lesser Lord Kusanali.

Setelah Keruntuhan Ay – Khanoum

Ruin Golem yang masih menyala

Jelas sekali kematian Goddess of Flowers menjadi awal mula keruntuhan segalanya termasuk Ay – Khanoum. Warga Sumeru terpecah belah dan mulai menciptakan kerajaan – kerajaannya sendiri, salah satunya adalah Gurabad.

Kerajaan ini berdiri di antara kematian Goddess of Flowers dan kebangkitan peradaban baru yang dibentuk oleh Scarlet King dan Greater Lord Rukkhadevata.

Menurut buku Sejarah Shiruyeh dan Shirin, kerajaan ini dulunya dipimpin oleh Ormazd Shah yang kemudian dibunuh oleh anak angkatnya sendiri, Kisra. Kemudian, Kisra sendiri dibunuh oleh anaknya, Shiruyeh, yang kemudian menjadi gila dan menghilang.

Setengah dari kerajaan juga terserang penyakit “Shiruyeh’s Plague”, dan tak lama kemudian, kota itu hancur menyatu dengan pasir.

Sisa peninggalan Gurabad bisa kita temukan di bagian selatan padang pasir, dimana Ruin Golem yang masih aktif berada. Hingga saat ini, masih belum diketahui alasan mengapa Khaenri’ah mengirim Ruin Golem tersebut ke Gurabad serta gunung Devantaka region Sumeru.

Itulah sejarah peradaban Sumeru kuno Genshin Impact berdasarkan pengetahuan saya sejauh ini. Apakah teman – teman miliki teori dan pendapat lain mengenai peradaban kuno Sumeru? Boleh banget berbagi di kolom komentar, ya!


Baca juga informasi menarik lainnya terkait Genshin Impact atau artikel lainnya dari Sofie Diana. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com

Exit mobile version