Review Bloodstained: Ritual of The Night – Indah dan Penuh Aksi!


Dimulai dari Kickstarter, mengalami berbagai kendala hingga penundaan, Bloodstained: Ritual of the Night akhirnya resmi meluncur. Absennya seri Castlevania dari tangan Konami, tentu cukup membuat kita rindu akan franchise tersebut, namun akhirnya Bloodstained: RotN datang untuk meredam kerinduan.

Diracik oleh Artplay dengan songkongan sang produser sekaligus penulis naskah Castlevania – Koji Igarashi, Bloodstained: RotN tentu punya banyak sentuhan yang akan membuat kita teringat pada franchise Konami tersebut. 2 seri Bloodstained dikerjakan oleh Koji Igarashi setelah hengkang dari Konami, Igarashi sendiri juga tak ragu untuk menyebut Bloodstained sebagai spiritual succesor dari Castlevania.

Dan melalui Bloodstained: Ritual of the Night ia tampaknya berhasil menunjukan bahwa franchise terbarunya tersebut ternyata tak kalah menarik dengan Castlevania. Meskipun terlihat mirip, tetap ada banyak hal unik yang membuat Bloodstained: RotN punya daya tarik & identitasnya tersendiri.

Bagi kalian yang telah sempat membaca first impression dari kami, tentunya sudah mendapat gambaran tentang apa yang sebenarnya ditawarkan Artplay & Koji Igarashi melalui game racikannya tersebut. Dan sesuai janji kami sebelumnya, kini tiba bagi kami untuk memberikan pembahasan Bkoodstained: RotN melalui review kali ini.

Story

Pada tahun 1783, erupsi gunung Laki telah menutup daerah Eropa dengan kegelapan, dan dari situlah para iblis mulai berdatangan dan menyerang bagian Inggris. Untuk menghadapi masalah tersebut, para Alchemist mentransplantasikan manusia dengan kristal yang menggabungkan mereka dengan kekuatan iblis.

Masa-masa sulit dilalui dan telah memakan banyak korban tak bersalah, pada akhirnya, ancaman para iblis tersebut berhasil dipadamkan. Para Shardbiner yang tak dibutuhkan lagi, akhirnya dikorbankan dalam sebuah ritual