Langkah untuk terus menghidupkan seri Tales lama tampaknya terus berlanjut. Setelah sebelumnya ada Tales of Grace f dan juga Tales of Xillia yang mendapatkan perlakuan remaster, kini kita kedatangan Tales of Berseria Remastered, sebuah judul yang rilis di konsol PS3 dan PS4 pada 2016 silam.
10 tahun memang bukan waktu yang terlalu lama untuk sebuah game, namun bukan juga waktu yang singkat. Lantas, apakah remaster kali ini mampu menyajikan sesuatu yang baru seperti judul serupa lainnya? Mari kita bahas!
Daftar isi
Review Tales of Berseria Remastered, Kisah Kelam Penuh Amarah dan Dendam

Mengambil latar yang sama dengan Tales of Zestiria, Berseria tidak memiliki kesamaan selain dunia yang mereka tempati. Bahkan dari segi narasi sendiri, game ini mengambil langkah yang berkebalikan dengan seri Zestiria yang ceritanya jauh lebih fun.
Salah satu hal yang benar-benar membuat Tales of Berseria terasa berbeda dibanding seri Tales lain, bahkan jika disejajarkan dengan banyak RPG di luar sana, ada pada kekuatan karakternya.
Menceritakan kisah tentang Velvet Crowe yang pada awalnya hanyalah sosok yang menginginkan kehidupan sederhana. Ia tinggal di desa kecil bersama adik laki-lakinya, Laphicet serta Arthur, kakak iparnya. Setelah kehilangan sang kakak perempuan akibat tragedi Scarlet Night, mereka perlahan mencoba bangkit dan menjalani hidup seperti biasa. Di tengah kondisi dunia yang semakin kacau karena manusia berubah menjadi daemon, Velvet dan keluarganya masih berusaha bertahan dengan cara mereka sendiri.
Namun situasi itu runtuh ketika Arthur mengambil keputusan ekstrem. Demi menahan penyebaran daemon dan menyelamatkan dunia, ia melakukan ritual yang mengorbankan adik Velvet. Peristiwa itu tidak hanya menghancurkan hidup Velvet, tetapi juga mengubah dirinya menjadi daemon spesial yang mampu menyerap kekuatan makhluk lain.
Selang beberapa tahun kemudian, Velvet berhasil keluar dari penjara berkat bantuan sosok misterius yang mendorongnya untuk menuntut balas dendam. Tanpa banyak pertimbangan, ia memilih jalan tersebut. Dari sini mulai terlihat bahwa Velvet bukan protagonis yang heroik namun memilih untuk mengambil jalan yang kebalikan.
Narasi dalam Berseria menitikfokuskan pada perjalanan amarah dan bagaimana kita memahami alasan dibalik apa yang sebenarnya terjadi. Ia merupakan sebuah perjalanan yang sarat akan pembalasan dendam, terutama terhadap Arthur yang sudah membunuh adiknya.
Combat

Sistem combat di Tales of Berseria juga bisa dibilang termasuk yang paling solid dalam franchise ini, meski tetap tidak lepas dari kritik. Seperti seri sebelumnya, pertarungan berlangsung secara real-time dengan ciri khas Linear Motion Battle System ala Tales. Di Berseria, sistem ini dikembangkan menjadi Liberation-LMBS yang memberi kebebasan lebih pada pemain untuk bergerak dan berganti karakter secara langsung, dengan kamera yang mengikuti pergerakan secara dinamis.
Dalam pertempuran, pemain dapat mengombinasikan berbagai serangan fisik, sihir, serta teknik khusus yang dikenal sebagai Artes. Seiring progres permainan, variasi Arte akan terus terbuka dan bisa dirangkai menjadi combo sesuai preferensi masing-masing pemain.
Yang membedakan dari seri lain adalah sistem penggunaan Arte yang tidak lagi bergantung pada mana atau item. Sebagai gantinya, Berseria menggunakan Soul Gauge. Sistem ini membatasi penggunaan skill berdasarkan jumlah “soul” yang dimiliki, biasanya hingga lima unit.
Ketika Soul Gauge habis, pemain harus menunggu hingga terisi kembali sebelum bisa melancarkan Arte berikutnya. Namun, pengisian ulang gauge tidak sepenuhnya pasif. Mengalahkan musuh, memberikan efek stun, atau melakukan rangkaian serangan dengan efektif bisa mempercepat pengisian tersebut.
Eksplorasi

