[REVIEW] Trials of Mana – JRPG Klasik yang Asyik

in , , ,

Merilis dua remake dalam satu bulan tentu bukan sesuatu yang mudah bagi Square-Enix. Mereka harus membagi timnya agar semua rampung dalam deadline yang telah ditentukan. Setelah puas menjelajahi indahnya Midgar di Final Fantasy VII Remake dan mengais memori lama yang bersinar lagi. Kami diberikan kesempatan untuk mengecap manisnya seri JRPG klasik yang diremake dengan sangat apik yakni Trials of Mana.

Seri ini sebenarnya sudah mengemuka di Super Nintendo Entertainment System atau SNES pada tahun 1995 silam. Namun anehnya, ia tak dapatkan terjemahan resmi berbahasa Inggris untuk pasar barat kala itu. Hingga pada akhirnya Square-Enix memutuskan untuk membuat remakenya dan dirilis serentak di seluruh dunia pada tahun 2020. Tepatnya tanggal 24 April 2020.

Karena saya pribadi belum pernah bermain versinya di masa lampau dan hanya menontonnya via YouTube, saya akan memberikan pendapat saya dari player yang baru saja memainkan gamenya. Jika dibandingkan seri orisinalnya, peningkatan yang diberikan Square-Enix di Trials of Mana memang tak bisa dibilang setengah hati. Mereka berhasil mentranslasikan bagaimana semua dunia hingga karakter 2Dnya menjadi 3D dengan sangat akurat.

Sama dengan game modern lain, gamenya juga akan miliki voice acting berbahasa Inggris atau Jepang yang bisa kamu pilih sesukamu. Namun jika kamu sangat pro voice-acting berbahasa Inggris, sepertinya kali ini kamu wajib menyerah kalah dan memilih voice versi Jepangnya di Trials of Mana, alasannya? Simak review berikut.

Selamatkan Dunia dan Pohon Mana dari Kehancuran

Gamenya sendiri miliki setting yang sangat standar dan klasik JRPG dengan berbagai kerajaan dan monster di dalamnya. Trials of Mana bersetting di dunia bernama Mana yang terancam hancur berkat aliran mana yang menjadi salah satu sumber daya terbesar dunianya semakin sedikit. Hal ini diakibatkan oleh kehadiran kekuatan jahat yang mulai menyelimuti dunianya sejak pemilik kekuatan besar mana yakni Goddess of Mana tertidur. Kekuatan jahat tersebut berusaha mengaktifkan dan mengambil alih kekuatan Mana Stone dan Mana Sword sebagai salah satu kunci bangkitnya Goddess of Mana.

Cabut pedang Mana adalah tujuan utamamu.

Namun, terdapat hal yang bisa dilakukan sebelum semua itu terjadi, yakni mencabut Mana Sword terlebih dahulu oleh orang-orang terpilih, sebelum kekuatan jahat berhasil merenggutnya. Dari sini, terpilihlah enam orang hero yang akan menyelamatkan Mana dari keterpurukan. Berhasilkah mereka mengambil Mana Sword dan menyelamatkan dunia?

Kisah Berbeda dengan Sistem “Pair”

Berbeda dengan game JRPG kebanyakan, Trials of Mana miliki enam tokoh utama dengan ceritanya masing-masing meskipun pada akhirnya berjalan pada satu tujuan yang sama. Cerita utama Trials of Mana akan tergantung dengan karakter utama yang kamu pilih, namun pada kenyataannya kisah mereka akan terhubung menjadi sebuah sistem yang saya pribadi sebut sebagai “pair”. Pair adalah sistem di mana satu karakter akan miliki cerita yang sama dengan karakter utama lain. Dengan kata lain, karaktermu yang dipilih dengan karakter lain akan miliki musuh yang sama. Ini ditranslasikan di akhir cerita, di mana kamu akan melawan last boss yang berbeda-beda sesuai karakter yang kamu pilih.

Untuk mengaktifkan “pair”, kamu perlu memilih tokoh utama dan companion 1 yang miliki kisah yang sama. Beberapa hero yang miliki cerita yang sama antara lain adalah Duran dan Angela, Hawkeye dan Riesz, dan Kevin dan Charlotte. Dalam review ini saya memilih Duran sebagai tokoh utama dan Angela sebagai companion 1. Dengan sistem tersebut, Trials of Mana miliki tiga storyline yang berbeda dari enam karakter utama yang bisa kamu pilih. Dengan kata lain, kamu harus menamatkan gamenya tiga kali jika ingin mengetahui semua timeline ceritanya.

