Pernahkah kalian merasa bahwa ponsel pintar yang kalian beli dua tahun lalu mendadak terasa jauh lebih lambat, baterainya cepat drop, atau layarnya tiba-tiba kurang responsif tepat setelah masa garansinya habis? Bukan kalian saja yang merasa seperti itu, bahkan ada ratusan hingga jutaan orang di seluruh dunia merasakan hal yang sama.
Pasti pernah muncul dibenak kalian sebuah pertanyaanL apakah produsen teknologi raksasa sengaja merancang smartphone agar cepat rusak supaya kita terus-menerus membeli model terbaru?
Benarkah Smartphone Didesain Agar Cepat Rusak?
![[Opini] Benarkah Smartphone Didesain Agar Cepat Rusak? 2 smartphone](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/06/smartphone-rusak-1024x576.avif)
Di dalam dunia industri, ada sebuah istilah untuk konsep ini, yaitu planned obsolescence yang jika diterjemahkan menjadi keusangan yang direncanakan. Ini adalah strategi bisnis di mana sebuah produk sengaja dirancang dengan masa pakai yang terbatas atau fungsi yang sengaja diturunkan setelah jangka waktu tertentu.
Tujuannya simpel, yaitu memastikan siklus konsumsi masyarakat tidak pernah berhenti. Jika sebuah ponsel bisa bertahan hingga sepuluh tahun tanpa masalah sama sekali, perusahaan teknologi tentu akan kesulitan mencetak rekor keuntungan triliunan rupiah setiap kuartalnya.
Namun, menuduh para produsen sengaja menanam chip rahasia yang akan meledakkan ponsel kalian setelah dua tahun juga merupakan kesimpulan yang terlalu dangkal. Realitas di lapangan itu jauh lebih abu-abu dan ruwet daripada sekadar skenario jahat yang kita pikirkan. Ada beberapa batasan teknologi, kompromi desain, dan juga tuntutan konsumen itu sendiri yang ikut bermain dalam memperpendek usia sebuah smartphone.
Baterai: Komponen yang Dikorbankan demi Desain
![[Opini] Benarkah Smartphone Didesain Agar Cepat Rusak? 3 Batre](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/06/batre-1024x768.avif)
Mari kita bahas yang paling sering dikeluhkan, yaitu baterai. Hampirr semua smartphone modern saat ini menggunakan baterai berbasis litium ion. Kita sama-sama tahu kalau baterai jenis ini memiliki siklus hidup yang terbatas. Setiap kali kamu mengisi daya dari nol hingga seratus persen, kesehatan baterai akan menurun sedikit demi sedikit. Setelah sekitar lima ratus hingga delapan ratus siklus isi ulang, kapasitas maksimal baterai biasanya akan merosot hingga ke angka delapan puluh persen atau mungkin dibawahnya.
Masalahnya jadi kian aneh ketika brand memutuskan untuk menanamkan baterai secara permanen dalam body smarphone. Di era HP Nokia dan Sony Ericsson, kita bisa dengan mudah membuka casing belakang ponsel untuk mencabut baterai yang kembung. Mengganti baterai dengan yang baru dengan harga murah juga termasuk gampang. Sekarang, demi mengejar desain yang tipis, elegan, dan memiliki sertifikasi IP68, baterai direkatkan dengan lem industri yang sangat kuat di dalam komponen internal yang padat.
Untuk menggantinya, kamu harus membawa ponsel ke pusat servis dengan biaya yang tidak murah, atau menantang maut dengan membongkarnya sendiri yang berisiko merusak layar visual ponsel. Lalu mereka yang tidak bisa mengganti sendiri dan merasa terlalu ribet untuk membawa ke service center? Jawaban terakhir sudah pasti beli baru.
Sisi yang Tak Kalah Buruk: Software
![[Opini] Benarkah Smartphone Didesain Agar Cepat Rusak? 4 Software Smartphone](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/06/software-smartphone-1024x632.avif)
Selain masalah fisik, ada juga yang disebut dengan keusangan perangkat lunak atau software obsolescence. Ini acap kali terjadi lewat pembaruan sistem operasi yang awalnya kita sambut dengan gembira. Pembaruan terbaru yang kamu unduh dengan harapan mendapatkan fitur-fitur baru yang keren, namun yang terjadi ponsel kamu mendadak menjadi sangat hangat, baterai terkuras dua kali lebih cepat, dan animasi UI terasa patah-patah.
Apakah sistem operasi sengaja dibuat berat untuk menyiksa ponsel lama kamu? Kenyataannya tidak selalu beigtu. Sistem operasi baru pastinya dirancang untuk memaksimalkan prosesor terbaru yang ada di pasar saat itu. Prosesor baru akan memiliki jumlah inti yang lebih banyak atau manajemen daya yang lebih efisien.
Begitu sistem operasi yang kaya akan fitur itu dipaksakan berjalan di chip lama yang arsitekturnya sudah tertinggal, performa ponsel lama tentu akan keteteran. Efek sampingnya, ponsel kamu terasa seperti barang busuk. Meskipun secara fisik layarnya masih mulus dan kameranya masih berfungsi dengan sangat baik.
Masih ingat dengan kasus besar beberapa tahun lalu ketika Apple kedapatan sengaja menurunkan performa prosesor pada model iPhone 6, 7, dan SE melalui pembaruan perangkat lunak. Alasan Apple saat itu adalah untuk mencegah ponsel mati mendadak karena baterai lama yang sudah tidak mampu menyuplai daya puncak secara stabil.
