[REVIEW] Predator: Hunting Grounds – Nama Besar yang Salah Langkah!

in , ,

Predator, siapa yang tak mengenal tokoh pop culture mengerikan sekaligus keren yang satu ini. Dengan wujud humanoid, kemampuan fisik yang jauh lebih hebat dari manusia, dan berbagai gadget mutakhir yang dimilikinya, Predator menjadi pemburu yang sangat mematikan. Melalui identitasnya yang menarik tersebut, Predator menjadi salah satu icon pop culture yang sangat mendunia.

Tentu jadi kabar yang menarik setelah akhirnya, tokoh yang satu ini akan diangkat dalam format video game melalui Predator: Hunting Grounds. Sebelumnya memang ada beberapa game yang sudah mengangkat “Predator” sebagai tema utamanya, namun kebanyakan berbasis single player saja. Sesuatu yang berbeda dari Predator kini ditawarkan melalui Predator Hunting Grounds yang punya fokus utama pada aspek multiplayernya.

Hadir lewat tangan dingin IllFonic yang dulu sempat berhasil melalui proyek asymmetric multiplayernya – Friday the 13th. Lantas konten dan hal baru apa sajakah yang hendak ditawarkan IllFonic melalui Predator: Hunting Grounds? Review ini akan menjawabnya lebih dalam.

Murni Game Multiplayer Tanpa Cerita

Tak lagi membawa konsep Predator sebagai game single player dengan bumbu cerita layaknya beberapa game sebelumnya, kini Predator: Hunting Grounds murni merupakan game multiplayer. Game tersebut sama sekali tak menyematkan mode single player dan tentunya juga tanpa aspek cerita apapun di dalamnya. Game tersebut mengusung konsep asymmetric multiplayer layaknya Evolve ataupun Dead by Deadlight. Dimana para player akan disediakan pada rolenya masing-masing. Lebih spesifiknya lagi, game tersebut mengusung mode 1 vs 4 player.

Sistem asimmetric multiplayer 1 vs 4 ala Evolve menjadi gameplay yang diusung Predator: Hunting Grounds.

Disini kalian akan dihadapkan peran sebagai special forces yang dikenal sebagai “Fireteam” dan juga Predator. Kedua kubu ini punya objective berbeda di pada tiap matchnya. Sebagai Fireteam, kalian akan tergabung pada squad yang terdiri hingga 4 orang pemain. Sementara pada kubu Predator, kalian akan berperan sendirian tanpa bantuan player lain ataupun companion lain.

Gameplay

Gameplay dari sudut Fireteam akan membawa kalian pada sudut pandang FPS. Bersama dengan ketiga player lainnya, kalian akan dituntut untuk menyelesaikan misi yang telah diberikan sembari memburu Predator yang berkeliaran. Untuk dapat menyelesaikan misi, tentunya kalian juga dituntut agar saling kompak dan slaing menjaga. Agar terasa semakin ramai, nantinya kalian juga akan menghadapi para NPC yang sudah bersiap untuk menggagalkan misi kalian.

Fireteam akan mengusung gameplay FPS, sementara Predator dalam third person.

Agar bisa menyesuaikan dengan playstyle kalian, Predator Hunting Grounds memberikan opsi pilihan senjata yang cukup variatif. Mulai dari asault rifle, sniper, shotgun, pistol, hingga gatling gun yang nantinya bisa diunlock setelah mencapai level tertentu. Selain itu ada 4 class yang dapat kalian pakai dan kesemuannya punya abilitynya masing-masing. Namun untuk memakai class yang berbeda, kalian harus mengunlocknya satu persatu dengan mencapai lavel tertentu.

Fireteam menghadirkan sistem kelas dan senjata berbeda yang bisa disesuaikan dengan playstyle.