Duran bisa kamu pasangkan dengan Angela untuk Companion 1 atau sebaliknya, sementara karakter lain juga miliki pasangannya masing-masing. Ini berpengaruh dengan cerita dan boss yang berbeda.

Karena saya memilih Duran sebagai tokoh utama dan Angela sebagai companion 1, maka saya akan merepresentasikan review ini dengan cerita Duran dan Angela. Duran merupakan salah satu tentara terkuat dari kerajaan Valsena. Ia juga merupakan anak dari salah satu ksatria emas terkuat di kerajaan Valsena yang telah tiada. Pekerjaannya sebagai tentara menceritakan bagaimana Duran yang tengah berjaga di pos, mendadak diserang oleh Crimson Wizard yang membunuh rekan-rekannya. Sadar bahwa ia masih lemah di mata Crimson Wizard, Duran bersumpah akan mencari cara untuk berubah class demi menuntut balas ke Crimson Wizard yang muncul memporak-porandakan kerajaannya.

Sementara, Angela merupakan anak dari ratu kerajaan Altena. Angela tak begitu dipedulikan oleh ibunya sedari kecil membuat masa kecilnya di kerajaan sebagai bocah yang haus perhatian. Sayangnya, penderitaan Angela terus berlanjut di masa remajanya. Ia terpaksa pergi dari kerajaan karena ibunya yang dipengaruhi Crimson Wizard, memerintahkan pasukannya untuk membunuh Angela untuk menjadi tumbal mana stone. Berhasilkah mereka berdua mencapai tujuannya demi mengalahkan Crimson Wizard?

Action RPG dengan Cita Rasa Klasik

Trials of Mana masih menganut mekanik action RPG dan tak begitu banyak berubah dari versi SNES. Hal yang membuatnya berbeda adalah kini kamu bisa menikmati gamenya dalam bentuk 3D dan perspektif orang ketiga dengan gerakan dan varian yang berbeda. Kamu bisa melakukan light attack, combo, hingga mengeluarkan ultimate attackmu yang akan semakin kuat seiring berjalannya cerita dan levelmu.

Combonya saat battle bisa dibilang cukup simple, kamu hanya perlu menekan lingkaran untuk serangan biasa dan segitiga untuk heavy attack, jika kamu memainkannya di PlayStation 4. Di awal permainan, variasi combonya memang masih belum banyak. Namun seiring berjalannya cerita dan perubahan class, ia akan hadirkan varian combo baru.

Memukul dengan charged attack (segitiga ditahan jika di PlayStation 4) akan hasilkan CS Particle dari musuh. CS Particle digunakan untuk memenuhi CS Gauge. Ketika CS Gauge telah masuki 100%, maka kamu akan bisa menggunakan ultimate move masing-masing karakter. CS Gauge bisa ditingkatkan seiring perubahan class dan peningkatan level karaktermu.

Saya sendiri merasakan bagaimana Square-Enix mengubah battlenya menjadi lebih fluid dan memuaskan bagi pecinta game action. Memang, tak begitu banyak hal baru dari mekanik battlenya, karena pada dasarnya ia sama dengan game action pada umumnya. Namun hal kecil seperti harus menggunakan charge attack untuk memecahkan shield musuh, hingga wheel menu yang bisa diakses sembari melakukan pause gamenya bisa menjadi mekanik yang memuaskan. Karena dengan begitu kamu bisa menentukan kemana seranganmu akan didaratkan.

Meskipun begitu, mereka juga masih sematkan kemampuan ultimate tanpa perlu menunggu keputusanmu seperti wheel menu. Sebuah fitur yang sangat cocok bagi kamu pecinta game action dan kamu sebagai seseorang yang miliki jiwa oldschool yang menyukai fitur turn-based.

Pertempuranmu melawan boss juga akan terasa bak modernisasi dari seri Legends of Mana, di mana kamu bisa bergerak sesuka hati menghindari dan menghancurkan beberapa elemen unik yang ia keluarkan, sebelum boss melancarkan kemampuan “sapu jagat”nya. Sayangnya, terdapat hal yang kurang saya sukai dari pertempuan ini. Hal ini disebabkan kemampuan mereka untuk menghindar saat salah satu karakter tengah melakukan ultimate dengan animasi sinematiknya.

