Studi Terbaru Ungkap Anak yang Bermain Game Kekerasan Cenderung Akan Tertarik untuk Berinteraksi dengan Senjata Sungguhan

in

Studi terkait video game agaknya memang menjadi kajian yang menarik untuk diteliti karena perkembangannya yang cukup dinamik. Kini para peneliti dari Jurusan Psikologi Universitas Negeri Ohio, belakangan ini merilis sebuah hasil penelitiannya terkait video game dengan konten kekerasan dan pengaruhnya terhadap perilaku agresif di dunia nyata.

Para peneliti tersebut mengumpulkan 220 anak yang memiliki rentang umur dari 8 hingga 12 tahun, dan membagi mereka kedalam tiga kelompok secara berpasang-pasangan. Tiap kelompok tersebut akan memainkan satu dari tiga versi Minecraft yang berbeda, yakni versi dengan kekerasan senjata api, versi dengan kekerasan pedang, versi tanpa kekerasan atau versi biasa.

Pada ruangan pertama, anak-anak tersebut diberi waktu untuk bermain game Minecraft berdasarkan kelompoknya masing-masing selama 20 menit. Setelah itu, mereka dibawa menuju ruangan kedua yang berisikan berbagai macam mainan, serta sebuah lemari kaca berisikan senjata api sungguhan yang tentunya tidak berfungsi dan tidak berisikan peluru.

Penelitian tersebut mendapati hasil demikian; (1) 76 anak yang bermain Minecraft dengan versi kekerasan senjata api, 62% dari mereka tertarik bermain dengan pistol, (2) 74 anak yang bermain Minecraft dengan versi kekerasan pedang, 57% dari mereka juga tertarik bermain dengan pistol, dan (3) 70 anak yang bermain Minecraft dengan versi tanpa kekerasan, hanya 44% dari mereka yang tertarik bermain dengan pistol.

Para peneliti kemudian mendapati bahwa anak-anak yang bermain Minecraft dengan versi kekerasan tersebut cenderung menodongkan senjata api yang mereka mainkan kepada dirinya sendiri atau temannya, dibandingkan dengan anak-anak yang bermain Minecraft dengan versi tanpa kekerasan. Lebih lanjut, peneliti juga mendapati bahwa anak-anak yang memang mengkonsumsi game atau medium lainnya yang mengandung unsur kekerasan dirumahnya, memiliki tendensi yang lebih tinggi untuk menodongkan senjatanya kepada diri sendiri atau temannya, bahkan menarik pelatuknya.

Minecraft

Perlu diketahui bahwa para peneliti mengakui bahwa studi ini memiliki beberapa kelemahan dan keterbatasan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan pada sebuah kondisi buatan dan tidak merepresentasikan lingkungan pada dunia nyata. Tidak hanya itu, Minecraft yang sudah dimodifikasi khusus penelitian ini sendiri juga tidak terlalu menampilkan elemen kekerasan seperti darah ataupun adegan sadis, karena memang sang peneliti tidak boleh menyajikan permainan bernuansa kekerasan yang tidak sesuai dengan rating dan umur mereka.

Melalui studi ini, para peneliti juga memberikan rekomendasi kepada pemilik senjata untuk selalu mengamankan persenjataan mereka sesuai prosedur yang berlaku, dan orang tua juga harus mulai turut aktif membimbing anak-anaknya dalam hal bermain video game sekalipun, untuk menghindari terpaan game-game bernuansa kekerasan, terutama game-game yang tidak sesuai untuk umur anak.

Studi akan hubungan maupun pengaruh video game terhadap perilaku kekerasan memang sudah cukup banyak diteliti dan membuahkan hasil yang berbeda-beda, bahkan tidak jarang satu studi berkontradiksi dengan studi lainnya. Hal ini juga mengingat bahwa WHO baru-baru ini mengklasifikasikan kecanduan bermain video game sebagai penyakit metal dan diresmikan pada tahun 2022 mendatang. Dan nampaknya kajian terkait video game dan pengaruhnya terhadap berbagai golongan akan terus bermunculan untuk bertahun-tahun yang akan datang.

Sumber: JAMA Network (via Game Rant)


Baca juga artikel keren lainnya dari Andy Julianto.

Andy Julianto

Written by Andy Julianto

Sesosok alien yang gemar berkelana menjelajahi segmentasi game-game RPG dan Indie. Cukup aktif dalam berpetualang di game MMO Guild Wars 2, dan saat ini masih berusaha menyelesaikan game Persona 5 ditengah-tengah kesibukan mengerjakan skripsi #Prioritas. You can contact me via [email protected]