Setelah Tuduhan Keras Dari Kotaku, Kini RIOT Menulis Permintaan Maaf Resmi

in

Setelah beberapa hari yang lalu dimana Kotaku melayangkan kritik keras terhadap perusahaan besar RIOT Games, kini perusahaan yang menjadi tempat lahirnya League of Legend tersebut akhirnya melayangkan permintaan maaf resmi akibat dari kasus besar yang tengah menjegalnya ini. Kasus tersebut dilatar belakangi oleh artikel seorang penulis Kotaku bernama Cecilia D’Anastasio, yang menyelidiki mengenai adanya diskriminasi gender dan ketidak sesuaian budaya perusahaan RIOT.

Melalui laman resminya, RIOT pertama-tama meminta maaf kepada seluruh orang yang terlibat kedalam kasus ini. Mulai dari para pegawa RIOT/ Mantan Pegawai, Player dan Fans, orang yang ingin berkarir di RIOT, dan juga Investor-investor mereka. RIOT benar-benar meminta maaf karena telah gagal menjadi perusahaan yang sudah mereka janjikan, “Kita minta maaf. Kita meminta maaf karena tak bisa selalu atau tidak bisa menjadi tempat yang telah kita janjikan kepada kalian selama ini.” Kata RIOT melalui artikel mereka. RIOT juga berjanji bahwa mereka tengah memperbaiki sekaligus terus berkembang pada seluruh elemen yang sudah berjalan dan tak segan-segan memecat pegawainya yang memang terlibat masalah.

Namun hal ini tentu tak dapat diperbaiki dalam satu malam saja, mengingat masalah ini berkesinambungan dengan culture RIOT sendiri. Sebagai langkah kongkrit, RIOT membeberkan keputusan apa yang akan mereka tempuh.

 

1. Meningkatkan Budaya dan Memperbaiki Tim D&I:

Mungkin banyak kalian yang asing mengenai apa itu D&I, D&I sendiri merupakan bagian manajemen perusahaan yang mengurusi seluruh permasalahan mengenai perbedaan dan juga kesetaraan agar terbentuknya rasa adil dalam tiap bidang. Mungkin banyak dari kalian yang berfikir bahwa fungsi manajemen ini bisa dilakukan oleh bagian HRD saja, namun nampaknya pada dunia barat, konsep D&I ini banyak diaplikasikan di perusahaan-perusahaan modern. RIOT sendiri berjanji untuk membentuk tim baru yang fokus mengurusi permasalahan ini, dan tim ini akan langsung bertanggung jawab dibawah CEO.

2. Mengevaluasi Definisi Budaya pada RIOT:

RIOT sendiri memang sudah menanamkan kepada para pegawainya mengenai nilai-nilai gamer. Dimana seluruh pegawai wajib menjadi & memiliki nilai-nilai gamers pada diri mereka, guna memahami apa yang diinginkan konsumen mereka. Namun apabila nilai ini justru menjadi penghambat atau menjadi perusak keharmonisan kantor, RIOT mengaku tak segan-segan meninggalkan nilai-nilai semacam ini.

3. Meminta Bantuan Tenaga Ahli:

Dalam membentuk dan mengevaluasi budaya yang sudah berjalan di RIOT ini, mereka akan meminta bantuan dua konsultan ahli. Dimana kedua konsultan tersebut akan menilai, memberi rekomendasi, dan sekaligus menyusun mekanisme pada kantor tersebut.

RIOT juga telah membuat hotline khusus agar para prgawai tidak takut ataupun malu melaporkan masalah ini. “Kita telah membuat hotline khusus dimana setiap orang bisa secara anonim melaporkan isu ataupun komplain yang terjadi pada kantor RIOT Games.”

“Jelas kita gagal mencapai goal tersebut. Tapi kita tidak pernah mundur dari tantangan dan kita tidak merencanakan untuk gagal sekarang” Pungkas RIOT.

Thanks Kotaku.

Kusuma Aji

Written by Kusuma Aji

Gamebrott most notorious and toxic person