Linux Gaming – Berbicara soal gaming di PC, sejak era Windows dikenalkan, ia sudah menjadi primadona dan bahkan menggeser Apple sebagai platform yang dikenal dengan gaming di tahun 80-an. Dengan dukungan software yang paling luas dan API yang fantastis seperti DirectX, menjadikannya tidak tersentuh selama puluhan tahun.
Tapi, belakangan ini mulai muncul pemain baru yang berniat untuk menjadi saingan. Lebih tepatnya pemain lama yang sudah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang layak pakai, ngebut, ringan, dan semakin digemari berbagai kalangan. Platform tersebut adalah Linux.
Tapi jauh sebelum ia bisa hadir di berbagai handheld dan PC seperti sekarang, bermain game di Linux bukanlah sesuatu yang dianggap mungkin. Meski Linux adalah OS open source yang penuh dengan komunitas solid dan programer lihai, nyatanya mereka masih bergantung pada port game dari DirectX ke OpenGL.
Lantas mengapa Linux malah menjadi pilihan atau alternatif Windows gaming? Jawabannya sederhananya karena Valve dan SteamOS. Namun, mari kita kupas satu-persatu alasan secara spesifiknya di artikel kali ini brott.
Daftar isi
Apa yang Bikin Linux Gaming Semakin Populer?
![[Opini] Apa yang Jadikan Linux Gaming Menarik untuk Dicoba? 2 linux gaming](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/05/image-33-1024x613.avif)
Jasa Valve dalam menjadikan Linux sebagai gaming platform yang mumpuni tidak bisa dikatakan kecil. Sebelum adanya SteamOS, rasanya Windows masih menjadi pilihan satu-satunya untuk bermain game di PC.
Memang untuk bisa sekedar memainkan game, Linux sudah bisa dilakukan sebelum era Steam Deck. Tapi, platform tersebut masih sangat bergantung pada Wine, sebuah layer compatibility untuk memainkan game-game Windows di Linux.
Namun, pengalaman menggunakan Wine bisa dikatakan bak jalan terjal dan bolong-bolong di wilayah kabupaten. Gamer acap kali mendapati kondisi game yang tidak bisa berjalan dengan satu konfigurasi Wine saja. Suara game yang tidak eksis, crash secara acak, FPS tidak stabil, dan bahkan ada kemungkinan glitch grafik.
Tidak jarang gamer bahkan harus mencari config tersendiri untuk game tertentu sampai harus ngubek-ngubek forum atau Reddit. Melakukan troubleshooting setiap kali ingin memainkan game baru tentu bukan pengalaman yang menyenangkan.
Hadirnya Proton
![[Opini] Apa yang Jadikan Linux Gaming Menarik untuk Dicoba? 3 Image](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/05/image-34-1024x569.avif)
Steam akhirnya ingin menjawab tantangan ini dengan mengembangkan layer kompatibilitas mereka sendiri yaitu Proton. Secara teknis, Proton menggunakan DXVK untuk menerjemahkan game DirectX 9/10/11. Sedangkan untuk game DirectX 12 menggunakan VKD3D. Dengan begini, game DirectX bisa diterjemahkan menjadi Vulkan yang lebih terbuka dan ramah untuk GPU lawas.
Berbeda dengan era Wine yang mana seluruh game DirectX ditranslasi menjadi OpenGL yang jauh lebih rumit dan tidak stabil. Jadi, bisa dikatakan, hadirnya Proton menyelesaikan hampir seluruh masalah yang dihadapi gamer Linux.
Dukungan yang Lebih Spesifik
Berbeda dengan Wine yang lebih memprioritaskan dukungan untuk semua software, Proton sangat diperuntukkan untuk gaming saja. Sehingga berbagai fitur yang dibutuhkan gamer jadi mendapatkan perhatian khusus. Katakan saja dukungan optimalisasi layar penuh, dukungan controller, kompilasi shader, hingga codec media.