Sesaat setelah karakter melakukan animasi ultimate, beberapa boss bisa bergerak sesuka hati. Salah satunya dengan melakukan kemampuan seperti teleportasi. Hal ini membuat serangan yang telah dilancarkan terasa sia-sia. Terlebih, ketika beberapa karakter tak langsung otomatis mengunci boss setelah animasi ultimate berjalan dan kamu tak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya. Mau tak mau kamu harus memperhatikan timing yang tepat agar CS Particle yang susah payah kamu kumpulkan tidak sia-sia. Meskipun pada kenyataannya sudah seharusnya masalah sesimple ini bisa diatasi dengan mengunci musuh meskipun ia telah lakukan teleportasi.

Pengaturan kamera yang buruk saat battle menjadi salah satu fitur yang saya pribadi kurang minati. Kameranya sendiri tak bisa menyesuaikan kemanapun kamu beraksi saat battle. Misalnya saja ketika kamu terpojok di celah sempit atau ketika tertekan di bukit. Kamera juga tak bisa dizoom atau diatur sesuka hati, karena Square-Enix menguncinya di satu area pasti dan tak bisa diatur sebebas mungkin.

Memang, mereka telah memberikan opsi pengaturan zoom di menu options, namun pengaturan tersebut tergolong cukup simple. Mulai dari Normal, zoom, dan semi-zoom. Kamu juga tak bisa mengarahkan kamera sampai ke bawah atau ke atas. Mengurangi fleksibilitas fungsinya. Padahal jika kamu bisa melakukannya, maka kamu bisa mengambil angle yang baik untuk sekedar dijadikan screenshot.

Eksplorasi Simple, Namun Padat Berisi

Sama seperti game JRPG pada umumnya, kamu akan bisa menjelajahi dunianya yang luas dengan berbagai harta karun yang tersimpan di beberapa pot, kotak, maupun glowing spot. Semuanya dibuat dengan cukup detil. Square-Enix tahu betul kapan dan di mana harus menyimpan beberapa pernak-pernik tersebut. Membuatmu yang sudah terlalu sering memainkan game JRPG klasik di masa lampau secara tak sadar tahu letak masing-masing benda tersebut.

Temukan Li’l Cactus dan dapatkan hadiahnya.

Di tengah perjalanan, kamu akan menemukan elemen unik lain dari Trials of Mana bernama Li’l Cactus. Sesuai namanya, ia adalah kaktus yang tersebar di penjuru field. Fitur ini sangat mirip dengan sistem stamp milik Ni no Kuni. Namun alih-alih menyelesaikan quest, kamu akan dipaksa untuk mencari kaktus mungil ini dengan mengeksplorasi fieldnya yang luas.

Terdapat sekitar lima puluh kaktus yang bisa kamu temukan dari awal cerita hingga menjelang akhir dari kisah utama Trials of Mana. Sebagian bisa kamu temukan di kota, sementara sebagian lagi bisa kamu temukan di field. Mengumpulkannya akan berimu hadiah unik, dari 2x boost EXP hingga menginap gratis di penginapan.

Penekanan eksplorasi ini juga tak terbatas pada Li’l Cactus semata, karena secara sadar atau tak sadar, kamu bisa mendapatkan ability rahasia setelah kamu berbicara dengan beberapa NPC ikonik setelah beberapa sesi sejak kisah utamanya berjalan. Misalnya saja Fortune Teller.

Terdapat perubahan siang malam baik di field, dungeon, maupun kota. Memasuki malam hari beberapa dari monster akan tertidur kecuali monster nocturnal, uniknya mereka yang tidur masih bisa tahu keberadaanmu jika didekati. Yang membuatnya berbeda, mereka menjadi lebih tidak siap siaga akan kedatanganmu.

Siang malam merepresentasikan oleh elemen.

Varian monster di siang hari dan malam hari juga berbeda. Jadi misalnya siang kamu akan menemukan monster tipe burung, maka malam terkadang kamu akan menemukan tipe kelelawar. Sementara, kota akan berubah seiring berjalannya waktu. Di mana warga akan tidur pulas di rumah, dan hanya beberapa NPC saja yang masih terjaga.