Kondisi Fireteam dalam menyelesaikan misi bisa dibilang kondisional, pertama adalah menyelesaikan objective dan selamat dari Predator. Yang kedua adalah mampu menghabisi Predator sebelum objective terselesaikan. Lain halnya dengan Fireteam, Predator punya objective yang lebih simple, yaitu menghabisi semua Fireteam yang ada. Ada banyak gadget menarik yang bisa kalian manfaatkan untuk memburu para Fireteam. Mulai dari heat detector, claw, pedang, plasma cannon, dan senjata lainnya yang nantinya bisa diunlock lewat progress.

Predator sebagai “one man army” disini juga punya kombinasi variatif terkait senjata dan juga classnya.

Sama seperti Fireteam, seiring dengan progress permainan, kalian juga dapat memakai class berbeda dari Predator. Kesemuannya tentunya punya kelebihan dan kekurangannya masing masing. Seperti class hunter yang punya stats seimbang, berserker yang punya HP tank plus serangan yang kuat, atau scout yang punya stamina plus kecepatan yang tinggi.

Seperti pada versi filmnya, Predator akan dipersenjatai dengan ability dan senjata gadget modern yang canggih, seperti menembakan plasma dan berkamuflase misalnya.

Balancing yang tak seimbang!

Sebuah game dengan fokus multiplayer asymmetric 1 vs 4 awalnya terdengar menarik bagi kami. Apalagi melihat Predator dengan reputasinya sebagai humanoid yang mematikan, semakin meyakinkan kami bahwa game tersebut nantinya akan mengusung sistem balance yang membuat satu predator setara dengan 4 kekuatan special force.

Namun harapan hanyalah sekedar harapan, Predator: Hunting Grounds terasa punya sistem balance yang kurang seimbang. Sebenarnya bukanlah dari kubu Predator yang terlihat lemah, melainkan skema misi yang tersedia.  Seluruh misi hanya berkutat pada objective yang sama dan membuat Fireteam selalu melekat bersama pada satu lokasi yang sama.

Kondisi Fireteam yang selalu bergerombol membuat mereka terasa lebih dominan. Apalagi tak ada objective tertentu yang menuntut mereka untuk berpisah dari rombongan walau untuk sementara saja.

Sementara kunci utama Predator memenangkan match adalah membunuh anggota Fireteam satu persatu. Dalam banyak skema match, kami jarang sekali menemukan para anggota Fireteam yang mau berpencar. Hal ini tentu membuat kubu Predator sangat sulit untuk memenangkan tiap match. Terlihat lucu melihat reputasi Predator sebagai pemburu justru malah berakhir menjadi makhluk yang diburu.

Predator yang dilabeli sebagai “pemburu” justru sering kali menjadi pihak yang diburu.

Salah satu strategi yang bisa diambil dalam situasi tersebut adalah memanfaatkan para AI tentara yang juga memburu Fireteam. Namun sayangnya, sekali lagi, strategi ini tak dapat terlalu diandalkan. Melihat para AI yang bodoh dan mudah dihabisi membuat Fireteam tak mendapatkan cukup tantangan yang berarti.

AI yang terlihat bodoh juga tak memberikan tantangan cukup berarti bagi pihak Fireteam.

Solusi yang kami tawarkan untuk masalah balancing ini? Melalui update mendatang kami harap IllFonic bisa mengimplementasikan salah satu dari dua hal yang kami sebutkan. Pertama, bisa diakali dengan meningkatkan stat Predator agar lebih kuat dan tidak mudah dibunuh. Yang kedua, IllFonic bisa menyematkan berbagai mission baru yang membuat Fireteam dapat “terpecah” sementara dari rombongan untuk menyelesaikan objective tertentu.

Mekanisme dan skema control yang kurang dipoles

Sebenarnya ada banyak mekanisme menarik yang diusung dalam game ini. Hanya saja beberapa diantaranya terasa tidak terpoles dengan sepenuh hati. Mekanisme Predator yang dapat melompat dari pohon ke pohon layaknya ninja memang terlihat sangat keren. Namun seringkali menemui permasalahan yang mengganggu.

Mekanisme memanjat dan melompat dari atas pohon sebenarnya terlihat keren. Namun masih sering terkendala bug dan trigger yang tak konsisten, yang sering kali membuat kami kesulitan untuk turun dan menaiki pohon.