Spesialisasi ini membuatnya menjadi pilihan utama dan bahkan satu-satunya kalau mau bermain game di Linux. Bahkan beberapa distro selain SteamOS seperti Nobara dan Bazzite sudah mendukung Proton dari instalasinya.
Proton yang dirilis berbasis open-source ini juga membuat siapa pun bisa membantu menyempurnakan lapisan translasi tesebut. Sebut saja Proton GE yang mendukung fitur lebih baru buatan Thomas Vejrum, ia lebih populer digunakan karena mungkin bisa memperbaiki game yang tidak bisa launch, atau sering crash ketika dimainkan.
Valve Berinvestasi Pada Proton
![[Opini] Apa yang Jadikan Linux Gaming Menarik untuk Dicoba? 4 13716504621708774686gol1](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/05/13716504621708774686gol1-1024x631.avif)
Berbeda dengan dukungan gaming Linux yang dikerjakan selayaknya hobi, Valve punya tujuan yang lebih besar dari itu pada Proton. Pada akhirnya, mereka ingin menjual Steam Deck dan platform jual beli game mereka yakni Steam dan tidak mau bergantung sepenuhnya sama Windows.
Dukungan secara finansial oleh Valve berarti bug bisa ditemukan dan dibereskan lebih cepat. Tidak hanya itu, patch untuk game Triple A baru juga bisa lebih diprioritaskan. Ekosistemnya sudah dibangun oleh Valve dan dukungan tidak hanya bergantung pada relawan yang mengerjakan dikala senggang.
SteamOS Semakin Naik Daun
Tak dapat dipungkiri kalau semakin banyak yang merasakan kelelahan AI semenjak Microsoft mulai mengenalkan Copilot pada produk mereka. Gimik yang terlalu memaksakan ini membuat gamer mencari solusi alternatif untuk OS mesin gaming mereka.
Populernya handheld PC belakangan ini juga menjadi pendongkrak kepopuleran Linux. Pasalnya, Valve memberikan akses kepada para pengguna untuk bebas mengganti OS bawaan handheld PC tersebut dengan SteamOS, lengkap dengan dukungan dan tutorial resmi pula. Siapa yang tidak baper coba.
Kemudahan menggunakan Proton juga menjadi andil. Lapisan tersebut bisa dipasang dengan gampang hanya bermodalkan Steam. Untuk yang menggunakan launcher pihak ketiga atau game diluar Steam, tetap bisa memakai aplikasi Lutris.
Hal yang Masih Belum Bisa Diselesaikan
![[Opini] Apa yang Jadikan Linux Gaming Menarik untuk Dicoba? 5 Windows Linux](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/05/windows-linux-1024x498.avif)
Meski pun begitu, Linux gaming masih jauh dari kata sempurna. Kompabilitas untuk game memang sudah sangat jauh dari kata sedikit. Tetapi, ia juga masih perlu menambal beberapa kekurangan yang terjadi.
Proton mau bagaimanpun hanyalah alat translasi ke Vulkan, jadi ia tidak bisa menyelesaikan permasalahan game dengan kernel level anti-cheat yang agresif. Game dengan DRM atau game dengan launcher spesifik.
Jadi jangan kaget begitu mendengar kalau game seperti VALORANT, Destiny 2, dan berbagai judul e-sports lainnya tidak akan bisa dimainkan di Linux mau menggunakan Proton tipe apa pun.
Nah itulah sedikit penjelasan mengapa Linux semakin menjadi pilihan gamer belakangan ini. Apakah kamu sudah pernah mencicipi bermain game di Linux? Apa kesan pertama kamu?
Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.
![[Opini] Apa yang Jadikan Linux Gaming Menarik untuk Dicoba? 1 Linux Gaming](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/05/linux-gaming-750x375.avif)




![[Opini] Apa yang Jadikan Linux Gaming Menarik untuk Dicoba? 10 Linux Gaming](https://gamebrott.com/wp-content/uploads/2026/05/linux-gaming-120x86.avif)