Perubahan siang dan malam ini juga bisa meningkatkan masing-masing elemen sihir yang kamu miliki. Hal ini karena perubahan tersebut juga ditunjukkan dengan nama hari yang berbeda sesuai elemen. Misalnya saja Salamando Day dengan elemen api, Undine Day dengan elemen air, dan seterusnya. Di Salamando Day, serangan apimu akan menjadi lebih kuat dari biasanya, sementara Undine Day akan mengubah serangan airmu menjadi lebih kuat, dan seterusnya.

Indahnya World Map dan Uniknya Sistem Class

Ingin terbang ke angkasa? Bisa!

Field dan dungeon dengan perubahan siang dan malam bukan menjadi salah satu tempat untuk menguak misteri yang tersimpan di dalam dunia Trials of Mana. Karena seiring berjalannya cerita, kamu akan kembali mengecap indahnya world map dengan kendaraan laut dan udaranya yang unik. Sayangnya, karena proses JRPG klasik yang luar biasa linear, kendaraan udara hanya bisa mendarat di tempat-tempat yang telah ditentukan saja yang ditandai oleh cahaya.

Dunianya cukup luas berkat representasi world map yang bisa kamu jelajahi dengan dua jenis kendaraan tersebut. Di beberapa bagian, kamu akan menemukan banyak sekali equipment maupun senjata yang bisa mengubah tampilan visual senjatamu setelah dipasang. Tak terkecuali item untuk perubahan class.

Atau kamu ingin berenang saja? Juga bisa!

Ya, Trials of Mana miliki sistem class yang kini telah ditinggalkan oleh sebagian besar game JRPG. Class akan bisa berubah menjadi lebih kuat dengan cara pergi ke tempat di mana Mana stone berada. Ia terbagi atas tiga tingkatan dari seri orisinalnya, dan empat tingkatan untuk remakenya di tahun 2020. Masing-masing dengan cabang Light dan Dark dengan kemampuannya tersendiri. Light akan lebih condong ke serangan berelemen cahaya, healing, dan suportif, sementara Dark akan lebih didominasi oleh suport elemen, serangan elemen kegelapan, hingga combo bertubi-tubi untuk karakter dengan serangan jarak dekat. Kamu bisa melihat semua keunggulan dan kekurangan masing-masing class sebelum menentukan untuk memilih “jalan ninja”-mu.

Kamu bisa berubah class pada level tertentu. Namun untuk class ke-3 ke atas miliki syarat khusus.
Kamu bisa mengganti kostum lawasmu meskipun telah berubah class.

Setiap perubahan di atas class kedua (class dasarmu dihitung sebagai class pertama) akan membutuhkan item spesifik yang bisa kamu dapatkan dari cerita utama, atau bagi kamu yang ingin melakukan eksperimen bisa mencari item tersebut melalui ??? seed yang bisa ditanam melalui pot. Perubahan ini tak hanya akan menambahkan ultimate attack, namun juga otomatis mengubah kostum karaktermu. Namun tenang, kostum ini bisa diganti jika kamu tidak menyukai tampilan visualnya.

Sematkan Gacha RNG

Mengubah kostum dan senjata bukan satu-satunya fitur yang ditawarkan oleh Trials of Mana. Namun percaya atau tidak, Square-Enix tawarkan fitur lain yang kini populer di game mobile yakni gacha. Mereka menyebutnya sebagai seed system, di mana kamu akan bisa mendapatkan item acak dari item seed/biji yang kamu temukan di map. Simplenya, seed merupakan sistem gacha RNG di game JRPG single player. Seed bisa ditanam di pot yang berada di penginapan untuk mendapatkan item. Terdapat lima tingkatan seed. Dari seed biasa, silver, gold, rainbow, hingga ??? seed. Setiap seed miliki item yang berbeda-beda. Entah potion, kue penambah XP, equipment, hingga item yang sangat penting untuk perubahan class.

Kamu bisa dapatkan apapun dari Seeds. Mulai dari senjata hingga item.

Menanam seeds tak hanya akan memberimu item seperti boosting item, roti, atau equipment kuat saja. Namun juga tingkatkan level pot seiring seberapa sering kamu menanamnya. Semakin tinggi level pot, maka semakin tinggi pula kesempatanmu untuk mendapatkan item langka. Sayangnya, hanya terbatas cukup sedikit jika dibandingkan JRPG lain.