Seperti bug yang terkadang membuat kami tak bisa memanjat atau menuruni pohon. Dari kubu Fireteam sendiri, ia punya mekanisme gameplay yang kurang fluid dan agak kaku. Kita bahkan tidak bisa melakukan vault atau melompati sebuah objek yang terlihat terjangkau.

Gerakan vault yang simple untuk melompati obstacle di depan juga tidak disematkan.

Selain bug dalam permainan tersebut, ada sebuah bug yang paling sering kami jumpai, dimana pada main menu dan customize character, karakter Predator sering kali tidak memuat texturenya dan terlihat “lebih mengerikan” seperti berikut ini.

Bug texture seperti ini menjadi salah satu hal yang paling sering kami jumpai.

Lebih menyebalkannya lagi, bagi kalian yang memainkannya via PS4 atau menggunakan controller. Predator: Hunting Grounds terasa kurang bersahabat dengan skema controlnya. Untuk berlari, kalian harus menahan L3 sembari mengarahkan arah pergerakan karakter dan bukannya menggunakan 1 tombol yang dapat ditekan dengan mudah saja.

Matchmaking Super Lama yang Menyiksa Dada

Bila membicarakan hal paling menyebalkan dari game ini tentu datang dari sistem matchmakingnya yang membuat frustasi. Pada masa awal perilisannya ini, Predator: Hunting Grounds punya sistem matchmaking yang terasa sangat lama. Hal ini kemungkinan terjadi pada servernya yang kurang stabil ataupun jumlah playernya yang masih sangat sedikit.

Matchmaking adalah hal terburuk dan menyebalkan dalam game ini.

Hingga review ini ditulis, kami masih sering mengalami kendala matchmaking yang terlewat sangat lama tersebut. Untuk no preference yang memasukan kalian pada kubu acak memerlukan waktu 3 hingga 6 menit. Untuk kubu Fireteam yang persentase pemainnya lebih banyak, kalian akan dihadapkan waktu 4 hingga 10 menit.

Sementara yang paling menyebalkan datang dari kubu Predator. Untuk dapat bermain sebagai Predator kalian akan dihadapkan pada lama matchmaking yang menyesakan dada. Estimasinya memang tertulis 6 menitan, namun sering kali kami menunggu 15 hingga 30 menit tanpa hasil sama sekali. Disini, dapat bermain menjadi predator dengan matchmaking yang singkat bisa kami anggap sebagai “keberuntungan”.

Setelah sekian lama menunggu hanya 3 orang saja yang bermain? Pfttttt.

Sangat membosankan ketika dihadapkan pada matchmaking yang sangat lama. Bahkan sering kali lama waktu menunggu matchmaking jauh lebih lama dibanding panjang satu match. Bisa dibilang ini merupakan masalah paling serius yang dihadapi oleh Predator: Hunting Grounds saat ini

Lootbox & Customization

Setiap kalian menyelesaikan match, kalian akan menerima credits dan exp. Credits sendiri dapat digunakan untuk membuka crate berisikan random item ataupun membeli item kosmetik secara langsung. Selain membeli dengan credits, crate juga dapat diperoleh sebagai bonus naik level.

Crate dapat diperoleh dengan credits ataupun bonus setelah naik level.

Crate yang kalian dapatkan berisikan random item kosmetik dengan nilai rarity yang berbeda-beda. Cara lainnya untuk memperoleh item menarik dari crate tersebut tentunya adalah membelinya langsung dengan uang sungguhan. Namun bagi kami, hal tersebut terasa tak terlalu sepadan, salah satunya adalah karena memperoleh crate bisa dibilang cukup mudah. Plus tiap crate yang didapatkan seringkali memberikan rarity yang tinggi.

Meski didapat secara acak, rarity item yang didapat tidaklah terasa pelit.

Dari kubu Fireteam, kalian dapat mengubah gender dan mengequip item-item menarik. Mulai dari skin seragam, skin senjata, topeng, hingga mask. Dari kubu Predator juga tak jauh berbeda, dimana kalian dapat mengubah gender plus menggunakan berbagai skin kosmetik yang terlihat menarik.