Sebenarnya alasan ini masuk akal secara teknis demi kenyamanan pengguna agar ponsel tidak mendadak mati saat digunakan. Namun di perspektif lain, tidak transparansi mereka kepada konsumen menimbulkan kecurigaan besar bahwa hal tersebut adalah trik psikologis agar pengguna merasa ponsel sudah sangat lemot dan harus segera diganti dengan model terbaru.
Pemilihan Material Body juga Punya Andil
![[Opini] Benarkah Smartphone Didesain Agar Cepat Rusak? 5 Body](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/06/body-1024x683.avif)
Selain itu, tatangan yang membuat smartphone modern terasa ringkih adalah soal pemilihan material. Memang ponsel dengan desain premium, bodi belakang berlapis kaca yang berkilau dan melengkung di bagian tepinya lebih menarik perhatian. Tapi, perlu diingat, kaca tetaplah kaca, mau sekuat apa pun label pelindung yang disematkan oleh pabrikan.
Begitu ponsel tersebut jatuh ke aspal dari ketinggian saku celana, keindahan tersebut seketika sirna dan menjadi retakan yabg memilukan. Biaya perbaikan layar lengkung atau panel belakang kaca sering kali mencapai sepertiga dari harga beli ponsel itu sendiri. Sekali lagi, kita dihadapkan pada pilihan memperbaiki dengan biaya mahal atau menambah sedikit uang untuk membawa pulang ponsel model terbaru.
Menariknya, tren ini belakangan mulai mendapatkan perlawanan sengit dari konsumen, pemerintah, dan aktivis lingkungan melalui gerakan yang disebut Right to Repair atau Hak untuk Memperbaiki. Gerakan global ini menuntut agar perusahaan teknologi menyediakan suku cadang asli, alat perbaikan, dan buku panduan servis kepada publik atau tuser independen dengan harga yang wajar.
Beberapa negara di Eropa bahkan sudah mulai menerapkan aturan ketat yang memaksa produsen elektronik untuk menyertakan skor kemampuan perbaikan pada kemasan produk mereka. Semakin sulit sebuah ponsel dibongkar dan diperbaiki, semakin buruk skornya, dan hal itu bisa memengaruhi minat beli masyarakat yang mulai peduli pada isu lingkungan.
Pergeseran Persepsi Brand
![[Opini] Benarkah Smartphone Didesain Agar Cepat Rusak? 6 Right To Repair](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/06/right-to-repair-1024x512.avif)
Melihat tekanan dari publik dan regulasi pemerintah yang semakin ketat, beberapa brand mulai melunakkan strategi mereka. Sekarang sudah terlihat adanya tren positif di mana beberapa merek seperti Samsung berani menjanjikan pembaruan keamanan dan sistem operasi hingga tujuh tahun ke depan untuk lini ponsel unggulan mereka.
Ini merupakan langkah maju yang sangat besar dibandingkan beberapa tahun lalu, di mana ponsel Android kelas menengah biasanya sudah ditelantarkan setelah satu atau dua tahun saja. Namun, janji manis update software jangka panjang ini juga menyisakan sebuah tanda tanya besar terkait kesiapan perangkat kerasnya.
Apakah komponen fisik seperti baterai, modul kamera, port pengisian daya, dan tombol fisik pada ponsel tersebut benar-benar bisa bertahan selama tujuh tahun dalam penggunaan sehari-hari? Hanya waktu yang akan menjawabnya, namun kemungkinan besar pengguna tetap harus melakukan servis penggantian komponen setidaknya satu atau dua kali dalam rentang waktu tersebut agar ponsel tetap nyaman digunakan.
Kesimpulan
Penutupnya, jawaban atas pertanyaan apakah smartphone didesain agar cepat rusak tidak bisa dijawab secara hitam atau putih. Ada kombinasi elemen strategi bisnis yang sengaja memanfaatkan kelemahan alami komponen seperti baterai dan material kaca agar konsumen tetap berada dalam siklus belanja.
Di sisi lain, laju inovasi teknologi yang sangat cepat juga membuat standar aplikasi dan kebutuhan sistem meningkat secara eksponensial setiap tahunnya. Aplikasi yang kalian gunakan hari ini jauh lebih berat dan kompleks dibandingkan dengan aplikasi lima tahun lalu. Yang bisa kita lakukan adalah tetap menjaga dengan baik smartphone agar tidak menjadi sasaran empuk brand yang ingin kita ganti model tiap tahun.
Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.
![[Opini] Benarkah Smartphone Didesain Agar Cepat Rusak? 1 Smartphone](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/06/smartphone-750x375.avif)
![[OPINI] Banner Support Card Summer Maruzensky Vs Agnes Tachyon, Mana yang Diprioritaskan? 7 Summer Maruzensky Vs Agnes Tachyon](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/06/Summer-Maruzensky-vs-Agnes-Tachyon-350x250.avif)



![[Opini] Benarkah Smartphone Didesain Agar Cepat Rusak? 11 Smartphone](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/06/smartphone-120x86.avif)
![[OPINI] Banner Support Card Summer Maruzensky Vs Agnes Tachyon, Mana yang Diprioritaskan? 12 Summer Maruzensky Vs Agnes Tachyon](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/06/Summer-Maruzensky-vs-Agnes-Tachyon-120x86.avif)