Secara umum, varian item dalam Trials of Mana cukup sedikit untuk kelas game RPG. Oleh karenanya, kamu takkan begitu menemukan banyak sekali variasi item dari peti harta karun atau glowing spot. Tak seperti game JRPG Square-Enix yang lain dengan berbagai kompleksitas untuk masalah RPG, Trials of Mana melakukan pendekatan RPG yang cukup simple dan mudah dimengerti. Tingkat kesimple-an ini bisa ditunjukkan hanya dari item seed yang kamu temukan di map. Di mana kamu sudah bisa dapatkan item terkuat dari gamenya hanya dari menanam seed. Saya sendiri mendapatkan equipment terkuat untuk fase pertama juga dari seed yang saya temukan. Beberapa fungsi mereka alihkan ke ability dengan kompleksitas yang tak begitu kompleks dan mudah dipahami.

Kamu bisa memasang ability pasif seperti untuk meningkatkan base HP hingga magic attack. Terdapat dua tipe ability: khusus tiap karakter dan chain ability yang bisa dipakai oleh semua party. Namun sayang, ketika memutuskan untuk memasangnya setelah meningkatkan status di menu training, kamu tak bisa langsung kembali ke menu training. Membuatnya tidak praktis sama sekali menurut saya pribadi. Karena jika Square-Enix bisa menambahkan fitur tersebut, maka pengaturan skill akan terasa lebih nyaman dan cepat dibanding harus kembali ke menu utama dan memilih menu training.

Terasa Canggung Karena Satu Arah

Mekanik klasik nan simple yang mencerminkan bagaimana cita rasa JRPG klasik yang diusung Trials of Mana tersebut, tentu saja tak lengkap tanpa kehadiran cerita yang menjadi tolak ukur utama kenapa game RPG sangat diminati. Ceritanya ditulis tanpa mengurangi berbagai aspek dari game orisinalnya. Terlihat klasik dengan berbagai campuran modernisasi yang ada saat ini. Ragam cutscene dengan pengambilan gambar modern, seolah melebur adegan yang tak mungkin dimunculkan saat gamenya dirilis di SNES kala itu.

Berbagai dialog yang nyaris kesemuanya diisi suara voice acting yang dipamerkan, menunjukkan seberapa niat Square-Enix melakukan remake Trials of Mana dengan sedemikian rupa. Namun sayang, beberapa aspek yang tetap dipertahankan terasa tak relevan untuk game modern.

Jika harus dibandingkan dengan game mereka yang lain seperti Dragon Quest XI yang angkat tema JRPG klasik yang sama, Trials of Mana lebih condong merepresentasikan bagaimana developer asal Jepang tersebut masih ingin tetap bertahan dengan seri orisinalnya. Seolah-olah mereka takut mengubah apa yang telah fans sukai kala itu. Termasuk bagaimana mereka menjelaskan hubungan antar karakternya yang dibiarkan begitu saja dengan sedikit perubahan dan tambahan yang terkesan main aman namun kurang relevan.

Karakter yang kamu pilih sebagai tokoh utama dan partynya, pada nantinya akan bertemu dengan protagonis dalam perjalanan. Pertemuan pertamamu akan berimu pilihan untuk melihat dan memainkan masa lalu para karakter tersebut. Jika kamu memilih untuk memainkan masa lalunya, maka kamu takkan bisa melakukan save dan dapatkan item. Sementara, jika kamu tidak memilih untuk memainkannya, maka ia akan bercerita dengan penjelasan naratif. Karakter yang tak kamu pilih akan tetap muncul dan menjelaskan segelintir latar belakangnya. Namun tak selengkap ketika kamu memilihnya sebagai rekan satu party.

Saya menemukan nyaris tidak adanya dialog dua arah ketika bertemu dengan karakter lain yang menjadi satu party kecuali “pair”. Misalnya saja saat bertemu dengan Hawkeye dan membantu Duran maupun Angela keluar dari penjara. Tak ada sepatah kata apapun dari Duran maupun Angela meski hanya sebatas basa-basi, membuat dialognya yang hanya dibawakan Hawkeye terasa canggung dan hanya berjalan satu arah. Tidak masalah sebenarnya, namun hal ini menjadi terasa tidak natural. Khususnya untuk seri yang mereka sebut “remake” secara tersurat.

Beberapa adegan saat bertemu dengan “pair” memang menjadi salah satu adegan yang dinanti, mengingat semua pair saling berinteraksi satu sama lain. Namun sayang, hanya terbatas pada adegan tertentu saja dan lebih sering absen hingga akhir cerita. Meskipun, mimpi saya terobati setelah menemukan adegan yang telah saya prediksi, namun berakhir kentang karena hanya menjadi sebuah “sinyal” di akhir ceritanya.

