Tak jarang tagline marketing dari brand smartphone dibikin sebagus mungkin dengan menjual fitur yang seakan terdengar sangat bombastis. Padahal tidak semua fitur yang mereka iklankan itu benar berfungsi sesuai dengan klaim.
Nyatanya ada banyak gimmick yang dijual brand sebagai fitur dan membuat konsumen tergocek. Lalu, bagaimana cara untuk mengetahui apakah fitur yang dijual brand hanyalah trik marketing belaka atau benar fitur yang layak pakai? Mari kita bahas di artikel kali ini.
Daftar isi
Gimmick Spesifikasi Smartphone yang Bisa Bikin Kamu Kegocek

Mari kita bahas, mulai dari:
1. Kamera Megapixel Tinggi

Apakah kamu pernah melihat kalau jualan brand smartphone lebih fokus pada jumlah Megapixel kamera mereka? Berbagai model yang bahkan bukan kelas flagship menjual kamera 200MP. Tapi, apakah benar dengan megapixel tinggi berarti kualita kameranya sudah bisa dipastikan solid? Nyatanya tidak selalu begitu.
Pada akhirnya, kemampuan sebuah kamera tidak hanya bergantung pada 1 faktor saja seperti ukuran MP. Ada juga faktor yang tidak kalah penting seperti kualitas ISP dan juga sensor yang digunakan. Jadi, meski jumlah MP yang dijual tinggi, begitu brand memangkas bajet dengan memakai sensor jelek atau chip ISP seadanya, maka kualitas gambar yang dihasilkan juga tidak akan sekelas flagship.
Di zaman sekarang, kebanyakan gambar diproses melalui computational photography. Ini berarti peran tuningan software juga sama pentingnya dibandingkan hardware yang digunakan. Smartphone kelas bajet tentunya tidak memiliki bajet setara dengan kelas flagship yang mana riset untuk kualitas kamera jauh lebih besar biayanya.
2. Kamera Macro 2MP

Sering kali kita menemukan banyaknya brand yang menggunakan setup 3 atau lebih kamera belakang pada smartphone. Biasanya ia menggunakan konfigurasi kamera utama, kamera ultra-wide, dan satu kamera macro. Tapi, tidak sedikit kamera terakhir ini disebut sebagai gimmick belaka.
Alasannya sebenarnya jelas. Kebanyakan brand menggunakan kamera macro yang hanya bermodalkan 2MP. Jadi, dari segi kualitas gambar hampir bisa dipastikan ia bukan yang dapat diandalkan. Terlebih, tidak semua orang membutuhkan lensa super dekat/makro sehingga tak jarang fungsi hadirnya kamera ini lebih teruntuk sebagai estetika saja.
3. Extend RAM

Mungkin kamu pernah melihat brand memasang tagline RAM 8+8 atau mungkin 12+12. Yang mereka maksud disini adalah fitur extend RAM yang mengambil sebagian porsi penyimpanan internal sebagai RAM tambahan.
Meski tidak ada jawaban pasti mengenai kegunaan fitur ini, namun yang jelas ia hanya gimmick yang lebih terkesan menipu pengguna. Karena, mau bagaimana pun RAM yang di-extend tidak akan bisa punya kecepatan sama dengan RAM asli. Kecepatan UFS sendiri masih sangat jauh di bawah RAM sehingga, acap kali ia tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
4. Peak Brightness Super Tinggi

Jualan brand saat ini sering kali mengklaim kalau smartphone mereka punya peak brightness atau kecerahan puncak yang sangat tinggi. Bahkan, beberapa brand mengklaim kalau smartphone mereka bisa mencapai 5000 nits tingkat kecerahannya.
Klaim tersebut tentu sangat menyesatkan. Dari hasil pengetesan yang banyak dilakukan reviewer atau pun perorangan, kebanyakan layar jenis ini hanya bisa mencapai tingkat kecerahan 2000 sampai 3000 nits, itu pun hanya dalam beberapa detik pertama saja. Kondisi 5000 nits hanya bisa dicapai pada satu titik saja dibagian sudut layar dengan kondisi bagian lain redup atau mati.
Otomatis, pengguna sebenarnya tidak pernah merasakan peak brightness yang diklaim oleh brand karena hanya akan aktif dalam kondisi tertentu yang sangat spesifik. Jadi, jangan sampai kegocek dengan trik jitu marketing ini.
5. Skor Benchmark Tinggi

Meski skor benchmark seperti Antutu yang tinggi terkesan menggiurkan, jangan hanya terpaku pada itu saja. Lihat dulu bagaimana performa pembuangan panas pada smartphone tersebut. Jika, brand bisa memberikan chipset kelas atas namun ternyata memangkas cooling yang digunakan, itu akan berdampak pada stabilitas performa yang didapatkan.
Hasilnya, performa ketika main game akan cepat turun karena chipset mengalami throttling. Suhu pada smartphone terasa sangat panas. FPS dalam game akan langsung drop atau mengalami stutter setelah dimainkan dalam waktu lama. Jadi, perhatikan review terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli HP gaming dengan skor benchmark tinggi.
6. Refresh Rate Di Atas 120HZ

Kini tidak sedikit brand yang memasarkan smartphone gaming mereka dengan layar ultra mulus 144Hz. Secara spesifikasi memang ia bisa berjalan di refresh rate tersebut, tapi apakah ini sebuah gimmick?
Jawabannya tergantung bagaimana brand tersebut meracik software-nya. Tidak jarang dukungan 144Hz hanya diberikan pada beberapa game tertentu. Misalnya, game yang populer seperti Mobile Legends atau PUBG Mobile saja yang mendapatkan update bisa menyentuh 144Hz.
Sedangkan untuk berbagai game lain yang ada di Play Store, biasanya hanya akan mentok di 120Hz saja. Jadi, pastikan kalau smartphone dengan klaim layar 144Hz benar-benar memberikan akses penuh refresh rate kepada game atau hanya sekadar gimmick jualan saja.
7. Update Software Jangka Panjang

Jaminan software jangka panjang memang sudah menjadi lumrah belakangan ini. Berbagai brand memberikan update software mulai dari 3 sampai 7 tahun lamanya untuk sebuah smartphone. Tapi, apakah ada yang dikorbankan? Apakah benar semua ini bukan janji manis saja?
Tidak ada jawaban yang benar absolut karena perlakuan tiap brand pastinya berbeda–beda. Tetapi, ada satu hal yang patut jadi pertimbangan: apakah update security patch-nya sama niat dengan janji software mereka? Karena pada dasarnya, update security yang seharusnya tiap bulan itu jauh lebih penting dari update software yang kebanyakan hanya memperbarui estetika.
Jadi, jangan termakan dengan janji update OS 6 kali, pastikan kalau mereka juga bisa secara rutin memberikan update patch security. Namun, jika bagian itu bukan menjadi kekhawatiran kamu, maka membeli smartphone apa saja bukan jadi masalah besar.
Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.