Kubu Predator maupun Fireteam dapat memperkeren tampilannya dengan segudang item yang menunggu untuk diunlock.

Satu-satunya masalah yang kami hadapi adalah, pada mode customize ini tidak memberikan indikasi yang jelas terkait item mana sajakah yang telah diunlock. Hal ini menyulitkan kami untuk menemukan dan memakai item mana sajakah yang sudah kami unlock setelah membuka crate.

Salah satu hal yang kami keluhkan adalah,HUD dan indikasi item mana sajakah yang telah kita unlock tidak terlihat secara jelas dan sulit untuk ditemukan.

Visual yang Memanjakan!

Sedari tadi bisa dilihat bahwa kami memberikan kritik tajam pada gameplay dan mekanisme Predator: Hunting Grounds. Namun bukan berarti game tersebut hadir tanpa kelebihan sama sekali. Melalui aspek visualnya, bisa dibilang bahwa game tersebut tampil sangat memanjakan mata.

Konsep game Predator dengan latar hutan belantara sebagai pondasi mampu terlihat detail dan mengagumkan. Tiap environment yang tersaji mampu terpresentasikan dengan apik melalui balutan Unreal Engine.

Tiap efeknya seperti bayangan, tata cahaya, reflection, fog, dan partikel lainnya mampu terlihat apik dan memberikan kesan dan atmosfir yang lebih imersif. Sebagai buktinya, kalian bisa melihat segudang screenshot yang telah kami abadikan di sepanjang review ini.

Sound & Soundtrack yang Imersif

Selain visual, aspek lain yang patut diacungi jempol untuk Predator Hunting Grounds datang melalui implementasi sound designnya. Presentasi audio yang dihadirkan membuat pertarungan antar Fireteam Vs Predator terasa lebih Imersif. Predator yang mendekati mangsa ataupun saat ia bergerak menaiki pohon terdengar lebih nyata.

Tiap aksi dari Predator meninggalkan rekam suara yang terdengar imersif.

Begitu pula dengan soundtrack yang dihadirkan juga mampu dipresentasikan dengan baik. Meski tak hadir dengan jumlah track yang variatif, Namun berbagai soundtrack yang dihadirkan mampu semakin memperkuat atmosfer permainan.



Sebagai Fireteam, kalian akan disuguhkan dengan soundtrack yang lebih mencekam dalam menghadapi predator plus tentara musuh. Begitu pula sebagai Predator, dalam perburuan kalian akan disuguhkan Soundtrack yang akan lebih memacu adrenalin



Conclusion

Dengan mengusung nama besar “Predator” didalamnya, sayangnya Hunting Grounds tidak bisa memberikan sesuatu yang benar-benar spesial. Secara tema dan konsep sebenarnya game ini terlihat potensial, namun sayangnya hal tersebut tak dapat dipresentasikan dengan maksimal.

Dengan berbagai kekurangan yang ada, tampaknya membeli game ini sekarang juga dengan harga penuh bukanlah sesuatu yang bisa kami rekomendasikan.

Meski punya presentasi visual dan audio yang sangat baik, sayangnya masih ada banyak kekurangan yang membuat proyek IllFonic ini jauh dari kata sempurna. Gameplay yang terasa kurang solid, bug yang masih bertebaran, sistem balancing yang tak seimbang, hingga matchmaking super lama yang menyebalkan menjadi banyak hal yang masih harus digaris bawahi.

Untuk saat ini, kami melihat bahwa hanya ada sedikit game yang masih bertahan dengan konsep asymmetric multiplayer 1 VS 4-nya. Sementara banyak diantaranya yang kini telah mati, seperti Evolve misalnya yang awalnya juga terlihat sangat ambisius. Untuk dapat mempertahankan Predator: Hunting Grounds tampaknya akan jadi PR yang besar bagi IllFonic. Namun kami harap developer tersebut dapat memperbaiki dan membuat game potensial yang satu ini menemui titik terangnya.

Ernard Anky

Written by Ernard Anky