Tak adanya dialog antar tokoh yang intens saat menjalani suatu event juga membuat cerita seolah hanya berjalan satu arah saja dan fokus pada tokoh utama. Membuat ketiga tokoh yang kamu pilih seolah tak satu jalan dengan protagonis. Tak ada yang mengeluhkan keputusan apapun yang dibuat oleh protagonis membuatnya terasa kurang dari sisi dramatisasi.

Memang, pada nantinya salah satu dari mereka ikut andil saat memasuki cerita mereka sendiri, namun fakta bahwa komunikasi seolah berjalan satu arah tak bisa dihindari. Misalnya saja Hawkeye yang saya pilih menjadi karakter ketiga, ia akan turut andil besar-besaran saat memasuki bagian dari ceritanya yang satu jalur dengan tokoh utama saya, Duran. Namun, apa yang Duran dan karakter lain lakukan? Diam membisu. Ekspresinya hanya direpresentasikan melalui sebuah animasi. Ini karena semua dialog diambil alih oleh Hawkeye. Membuat fitur klasik ini kurang relevan jika kamu bandingkan dengan mekanik game JRPG yang berhasil dieksekusi dengan sangat baik oleh Square-Enix selama satu dekade terakhir.

Hawkeye akan miliki peran penuh ketika memasuki ceritanya.

Berjalannya dialog satu arah inilah yang menjadi salah satu kelemahan game dengan banyak tokoh utama. Khususnya bagi Trials of Mana yang berusaha menghadirkan kembali kecupan JRPG klasik yang miliki dialog cukup kaku di masanya. Membuat kisah masing-masing karakter terpisah-pisah, meskipun satu tujuan.

Benar, Square-Enix berhasil menutupi kekurangan ini di game seperti Octopath Traveler yang semua karakternya adalah tokoh utama. Mereka menambahkan sesi dialog antar tokoh utama saat cerita salah satu karakter tengah berjalan yang bisa disaksikan dengan menekan sebuah tombol. Namun sayangnya, tidak untuk Trials of Mana. Mereka membiarkannya agar stay with original untuk seri remake dan hanya menambahkan sedikit sekali serpihan-serpihan tersebut menjelang akhir kisahnya.

Padahal, jika mereka melakukan seminimnya hal yang sama dengan Octopath Traveler dengan cara yang berbeda, perubahan kecil tersebut setidaknya miliki efek bahwa komunikasi antar karakter dan rekan satu grupnya terasa menjadi lebih hidup. Tentunya dengan tetap mempertahankan storylinenya. Ini secara tak langsung menunjukkan bahwa mereka bertualang demi tujuan yang sama, meskipun pada kenyataannya jalannya berbeda. Misalnya saja menambahkan Angela yang menggerutu atau takut saat berada di ghost ship, atau mungkin dialog antara Duran dan Angela maupun karakter lain saat menghadapi sesuatu.

Menariknya, ketika kamu telah menikmati layar credit dengan tulisan The End, versi remake ini akan mencegahmu untuk berhenti sampai di situ saja. Karena petualanganmu belum berakhir. Jadi, jangan berharap bahwa “The End” adalah akhir dari segalanya di Trials of Mana.

Visual dan Alunan Musik Perangsang Imajinasi

Petualangan tanpa akhirmu di Trials of Mana menjadi semakin lengkap dengan kehadiran tampilan visual dan musik yang mendukung keberadaannya. Dan usaha keras Square-Enix, patut diacungi jempol untuk masalah yang satu ini. Mereka benar-benar mengerjakannya tanpa setengah hati dan bisa memanfaatkan teknologi yang ada saat ini.

Musiknya terbagi menjadi dua: klasik dan remake. And guess what? Versi klasik masih tetap enak didengar hingga detik ini meskipun tergolong musik super lawas. Namun, versi remakenya juga tak kalah indah. Ia hadir dengan balutan musik orkestra berkualitas tinggi. Membuatmu bisa menikmati alunan magisnya yang secara tak langsung merangsang otak dan imajinasimu untuk membayangkan bagaimana jika kamu berada dalam dunia fantasy klasik yang selalu terpampang di game JRPG.


Di sepanjang permainan, musik tema utama Trials of Mana menjadi salah satu musik favorit saya di game ini. Karena secara tak langsung, ia mampu membuat saya berimajinasi bagaimana indahnya dunia JRPG klasik yang penuh warna dengan kisah dan misterinya yang sangat kaya.

