Dalam beberapa hari terakhir ini, game indie baru berjudul Dressmaker viral dikalangan Gamer. Ternyata dibalik dari keseruan game tersebut, Kreator Dressmaker membuatnya berdasarkan kisah sedih dialami istrinya. Seperti apa kisahnya?
Kreator Dressmaker Membuat Game-nya Berdasarkan Kisah Sedih Dialami Sang Istri

Berdasarkan informasi dari GamesPress, proyek game indie Dressmaker pertama kali dibuat dari passion antara Jonathan Hau-Yoon dengan istrinya Sabrina Becker. Sang istri merupakan seorang Artist dan juga penggiat Dressmaking yang memiliki passion dalam membuat kostum dan juga fashion.
Diketahui dulunya Sabrina berharap ingin mengejar karir sebagai design kostum profesional, namun impiannya tersebut tidak bisa terwujud. Hal ini karena dia mengalami sindrom bernama Ehlers-Danlos.
Ehlers-Danlos Syndrome adalah semacam kumpulan gejala yang disebabkan adanya kelemahan pada jaringan ikat yang menyokong kulit, tulang, atau sendi. Kondisi tersebut terjadi akibat adanya mutasi atau kelainan genetik. Karena sindrom yang dia alami, Sabrina pun memutuskan untuk berhenti mengejar mimpinya tersebut.
Berawal dari Hasrat Suami untuk Sang Istri

Sementara itu Jonathan ingin membuat game indie Dressmaker sebagai bentuk hasratnya agar Sabrina bisa mengejar bakatnya lewat video game yang dia cintai. Dengan keinginannya tersebut, mereka pun berkolaborasi membuat awal pengembangan dan konsep untuk game tersebut.
Berawal dari sebuah proyek kecil sampingan saja, Dressmaker meledak di internet bahkan sebelum prototype muncul. Mengetahui potensi game-nya, Jonathan menawarkan proyek tersebut ke karyawannya yang ada di tim Free Lives.
Pada awalnya game tersebut memiliki penjualan yang sulit mengingat studio milik Evan Greenwood bernama Free Lives dikenal sebagai tim developer yang membuat game penuh kekerasan dan juga comedic seperti Broforce, GORN, dan Anger Foot.
Tidak mau menyerah begitu saja, Jonathan pun bekerja sama dengan Ruan Rothmann (Kreator Broforce, GORN) dan Sara Laubscher (Kreator Terra Nil) untuk membuat prototype game Dressmaker dalam waktu 3 minggu.

Prototype game tersebut pun cepat mendapat trafik di internet dan diketahui telah diunduh sebanyak 100 ribu kali dan menginspirasi banyak Player membagikan kreasi desain dress mereka. Respon positif tersebut pun membuat game Dressmaker memberikan lampu hijau terhadap proyek ini dibawah label Cozy lives.
Itulah informasi mengenai bagaimana Kreator Dressmaker membuat game indie ini berdasarkan kisah sedih yang dialami oleh istrinya. Setelah mendengar kisah sedih tersebut, apakah kalian jadi tertarik bermain game indie yang sedang viral ini?
Baca juga informasi menarik Gamebrott lainnya terkait Indie atau artikel lainnya dari Muhammad Faisal. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.
