Di satu sisi, variasi area yang ditawarkan patut diapresiasi. Kamu akan menjelajahi berbagai lokasi dengan tema yang berbeda, mulai dari kuil besar, padang luas, hingga wilayah bersalju dan gunung berapi. Kota dan desa yang dikunjungi juga terasa cukup hidup dan punya identitas masing-masing. Secara desain dunia, game ini sebenarnya punya pondasi yang kuat dan menarik untuk diikuti.
Hanya saja bagian eksplorasi dungeon agak berantakan. Sepanjang sebagian besar permainan, dungeon hanya diisi lorong-lorong panjang dengan desain yang mirip satu sama lain. Hampir tidak ada elemen puzzle atau variasi yang membuat eksplorasi terasa menantang atau berbeda.
Situasi ini memang sedikit membaik di bagian akhir permainan, ketika mulai diperkenalkan lebih banyak elemen puzzle. Bahkan ada satu dungeon yang terasa cukup menyenangkan untuk dijelajahi. Sebagai orang yang tidak begitu menyukai puzzle dalam game, saya bisa merasa kalau porsinya pas dan tidak melulu terpaksa menyelesaikan seperti kebanyakan game RPG dari Jepang pada umumnya.
Grafis dan QoL

Dari sisi visual, versi remaster Tales of Berseria masih mempertahankan gaya warna yang cerah dan tajam dengan peningkatan resolusi ke kualitas HD. Efek visual saat pertarungan terlihat cukup menarik, didukung dengan art direction yang detail serta desain karakter yang tetap ikonik dan mudah dikenali. Sayangnya, peningkatan yang diberikan terasa tidak terlalu jauh dibanding versi original. Namun ini berarti kalau dari originalnya sudah sangat cukup indah.
Berbicara soal perubahan, remaster ini membawa sejumlah peningkatan quality of life yang cukup membantu. Beberapa di antaranya seperti fast travel yang langsung tersedia sejak awal permainan, peningkatan sedikit pada kecepatan gerak karakter, serta tambahan ikon dan indikator baru untuk mempermudah navigasi.
Peningkatan kecepatan gerak terasa nyaris tidak signifikan. Perbedaannya sangat tipis dibanding versi lama, dan yang paling mengganggu, game ini tetap tidak menyediakan tombol sprint. Hasilnya, mobilitas karakter masih terasa lambat di banyak situasi.
Selain itu, kini tersedia fitur auto-save dan opsi skip yang lebih fleksibel. Pemain juga diberikan pilihan untuk mengganti bahasa voice di menu konfigurasi, serta akses ke Grade Shop sejak awal permainan, yang sebelumnya baru terbuka setelah menyelesaikan game.
Sound

Pada bagian sound adalah salah satu aspek yang masih bisa berdiri tanpa malu. Musiknya memang tidak spektakuler, tapi punya identitas. Nuansa khas JRPG Jepang masih terasa kuat. Tidak bombastis, tapi cukup untuk membangun suasana.
Voice acting juga solid, terutama Velvet. Emosi yang disampaikan terasa konsisten dan tidak berlebihan. Ini penting, karena karakter seperti Velvet bisa dengan mudah jatuh jadi edgy yang cringe kalau tidak ditangani dengan baik.
Efek suara saat combat masih terasa kurang spesial, tapi setidaknya tidak mengganggu. Mungkin bagian ini tidak begitu banyak dipoles karena memang dari sananya sudah ok. Karena ini hanya remaster, jadinya tidak ada perubahan yang terasa sangat signifikan.
Kesimpulan
Tales of Berseria Remastered berada pada posisi yang membingungkan. Diantara banyak game Tales yang lawas dan butuh perhatian, sangat disayangkan malah judul baru 10 tahun ini yang dapat perlakuan remaster.
Meski pun begitu, dikarenakan dari originalnya, game ini sudah bagus. Penulis tidak punya komplain yang berarti ketika mencicipi versi remastered kali ini. Ia tetap menjadi salah satu Tales dengan cerita yang cukup kompleks dan gelap, sesuatu yang mungkin terasa jarang bagi franchise tersebut untuk belakangan ini.
Apakah nanti Zestiria juga akan mendapatkan remastered? Yang jelas, game-game jadul yang diangkat kembali akan menjadi gerbang baru bagi mereka yang belum mencicipi seri ini dan menurut penulis, ia sangat layak untuk dapat perhatian pencinta JRPG seperti kamu.
Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Review atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.









![[RUMOR] Santa Monica Studio Tengah Kerjakan Game Baru 20 Santa Monica Game Baru](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/03/Santa-Monica-Game-Baru-2-120x86.jpg)