Sementara, tampilan visualnya sepertinya sudah tak perlu dipertanyakan lagi atas kepiawaian para artist Square-Enix dalam menggunakan Unreal Engine 4. Berawal dari Dragon Quest XI, developer sekaligus publisher asal Jepang ini kembali manjakan mata kita dengan tampilan visual yang bisa dibilang cukup jomplang dari Final Fantasy VII Remake yang juga gunakan engine yang sama.

Jika Final Fantasy VII Remake membuatmu merasakan tampilan visual semi-dark namun tetap penuh warna, maka Trials of Mana miliki wujud dunia yang kaya warna. Perpaduan warna biru dan hijau yang mendominasi tak lelah membuat mata saya tetap betah memandangi layar. Tak terkecuali perpaduan warna unik lengkap dengan berbagai efek seperti bloom dan chromatic aberration di setiap field, world map, dan dungeonnya. Tidak, mereka tidak menggunakan teknik matte painting seperti Final Fantasy VII Remake. Alih-alih menggunakan gambar, backgroundnya dibuat dengan model tiga dimensi dengan beberapa efek yang mampu menyatu dengan field. Berikan nuansa tersendiri yang bisa kamu rasakan seiring berjalannya permainan.

Gunakan Dub Jepang! WAJIB!

Tampilan visual dan musik memang berhasil merangsang imajinasi player untuk menikmati bagaimana indahnya dunia Trials of Mana. Namun sayang, hal tersebut tak berbanding lurus dengan dubbingnya. Khususnya untuk dubbing berbahasa Inggrisnya. Jika kamu belum tahu, Square-Enix sangat hati-hati untuk memilih aktor untuk mengisi suara berbahasa apapun termasuk bahasa Inggris, mengingat perbedaan budaya yang cukup kontras. Ini dibuktikan dengan suksesnya mereka mengadaptasi semua dubbing berbahasa Inggris yang mereka representasikan di seri Final Fantasy hingga Dragon Quest XI. Sayang, sepertinya mereka terburu-buru saat mengerjakan Trials of Mana.

Hal ini ditunjukkan dengan tak adanya sinkronisasi warna suara dan terjemahan yang pas dari dubbing tiap karakternya. Khususnya Charlotte yang bakal buatmu ingin memukul dan membanting speaker maupun headsetmu. Alih-alih menggunakan voice british dengan logat Eropa, mereka menggunakan voice actor yang jika didengar dari logatnya merupakan orang Amerika. Saya tak perlu menjelaskannya dengan lebih detil, kamu bisa melihat dan mendengarnya sendiri melalui video yang telah dibuat oleh YouTuber bernama VoiceComparison di bawah.


Saya pribadi sebagai orang yang selalu mengedepankan dub Jepang dalam setiap game Jepang kecuali seri tertentu, tak mempermasalahkannya sama sekali karena memang bukan menjadi tujuan saya. Sebaliknya, saya sangat puas dengan dub berbahasa Jepangnya. Setidaknya itulah yang saya pribadi rasakan.

Bisa dibilang bahwa voice acting bahasa Jepangnya termasuk sangat oke, namun karena terkadang animasi karakter saat berakting kaku dan kurang ekspresif, beberapa adegannya kurang bisa dinikmati. Harusnya Square-Enix berikan efek tertentu atau animasi tertentu untuk memperkuat kesan karakter tengah marah, teriak, atau yang lain.

Ini jadi salah satu nilai minus yang menurut saya pribadi justru cukup mengurangi kenikmatan bermain, khususnya dari segi cerita di beberapa adegan tertentu. Karena player tak lagi bisa merasakan bagaimana jika karakter tersebut berekspresi marah atau senang, berkat cukup minimnya animasi yang mendukung. Menghilangkan akting dari voice actor yang sudah maksimal.

Adegan dengan beberapa delay seolah menunggu kode dalam gamenya berjalan, juga membuat penyampaian ceritanya terasa canggung. Memang, tidak semuanya, namun alangkah lebih baik hal tersebut lebih diperhatikan meskipun hanya segelintir untuk proyek mereka selanjutnya.

Salah satu penyensoran yang dilakukan Square-Enix

Terdapat hal yang menarik ketika kamu menggunakan dub Jepang, yakni penyensoran. Terlebih jika kamu memahami bahasa Jepang seperti saya. Salah satunya adalah dari segi penerjemahan. Beberapa dialog dengan dub yang diterjemahkan, terkadang berbeda dari bahasa Jepang yang diucapkan. Mulai dari saat Duran pulang ke rumah bersama Angela yang kemudian digoda Angela saat ia tak ingin rekan satu partynya masuk rumahnya. Angela yang ingin tahu kamar Duran dalam dub bahasa Jepangnya menduga bahwa Duran menyimpan buku tak senonoh di kamarnya. Namun hal ini diterjemahkan berbeda oleh Square-Enix menjadi lebih “friendly” dengan mengubahnya menjadi kerangka manusia dan “rahasia”.

Kalimat tarian seksi diubah.

Hal lain yang mereka sensor adalah ketika penari mengatakan, “Apakah kamu ingin melihat tarian seksi kami?” dalam dub Jepang yang kemudian diterjemahkan menjadi, “Apakah Anda ingin melihat kami menari?”. Hal ini kemungkinan sengaja diganti agar aman untuk anak remaja. Mengingat rating gamenya sendiri T atau Teen.

Kesimpulan

Trials of Mana muncul sebagai seri yang mencoba mengajak para fans JRPG untuk kembali merasakan manisnya game JRPG klasik yang sempat populer antara tahun 90-2000-an. Beberapa elemen seperti cerita klasik khas JRPG, world map, peti harta, hingga kendaraan laut dan udara membuat player merasakan indahnya menjelajahi dunia yang penuh imajinasi. Hal ini kemudian mereka lengkapi dengan musik dan tampilan visual yang bisa membuatmu merasakan eyegasm dan eargasm di sepanjang permainannya.

Square-Enix bisa dikatakan kembali berhasil menghadirkan semua elemen dua dimensi seri orisinal Trials of Mana yang ditranslasikan dengan sangat baik dan akurat menggunakan Unreal Engine 4 sebagai engine utamanya. Perpaduan warna, model, kota, dan seluruh asetnya diukir dengan akurasi tinggi dan mampu berikan efek nostalgia bagi mereka yang menyukai tipe JRPG klasik.

Meskipun mereka masih bertahan dengan orisinalitas seri orisinalnya. Namun battle Trials of Mana yang dibuat sangat fluid dengan berbagai perubahan, membuat gamenya bisa dikatakan sejajar dengan game baru zaman sekarang untuk masalah mekanik action yang disandangnya.

Seed systemnya yang unik, lengkap dengan class system yang kembali hadir membuat kontennya semakin padat berisi, meskipun saya pribadi sedikit kecewa karena jumlah itemnya tergolong sedikit untuk kelas game RPG.

Sayangnya beberapa masalah teknis seperti kamera hingga “pair” system yang membuat minimnya interaksi antar tokoh. Membuat aliran ceritanya terasa kaku dan hanya fokus pada tokoh utama yang dipilih saja. Memang, terdapat adegan khas untuk kamu yang memilih “pair”, namun tidak sesering yang kamu duga.

Trials of Mana juga sepertinya juga akan membuatmu yang menyukai voice actor berbahasa Inggris khas Square-Enix bertekuk lutut dan mengakui bahwa voice actor berbahasa Jepang lebih unggul. Hal ini dikarenakan beberapa voice actor berbahasa Inggris tak miliki konsistensi tinggi dan minimnya emosi yang harus mereka perankan.

Meskipun begitu, Trials of Mana bisa disebut sebagai salah satu feast bagi kamu yang kangen memainkan game JRPG klasik. Terlebih, kamu diwajibkan untuk menamatkannya tiga kali dengan “pair” yang berbeda. Dengan beberapa elemen yang menyenangkan, kustomisasi karakter, tampilan visual yang menarik, dan konten post-game dengan class baru, Trials of Mana merupakan game yang saya rekomendasikan baik bagi kamu yang telah memainkan franchisenya di masa lampau, hingga kamu yang baru saja memainkan gamenya. Sementara kamu yang tak begitu menyukai JRPG klasik sepertinya harus memikirkannya kembali sebelum menimangnya.

Ayyadana Akbar

Written by Ayyadana Akbar

Hailing from East Java, Indonesia. Akbar plays almost all video game genres except horror games, but still trying to play it. A simple man who specializing in Japanese Games, JRPG, Shooter, PC, and console news and reviews. If you have PR related to video games you can contact him at [email protected]